Liputan Khusus Pejuang SBMPTN

Juara Olimpiade Tak Lolos SMPTN dan SBMPTN, Endingnya Manis Diterima di UI

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 20 Jun 2021 15:00 WIB
rayhan Kisah pejuang SBMPTN. Foto: Dok. pribadi Rayhan Danendra Wiracalosa.
Jakarta -

Kisah pejuang SBMPTN kali ini berasal dari seorang juara olimpiade bernama Rayhan Danendra Wiracalosa. Walaupun menyandang gelar juara olimpiade, ia tak lolos ketika mengikuti tes SNMPTN dan SBMPTN. Ia pun memberbagikan kisah inspiratifnya melalui akun Twitter @wiracalosa.

Dalam anggapan banyak orang, juara Olimpiade pasti bisa dengan mudahnya lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Apalagi jika pelajar tersebut pernah menjadi juara Olimpiade tingkat dunia, seperti Rayhan.

"Nama gue Rayhan Danendra Wiracalosa. Biasa dipanggil ocha. Memegang predikat sebagai "Anak Olimpiade" menjadi beban tersendiri untuk mengejar PTN. Apalagi ketika gue gagal dapet Undangan (SNMPTN). Dan ini kisah perjalanan gue," tulis Rayhan di akun Twitter @wiracalosa.

Rayhan meceritakan bahwa dirinya merupakan peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) pada 2019. Dia berhasil meraih medali perak OSN fisika. Dia juga mendapatkan kesempatan mengikuti olimpiade internasional di Rusia dan sukses mendapatkan medali perunggu.

Wolipop sudah mewawancarai Rayhan yang sejak SD memang ingin menjadi pemenang di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Singkat cerita, ia akhirnya bisa menjadi peraih medali perak di OSN 2019, Manado. Sekaligus terpilih untuk mewakili DKI Jakarta di ajang International Olympiade of Metropolises 2019, di Moscow.

"Saya juga meraih medali perunggu di bidang fisika di ajang tersebut. Setelah semua prestasi yang saya raih, ditambah juga saya bisa menjaga nilai sekolah saya, saya awalnya optimis untuk diterima di jalur SNMPTN (Undangan). Karena semua guru pun berkata demikian kepada saya. Tapi ternyata, saya gagal diterima melalui jalur SNMPTN," ungkap pria yang akrab disapa Ocha itu.

Bukan hanya tak bisa masuk PTN melalui jalur undangan, Rayhan juga merasakan pedihnya ketika dia ternyata tidak lolos ujian SNMPTN. "Prestasi-prestasi yang sudah dicapai selama 3 tahun pada saat SMA menjadi sia-sia (Walau pun saya yakin tidak ada yang sia sia). Butuh 3-4 hari untuk saya menenangkan diri dan mencoba move on. Lagi pula hasil juga sudah mutlak kan?" katanya.

Tak mau larut dalam kesedihan, Rayhan memilih fokus belajar untuk mencoba jalur lainnya masuk PTN. Dia belajar untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Intensitas belajarnya pun semakin ditingkatkan untuk mengikuti UTBK dan SBMPTN.

"Belajar sampai 12 jam saya lakuin dengan waktu tidur hanya 4-5 jam. Saya benar-benar tidak mau ditolak di SBMPTN. Tapi ternyata, satu bulan kemudian, papa saya meninggal akibat serangan stroke yang dideritanya. Papa bukanlah seorang ayah buat saya, tapi beliau seorang teman. Setiap kali saya down dulu karena kadang saya capek belajar OSN, papa lah orang yang selalu mendukung dan memotivasi. Meskipun background papa bukanlah seorang fisikawan," kenangnya.

Kegagalan Kedua, Rayhan Tak Lolos SBMPTN

Sangat kehilangan sosok ayahnya dan merasa tertekan, Rayhan jadi tidak terlalu fokus belajar. Apalagi dia juga harus mengurus berbagai hal setelah ayahnya meninggal.

"Mungkin kehilangan PTN tidak jadi masalah, karena PTN bisa dicari dengan banyak jalur. Tapi kehilangan Papa? Apakah bisa diganti? Nggak. Papa meninggal tepat satu bulan sebelum saya ujian UTBK," ucap Rayhan.

