Kisah Sedih Wanita yang Matanya Ditembak Ayah Sendiri karena Jadi Polisi

Rahmi Anjani - wolipop Minggu, 15 Nov 2020 15:00 WIB
ilustrasi wanita berhijab Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion
Jakarta -

Seorang wanita mengungkap kisahnya sedihnya yang harus kehilangan penglihatan karena ayah sendiri. Wanita asal Afganistan tersebut mengaku ditembak dan ditikam di bagian mata hanya karena mendapat pekerjaan. Wanita yang diketahui bernama Khatera itu padahal baru saja diterima menjadi polisi yang dicita-citakannya sejak lama.

Khatera menceritakan bagaimana ia diserang oleh tiga orang pria setelah pulang dari kantor polisi tempatnya bekerja. Wanita 33 tahun itu mengaku melihat tiga orang pria bersepeda motor yang menembak dan menikam matanya dengan pisau. Awalnya ia dan polisi mengira hal tersebut adalah ulah militan Taliban. Tapi seorang pelaku mengaku jika ayah Khatera lah yang mendalanginya.

Hal tersebut dilakukan ayah Khatera hanya karena wanita malang itu bekerja di luar rumah. Kini tak hanya penglihatannya rusak, Khatera juga kehilangan impiannya untuk punya karier yang mandiri.

"Aku bertanya pada dokter-dokter, mengapa aku tidak bisa melihat apa-apa? Mereka berkata mataku masih diperban karena luka. Tapi saat itu, aku tahu mataku telah diambil," ungkapnya kepada Reuters.

Khatera baru bergabung sebagai polisi selama beberapa bulan. Karena itu, ia sangat sedih karena belum lama menjalani profesi yang menjadi impiannya itu.

"Aku berharap aku bekerja sebagai polisi paling tidak setahun. Jika ini terjadi padaku setelah itu, ini akan jadi lebih tidak menyakitkan. Ini terjadi terlalu cepat. Aku hanya bisa bekerja dan menjalani mimpiku selama tiga bulan," ujara Khatera.

Di Afganistan, wanita bekerja memang mendapat banyak tentangan. Khatera pun bukan satu-satunya wanita yang diserang hanya karena punya karier.

Khatera sendiri sudah sejak sudah mengimpikan untuk bekerja di luar rumah dan bertahun-tahun meminta dukungan dari ayahnya. Sedangkan suami Khatera sendiri mendukung istrinya menjadi polisi. Namun sayang ayahnya masih tidak menyetujui bahkan nekat melakukan penyerangan.

"Sering kali saat aku bertugas, aku melihat ayahku mengikutiku. Dia mulai menghubungi Taliban terdekat dan meminta mereka untuk mencegahku pergi bekerja," ungkapnya.

Kini Khatera dan keluarga sedang bersembunyi di daerah Kabul. Ia masih dalam masa penyembuhan dan meratapi kehilangannya. Khatera mengaku belakangan sulit tidur dan trauma mendengar suara motor. Ibu lima anak itu pun berharap jika dokter bisa mengembalikan paling tidak setengah penglihatannya.

"Jika memungkinkan, aku ingin penglihatanku kembali, aku akan melanjutkan pekerjaanku dan menjadi polisi lagi. Tapi alasan utamanya adalah keinginanku untuk melakukan pekerjaan di luar rumah," tutur Khatera.

(ami/ami)