Tidak Kerjakan PR karena Sakit, Remaja Ini Dihukum Hingga Meninggal

Vina Oktiani - wolipop Kamis, 10 Sep 2020 12:15 WIB
happy asian elementary school student studying in classroom looking at camera smiling, Ilustrasi Mengerjakan PR / Foto: iStock
Jakarta -

Hukuman adalah hal yang biasanya diberikan jika seseorang berbuat salah atau melanggar aturan. Namun terkadang hukuman yang diberikan bisa menjadi tidak sepadan dengan kesalahan yang dilakukan, bahkan sampai menyebabkan kematian. Seperti hukuman yang diterima oleh remaja laki-laki asal Thailand yang satu ini.

Seperti dikutip dari The Nation Thailand, remaja laki-laki yang masih berusia 13 tahun ini terpaksa harus kehilangan nyawanya setelah mendapatkan hukuman di sekolah karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Gurunya tersebut memberikan hukuman berupa 100 kali lompat jongkok.

Seorang paman dari remaja bernasib malang itu mengatakan bahwa keponakannya diminta untuk melakukan lompat jogkok sebanyak 100 kali pada tanggal 3 September karena tidak dapat menyerahkan pekerjaan rumahnya. Sang paman yang bernama Pramot Eiamsuksai menjelaskan melalui akun Facebook miliknya bahwa keponakannya itu tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumahnya karena sakit.

Pada Senin, 31 Agustus, remaja laki-laki itu mulai merasa tidak enak badan dan jatuh sakit, sehingga pada hari Rabu remaja tersebut lalu dibawa ke rumah sakit. Lalu pada hari Kamis, sehari pergi ke rumah sakit, remaja yang tidak disebutkan namanya itu kembali masuk sekolah.

Namun sayang, walaupun sang guru mengetahui bahwa muridnya tersebut tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah karena sakit, dirinya tetap bersikeras untuk menghukum muridnya itu. Akibatnya, keesokan harinya remaja laki-laki itupun kembali jatuh sakit.

Setelah merasa sakit dan beristirahat, remaja laki-laki itu tidak pernah terbangun lagi. Menurut penuturan dokter yang memeriksanya, kemungkinan besar remaja tersebut meninggal sekitar pukul 3 pagi karena mengalami kerusakan jantung.

Pada 8 September, pihak sekolah telah menghubungi keluarga dari sang remaja malang itu untuk meminta maaf dan berjanji akan bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Pihak keluarga yang merasa marah dan kesal berharap kejadian semacam ini tidak akan terulang kembali di kemudian hari.

(vio/vio)