Liputan Khusus Pejuang SMBPTN

Viral Kisah Pejuang SMBPTN, 2 Tahun Gagal Tembus PTN Akhirnya Masuk ITB

Gresnia Arela Febriani - wolipop Sabtu, 19 Jun 2021 18:00 WIB
Kisah perjuangan Fariq Fauzi. Kisah pejuang SMBPTN. Foto: Dok. Twitter @fariqfauzi_.
Bandung -

Kamu ingin kuliah di universitas negeri idaman? Tentunya bukan hal yang mudah. Butuh perjuangan, tekad dan kesabaran yang tinggi untuk mencapainya.

Seperti yang dijalani oleh pemuda bernama Fariq Fauzi ini. Lewat akun Twitternya @fariqfauzi_, ia membagikan kisahnya yang berjuang setelah tiga tahun mengikuti jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

"Peluang saya memang kecil, tapi tak pernah nol," begitu cuitannya di Twitter yang viral.

Dari unggahannya itu terlihat baru di tahun ketiga, Fariq Fauzi berhasil diterima melalui jalur SBMPTN LTMPT 2021 di Institut Tekologi Bandung, Fakultas Teknik Mesin & Dirgantara (FTMD).

Cuitan Fariz yang memperlihatkan foto dirinya diterima di ITB itu juga memperlihatkan momen-momen kegagalannya. Cuitannya itu pun membuat banyak pengguna Twitter terinspirasi. Tweet Fariz mendapatkan 64 ribu likes dan lebih dari 5.000 retweets.

Konfirmasi Wolipop

Ketika diwawancara oleh Wolipop, pemuda berusia 20 tahun itu mengaku masuk ITB sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Namun saat lulus SMA, saat mencoba daftar melalui UTBK, nilainya terlalu kecil untuk bisa tembus ITB.

"Jadi sebenarnya dari SD sudah ada cita-cita buat masuk ITB. Waktu lulus SMA aku coba daftar UTBK tapi hasil nilainya kecil. Mau daftar di ITB nggak bakal bisa akhirnya didaftarin ke UNPAD. Waktu itu tapi tetap ditolak," ungkap Fariq, Kamis (17/6/2021).

Lulus SMA pada 2019, Fariq mengaku tak mempersiapkan apapun karena dulu ia orang yang pemalas dan sering tertidur saat jam pelajaran sekolah. Pastinya dia tak termasuk siswa yang mendapatkan kuota untuk masuk ITB melalui jalur SNMPTN.

"Alhasil aku nggak masuk kuota buat daftar SNMPTN waktu itu, daftar UTBK juga masih belum sadar. Kalau gitu terus mana mungkin masuk ITB," kenangnya yang saat itu kemudian memilih kuliah di kampus swasta.

Baru berjalan satu semester kuliah di kampus swasta, keluarganya mengalami masalah keuangan. Saat itu Fariq memutuskan untuk tidak kuliah dan bekerja menjaga sebuah toko. Namun keinginan Fariq untuk kuliah di PTN belum padam. Ia pun belajar sembari menjaga toko.

"Akhirnya resign dari kerjaan pada Mei 2020 karena pandemi sekaligus ingin fokus belajar UTBK. Tapi hasilnya gagal lagi padahal sudah lumayan ada effort," kenangnya.

Kisah perjuangan Fariq Fauzi.Kisah perjuangan Fariq Fauzi. Foto: Dok. Twitter @fariqfauzi_.

Tak ingin gagal lagi, Fariq kemudian mengganti strategi dan belajar ulang materi SMA dari awal. Materi SMA yang harusnya dipelajari selama tiga tahun ia tamatkan dalam waktu lima bulan.

"Tryout aku lakukan seminggu sekali saja, setelah dapat nilai aku analisis pengerjaan satu per satu soal tersebut. Selain itu, aku juga kadang membantu menjawab pertanyaan yang ada di @sbmptnfess sekalian latihan untuk diri sendiri," lanjut Fariq.

Hingga pada 2021 ini Fariq sedikit mengambil risiko saat mendaftar SMBPTN. Risiko itu adalah dengan mengambil pilihan pertama kuliah di Institut Tekologi Bandung, Fakultas Teknik Mesin & Dirgantara (FTMD) dan pilihan kedua Teknik Mesin, Institut Teknologi Surabaya. Pilihan tersebut dibuatnya sudah sesuai strategi dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya.

"Pada saat hari H ujian aku merasa mudah mengerjakan Tes Potensi Skolastik (TPS), karena memang lebih mudah dari TPS tahun 2019 dan 2020. Untuk Tes Kompetensi Akademik (TKA) memang banyak yang sulit karena banyak materi TKA saintek yang di luar materi SMA (materi kuliah)," tambahnya.

Kisah perjuangan Fariq Fauzi.Kisah perjuangan Fariq Fauzi. Foto: Dok. Twitter @fariqfauzi_.

Fariq yang sebelum mengikuti SMBPTN ketigakalinya gencar latihan soal minimal 40 soal per hari, akhirnya lulus dan diterima di jurusan idamannya. Ia pun menyebutkan alasan mengapa tertarik memilih fakultas teknik mesin, padahal sebelumnya tertarik dengan fakultas teknik pertambangan dan perminyakan (FTTM) dan fakultas ilmu teknologi kebumian (FITB).

"Karena waktu SD terinspirasi sama orangtua temen waktu SD yang lulusan ITB juga dan kerja di bidang migas. Tapi tahun ini kenapa milih fakultas teknik mesin dan dirgantara (FTMD) karena mulai suka dengan dunia otomotif dan kedirgantaraan sekaligus bisa belajar di bidang konversi energi," tuturnya panjang lebar.

Pada akhir wawancara Fariq mengungkapkan reaksi kedua orangtuanya saat mengetahui dirinya diterima di ITB. Pastinya orangtuanya bangga dan selalu mendukung langkahnya.

"Reaksi kedua orang tua tentunya bahagia dan mendukung karena memang mereka membebaskanku dalam memilih pilihan hidup," pungkasnya dengan ramah.

(gaf/eny)