Dosen di AS Di-bully Mahasiswa Kedokteran karena Pakai Kata Pria dan Wanita

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 04 Agu 2021 08:39 WIB
Divers group of high school of college graduates smiling during the graduation ceremony. They are standing in a row. Ilustrasi guru mengajar. Foto: iStock
Jakarta -

Kini gender tak hanya sebatas pria atau wanita. Sebagian orang yang merasa mereka bukan keduanya pun menolak untuk memilih salah satu dan mengidentifikasi diri mereka sebagai non biner. Hal ini ternyata bisa menjadi masalah dalam pelajaran biologi. Dilaporkan jika dosen-dosen di Amerika bahkan di-bully oleh para mahasiswa kedokteran karena menggunakan kata-kata 'pria' dan 'wanita' yang dinilai kurang tepat dan ketinggalan zaman.

Beberapa waktu lalu reporter Katie Herzog melaporkan sebuah fenomena di lingkungan perkuliahan kedokteran kampus top di AS. Dikatakan jika sejumlah dosen dikritik karena menggunakan istilah-istilah 'lama' bahkan diminta untuk meminta maaf. Para pengajar pun merasa takut untuk membedakan pria dan wanita dengan jelas karena khawatir disebut 'transfobia'.

"Aku pikir ada sebagian kecil pengajar yang benar-benar meyakini tapi kebanyakan dari mereka hanya takut dengan para mahasiswa," kata mahasiswi bernama Lauren.

Lauren mengatakan jika beberapa bulan belakangan cukup banyak petisi yang ditujukan untuk mengkritik pengajar karena kesalahan sebut istilah. Salah satu contohnya adalah ketika dosen di kelas menggunakan kata 'wanita hamil' yang direkam dan disebarkan. Dosen itu kemudian meminta maaf.

"Aku bilang 'ketika seorang wanita sedang hamil' yang menandakan hanya wanita yang bisa hamil dan aku dengan tulus meminta maaf kepada kalian semua. Aku tidak ingin kalian berpikir aku mengisyaratkan sesuatu dan jika kalian bisa memaafkanku, aku sangat mengapresiasi. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun," kata dosen menurut Lauren.

Sejak petisi mulai sering dibuat, para pengajar mengaku jadi lebih sering mengoreksi bahan ajaran mereka. Para dosen dan mahasiswa pun punya sebuah forum online untuk mendiskusikan penggunaan kata terkait gender. Selain menghindari 'pria' dan 'wanita', dosen-dosen diingatkan untuk memakai istilah 'chestfeeding' daripada 'breastfeeding' agar tidak menyinggung pria transgender yang melahirkan.

Tampaknya menggunakan istilah gender yang tepat kini telah menjadi sesuatu yang penting dalam dunia kedokteran di AS. Seseorang yang baru lulus kuliah mengatakan teman-temannya sering menjelaskan 'pronoun' mereka terlebih dahulu kepada pasien dengan harapan mereka akan mengatakannya balik.

Dalam bahasa Inggris, kata ganti pria disebut 'he/him' sedangkan wanita 'she/her'. Sedangkan untuk non biner mereka memilih dipanggil 'they'them' dan tidak bisa disebut wanita atau pria. Belakangan semakin banyak orang juga mencantumkan panggilan tersebut di media sosial untuk mengenalkan identitas diri.

(ami/ami)