BNI Ingin Sulap Pedagang Sayur hingga Warung Jadi Agen46 BNI

Yudistira Imandiar - wolipop Senin, 05 Jul 2021 12:03 WIB
agen46 BNI Foto: BNI
Jakarta -

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) akan melatih BNI Agen46 menjadi ujung tombak penyedia layanan BNI sesuai karakter kebutuhan dominan di setiap daerah seperti pasar, perkebunan, dan lain-lain. Keberadaan BNI Agen46 sebagai mitra BNI di berbagai daerah akan dioptimalkan perannya untuk melayani masyarakat layaknya kantor cabang.

"Kami akan mendidik mereka tidak sekadar menjadi pedagang, namun menjadi kepanjangan tangan BNI. Setiap BNI Agen46 harus bisa mengerti seluruh transaksi perbankan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Kami berharap BNI Agen46 ke depan lebih powerfull dibandingkan sekarang," kata Direktur Layanan dan Jaringan Ronny Venir dalam keterangan tertulis, Kamis (5/7/2021).

Ronny menambahkan BNI Agen46 menjadi fokus BNI untuk memperluas layanan ke depan. Menurutnya strategi pengembangan jaringan tidak lagi dengan menambah kantor cabang baru, namun dengan mengoptimalkan BNI Agen46.


Program di setiap daerah juga akan fokus sesuai subkultur masyarakat sehingga segala aktivitas dan layanan benar-benar sesuai kebutuhan lokal. Ia mencontohkan bahwa layanan yang banyak diakses dan dibutuhkan masyarakat di wilayah perkebunan, pasar, kantong TKI di luar negeri, atau kawasan perkotaan tentu berbeda-beda

"BNI Agen46 juga dikembangkan dengan pola community based menyasar kelompok seperti karang taruna, pengajian, atau kelompok olahraga di kampung. Masyarakat akan lebih percaya dan nyaman bertransaksi dengan orang yang dikenal," jelas Ronny.

BNI juga akan menjalankan program penghargaan kepada agen terbaik sehingga dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat masing-masing lebih kompetitif. Fitur layanan yang dapat diakses masyarakat melalui BNI Agen46 juga terus ditambah termasuk implementasi pembayaran melalui QRIS.


"Awalnya BNI Agen46 dirancang untuk memberikan akses kepada kelompok masyarakat unbankable dan daerah yang belum terjangkau. Namun, dalam perkembangannya BNI Agen46 saat ini juga berkembang baik di desa maupun di kota karena ternyata kebiasaan masyarakat kita yang lebih suka mengakses layanan yang lebih mudah, lebih cepat, dan lebih dekat," kata Ronny.

Diungkapkannya, BNI telah berhasil mewujudkan layanan perbankan tanpa kantor (branchless banking). Terbukti dengan berkembangnya transaksi digital baik melalui layanan mobile banking maupun melalui BNI Agen46 di masyarakat.

"Transaksi digital kita melalui mobile banking dalam setahun terakhir meningkat hingga 58%. Transaksi melalui BNI Agen46 juga mengalami kenaikan. Saya yakin, dengan semakin banyak fitur baru yang mengakomodasi masyarakat sesuai kebutuhan setempat, akan memperbesar transaksi secara digital ke depan," kata Ronny.


Menurut Ronny, keberadaan BNI Agen46 saat ini menjadi penggerak ekonomi di berbagai daerah dan menciptakan lapangan kerja baru. Kerja sama kemitraan antara BNI dan BNI Agen46, lanjut Ronny, dilakukan sejak 2016 dan saat ini telah menjangkau 17 wilayah dari Sabang sampai Merauke. Secara keseluruhan terdapat 2.021 outlet dan 156.000 BNI Agen46 yang membantu BNI melayani masyarakat.

"Dari pengalaman selama ini, seorang BNI Agen46 bahkan ada yang bisa mendapatkan pendapatan tambahan hingga dua digit dari bagi hasil fee transaksi saja. Tentu saja nilainya tidak tetap karena tergantung volume transaksi yang dilakukan. Tapi kita akan terus menambah fitur-fitur transaksi melalui BNI Agen46," ujar Ronny.

Pola kemitraan BNI Agen46 pun menciptakan kreativitas baru. Ronny mencontohkan salah satu BNI Agen46 di Padang, Sumatera Barat yang datang dari kalangan milenial. Untuk menarik perhatian masyarakat, ia menyewa ruko dan menata penampilannya seolah menjadi kantor cabang BNI. Ada juga yang menyulap mobilnya agar masyarakat tahu ia dapat melayani transaksi BNI.

Untuk pengembangan ke depan, Ronny menjelaskan BNI akan terus menambah jumlah BNI Agen46 dan meningkatkan keaktifan setiap agen. Tidak hanya bekerja sama dengan BNI Agen46 yang menetap seperti warung kelontong, namun juga tengah menyiapkan BNI Agen46 yang mobile atau bergerak seperti pedagang sayur sehingga layanan perbankan semakin inklusif.

"Jadi nantinya, warung seolah-olah menjadi cabang BNI. Pedagang sayur keliling juga menyediakan layanan BNI. Kita memberdayakan masyarakat tidak hanya menambah pemasukan bagi BNI, tetapi bagi para pelaku UMKM tadi karena mereka mendapat fee setiap transaksi. Buka rekening dapat fee, bayar pulsa dapat fee, semua transaksi mendapat fee," jelas Ronny.


Melalui BNI Agen46, masyarakat dapat dengan mudah membuka tabungan BNI Pandai yang merupakan bagian dari program Laku Pandai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tidak ada potongan bulanan dalam BNI Pandai dan masyarakat tetap mendapatkan buku tabungan serta kartu ATM.

Selain tabungan, melalui BNI Agen 46 masyarakat dapat melakukan pembayaran token listrik, BPJS, membeli pulsa, atau pembayaran multifinance serta pembayaran e-Commerce. Saat ini, BNI Agen46 tidak hanya memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses layanan perbankan seperti Laku Pandai, Layanan Keuangan Digital (LKD), dan e-payment.

Saat ini, BNI Agen46 juga telah menjadi ujung tombak penyaluran berbagai macam bantuan dari pemerintah seperti Bantuan Sosial (Bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), dan Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM).

Langkah BNI untuk melakukan transformasi digital mengalami percepatan di saat pandemi COVID-19. Hal ini didukung tren digitalisasi di masyarakat karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Seperti diketahui, sejak bisnis dan UMKM dituntut untuk go digital, ekonomi digital Indonesia mengalami kenaikan. Data Bank Indonesia mencatat ekonomi digital dalam satu tahun terakhir meningkat sebesar 11 persen, dari US$ 40 miliar di 2019 naik menjadi US$ 44 miliar di 2020.

Data Statista dalam laporan Digital Market Outlook, juga menyebutkan bahwa pengguna e-commerce di Indonesia tahun ini diprediksi tumbuh 15% dari total 138 juta pengguna pada tahun 2020, atau mencapai 159 juta pengguna di tahun 2021. Sementara pendapatan industri ini diprediksi meningkat sebanyak 26% mencapai US$ 38 juta, dari US$ 30 juta pada tahun 2020 lalu.

(mul/eny)