Cara Memulai Bisnis Dropship untuk Anak Muda di Masa Pandemi

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 21 Okt 2020 18:04 WIB
Businesswoman using Tablet Foto: Getty Images/iStockphoto/RomoloTavani
Jakarta -

Banyak yang kehilangan pekerjaan selama pandemi. Tapi masa-masa sulit ini juga memaksa jiwa kewirausahaan orang-orang untuk mencari ide baru menghasilkan uang. Kamu yang ingin memulai usaha mungkin bingung karena belum punya pengalaman atau minim modal. Tapi tentu hal tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang. Christina Lie selaku founder dari situs distributor 101red pun memberikan tipsnya.

Sebelum membangun situs distributor 101red untuk reseller sistem dropship, Christina telah mencoba berbagai macam jenis usaha. Ia pernah berbisnis online shop hingga bermain trading. Berdasarkan pengalamannya, Christina ingin membantu sesama untuk memulai bisnis. Untuk anak muda yang mungkin belum punya banyak modal, ia menyarankan untuk berjualan dengan sistem dropship.

Dropship adalah model bisnis di mana seseorang menjual barang yang diambil atau dibuat oleh pihak lain. Dikatakan jika peluang usaha sistem ini sedang diminati belakangan karena minim modal dan risiko. Menurut Christina, cara ini juga bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk mempelajari seni berbisnis online.

"Bisnis dropship lagi high demand karena modal dan risikonya untuk usaha online minim. Karena itu, kita bisa belajar apa yang lebih laku jadi ketika ingin nyetok sudah tahu apa yang lebih laris dan ketika mau bikin produk sendiri juga sudah tahu seperti apa yang harus dibuat dan bisa tahu perlu bikin berapa banyak," ungkapnya.

Salah satu jenis produk yang direkomendasikannya adalah kecantikan. Menurut Christina, tren produk beauty cenderung selalu naik meski selama pandemi penjualan makeup mengalami sedikit penurunan 10%. Namun untuk skincare justru terjadi peningkatan sejak awal social distancing diberlakukan.

Tips memulai bisnis lain yang dipesankan Christina adalah untuk memperbanyak channel distribusi. Disarankan untuk memasukan produk ke marketplace dan memanfaatkan media sosial untuk memasarkannya. "Maksimalkan penggunaan hashtag dan manfaatkan ojek online untuk delivery, intinya perbanyak toko agar mudah ditemukan,"

Tak lagi berjualan barang, Christina juga memberikan ide agar anak-anak muda memulai bisnis agensi content creator atau media sosial. "Belakangan banyak bisnis offline yang terjun ke online. Biasanya mereka yang berusia 40 tahunan ke atas nggak mengerti main media sosial untuk jualan. Entah untuk foto, testimoni video, iklan,"

Ia juga mengingatkan pentingnya riset daripada mengandalkan asumsi ketika memulai berbisnis. "Dan jangan terlalu banyak berasumsi kalau ini akan sepi atau tidak laku. Lebih sering lihat riset (misal melalui google trend) jadi bicara data,"

(ami/ami)