Cerita Pengusaha Wanita Bawa Tren Sepatu Manik ke Indonesia

Jihaan Khoirunnisaa - wolipop Jumat, 18 Jun 2021 14:41 WIB
Shopee Foto: Shopee
Jakarta -

Belakangan, embellished shoes atau sepatu yang dibubuhi aksesori seperti manik-manik tengah menjadi tren. Sepatu ini diburu para wanita karena desainnya yang cantik sehingga membuat penampilan terlihat makin stand out.

Namun siapa sangka 6 tahun yang lalu masyarakat indonesia bahkan belum mengenal item fesyen yang satu ini, meski sudah booming di berbagai negara di dunia. Co-Founder dan Creative Director PVRA, Kara Nugroho menjadi salah satu pelopor yang membawa tren sandal dan sepatu manik masuk ke pasar lokal.

Dalam webinar ShopeePay Talk: Dari Tren Jadi Bisnis Kompeten, Kara membagikan cerita awal mula dia bersama rekannya memperkenalkan sepatu manik melalui brand PVRA dengan menggandeng pengrajin lokal. Kara mengatakan ide bisnis ini muncul karena kesukaannya terhadap fesyen, terutama sepatu sejak berkuliah di Australia.

"Kebetulan saya ketemu partner ketika kuliah di Australia. Kita di sana kerja part time sambil kuliah. Saya di toko sepatu, partner saya di toko jewelry Menurut saya untuk memulai bisnis penting banget untuk yang kita jalani memang benar-benar sesuatu yang kita passionate about. Yaudah gabungin aja sepatu yang ada jewelry-nya," katanya, Jumat (18/6/2021).

Meski inspirasi bisnisnya datang dari tren yang sedang berjalan di luar negeri, Kara menyebut produk sandal dan sepatu manik perlu diadaptasi dengan sentuhan lokal. Dengan alasan tersebut, dia memutuskan untuk merilis produk berupa sandal.

"Tentunya tren yang kita lihat di luar, kita adaptasi dengan lokal. Kita lihat market yang ada di Indonesia itu kayak apa, orang-orang di Indonesia itu nyari sepatu yang kayak apa. Jadi 6 tahun yang lalu, kita pure mulai dengan sandal. Karena sandal adalah jenis sepatu paling aman untuk diperkenalkan ke perempuan di Indonesia. Sandal orang itu udah familiar," jelasnya.

Meski telah melakukan riset pasar dan bolak-balik uji coba sampel, Kara mengaku sempat takut dan deg-degan sebelum merilis produk pertamanya ke pasar. Sebab dia menilai proses untuk mengembangkan produk sepatu dengan manik-manik cukup sulit.

"Kita tau mungkin ada alasan kenapa tren ini belum masuk ke Indonesia. Pertama, buatnya itu susah sekali karena jewelry dibuat pakai tangan. Belum lagi jewelry yang biasanya dipakai di badan, harus dipakai di sepatu. Jadi risk nya besar. Sepatu kan nabrak kanan, nabrak kiri. Takutnya copot. Jadi perawatannya pun jauh lebih susah. Tapi akhirnya memberanikan diri untuk mencoba," katanya.

Namun, ternyata usahanya mendapat respons positif dari masyarakat. Produk sandal PVRA ludes lebih cepat dari target awal, yakni 72 pasang sepatu dalam waktu kurang dari 3 bulan. 6 tahun berlalu, dia mengatakan kini PVRA telah mengeluarkan beragam produk seperti heels dan flat shoes, agar tren sepatu manik tidak hilang. Di samping itu, Kara menyebut, PVRA juga merambah jenis produk lainnya, seperti aksesori wanita untuk semakin memperluas jangkauan pasarnya demi bisa bertahan di masa pandemi COVID-19.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan sejumlah hal yang harus diperhatikan pelaku usaha agar bisnis bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan. Menurutnya, produk bisnis harus tetap relevan dengan tren yang sedang berjalan. Namun, ada baiknya jika tren tersebut diolah sedemikian rupa agar tetap menonjolkan ciri khas brand. Serta membuka diri terhadap masukan baik dari internal tim maupun konsumen.

"Tentunya kita harus punya benang merah dari brand supaya ciri khas tidak hilang. Dan yang paling mendorong saya berinovasi sebenarnya mendengarkan pendapat orang lain. Jadi terbuka. Kita punya tim, kita bisa diskusi bareng. Selain itu yang penting adalah customer, mendengarkan mereka. Nanti kita tuang menjadi sebuah produk. Ide kita dicampur ide dari orang yang memakainya sehari-hari," tandasnya.

Di samping produk, lanjut Kara, strategi penjualan juga perlu diperhatikan. Apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini, pelaku usaha harus bisa memanfaatkan platform digital yang ada untuk berjualan. Termasuk terkait cara pembayaran.

"Kita ingin kasih experience belanja yang paling nyaman buat customer. Misalnya tadinya udah gampang pakai pembayaran digital, mereka minta yang lain, ShopeePay, ya kita join ShopeePay," tuturnya.

"Karena orang punya cara bayar digital yang disuka itu yang mana. Benar-benar yang penting experience user harus flawless, banyak pilihan, banyak opsi. Effortless banget, tinggal pencet-pencet, barang dikirim," lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay, Eka Nilam Dari. Eka menyebut dengan semakin bertambahnya pemain baru di dunia bisnis yang mengadopsi ide yang sama, sebuah brand harus memiliki strategi dan road map yang jelas. Supaya produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan pembeda dari produk serupa lainnya.

"Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pemain baru yang bermunculan dan mengadopsi ide yang sama. Sehingga dibutuhkan strategi yang berbeda bagi sebuah brand untuk bisa bertahan dan unggul di persaingan pasar," tandasnya.

"Tak hanya soal produk, untuk mempertahankan eksistensi, dan mengubah tren jadi bisnis yang berkelanjutan brand harus terus berinovasi dan menciptakan road map yang jelas agar bisa memberikan nilai tambah," pungkasnya.

Eka berharap, ShopeePay melalui ShopeePay Talk kali ini dapat memberikan inspirasi bagi pejuang bisnis untuk terus berkarya dan semakin bertumbuh, meski di tengah situasi pandemi.



Simak Video "China Fashion Week Digelar saat Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)