Di saat ia harus mengurusi dokumen-dokumen kematian, menelusuri hutang-hutangnya, dan lainnya, Rayhan menconba tetap fokus untuk belajar. "Saya masih harus tetap belajar di bawah tekanan mental. Seakan-akan, ini hanyalah mimpi bagi saya. But life must go on. Waktu tidur akhirnya saya kurangi menjadi 2-3 jam per hari," ucapnya.

Rayhan harus menelan pil pahit segala upayanya belajar kembali menghasilkan kegagalan. Pengumuman SBMPTN menyatakan dia tidak lolos masuk PTN.

"Setelah Papa meninggal, saya punya mimpi untuk menjadi dokter. Tapi ternyata, saya gagal SBMPTN. Three times strikes out. 1. Gagal SNMPTN. 2. Papa meninggal. 3. Gagal SBMPTN. Seolah olah, kebahagiaan yang saya peroleh pada tahun 2019 digantikan menjadi sebuah ujian di tahun 2020," ujarnya.

RayhanFoto Rayhan saat meraih juara Olimpiade Sains Nasional 2019. Foto: Instagram @rayhan_ocha.

Kegagalan yang Berbuah Manis

Pada saat terpuruk karena terus mendapat cobaan hidup itu, Rayhan tak mau menyalahkan Allah SWT. Dia malah beranggapan Yang Maha Kuasa bisa dengan sangat mudahnya membalikkan keadaan manusia, dari titik tertinggi (kebahagiaan) menjadi titik terendah (ujian dari Allah SWT).

"Saya juga berpikir, 'Berarti Allah SWT, akan mudah membalikkan kondisi seseorang dari titik terendah, menjadi titik tertinggi. Setelah semua ujian yang saya alami, saya hanya berpikir 'Alhamdulillah, saya diberi ujian. Berarti Allah masih memperhatikan saya. Saya percaya pasti akan ada kebahagiaan yang datang ke saya," ucapnya.

Benar saja pada 18 Agustus 2020, Rayhan mendapat kabar bahwa dia diterima masuk jurusan Teknik Mesin di Universitas Indonesia lewat Jalur Seleksi Masuk (Simak) dan Teknik Mesin Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo memalui jalur prestasi. Dan pada 23 Agustus 2020, ia juga berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung melalui jalur prestasi.

Dan ditambah lagi, Rayhan diterima di Universitas Bina Nusantara (BINUS) dengan beasiswa full. Dia juga diterima melalui jalur prestasi untuk kuliah di Ilmu Biomedis Universitas Andalas, Padang.

Pada akhirnya dari semua universitas yang menerimanya sebagai mahasiswa itu, Rayhan memilih kuliah di jurusan Teknik Mesin, Universitas Indonesia. Ia pun menyebutkan alasan memilih jurusan dan kampus tersebut.

"FYI, Papa sama Aku mengidolakan Alm. B.J. Habibie. Papa juga dari dulu kepenginnya saya di Teknik Mesin. Karena Papa pengin banget saya sekolah di Jerman. Jadi Papa pengin banget, saya kayak beliau. Dan karena saya laki-laki, artinya saya sekarang harus mulai menjadi kepala keluarga, menggantikan Papa. Walaupun saya anak bungsu, saya merasa bersalah kalau saya harus ninggalin keluarga saya."

"Apalagi papa baru meninggal tiga bulan yang lalu. Nah, itu juga karena saya selama ini berkecimpung di dunia Fisika. Jadi, saya juga merasa teknik mesin bisa jadi passion saya. Bisa dibilang, saya memilih teknik mesin karena memang itu passion saya," tuturnya panjang lebar.

Melalui kisah yang sudah dibagikannya ke Twitter dan menjadi viral ini, Rayhan berharap bisa menginspirasi para pejuang PTN. "Tweet ini supaya orang orang yang lain bisa termotivasi dan tidak merasakan hal yang sama dengan nasib saya. Karena berjuang di saat kondisi berduka itu benar-benar berat banget," katanya.

"Saya ingin menyampaikan quotes yang saya cantumkan di Twitter saya. Seberat apapun ujian kalian dan seberat apapun rintangan kalian, itu hanyalah seperintilan kecil dari kisah kehidupan kalian. Mimpi kalian harus terap dikejar. Whatever it takes. Totalitas, kerja keras, dan jangan manja. Jangan pernah sedetik pun kalian berhenti belajar. Karena hidup tidak akan pernah berhenti mengajar," tutupnya.

rayhanrayhan Foto: Dok. pribadi Rayhan Danendra Wiracalosa.
(gaf/eny)