Kisah Miris Pilot Jadi Pengangguran karena Corona, Stres dan Pilih Bunuh Diri

Vina Oktiani - wolipop Jumat, 07 Agu 2020 06:00 WIB
A. Sanjiv Daevin A. Sanjiv Daevin / Foto: News In Flight
Jakarta -

Pandemi Corona telah membawa dampak signifikan pada kehidupan manusia. Efek dari pandemi Corona itu dirasakan hampir dalam seluruh aspek kehidupan manusia, terutama aspek keuangan. Tidak sedikit orang-orang yag kemudian kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran. Hal itu yang juga dialami oleh pilot malang yang satu ini.

Seperti dikutip dari Bernama, seorang pilot berusia 35 tahun yang berasal dari Serdang, Kuala Lumpur, Malaysia memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri setelah kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran karena pandemi Corona. Pria bernama A. Sanjiv Daevin itu dikabarkan lompat dari lantai 12 kondominium miliknya di Bandar Kinrara pada Senin (3/8/2020).

Pihak kapolsek ACP Ismadi Borhan mengatakan bahwa tidak ditemukan adanya hal-hal yang mencurigakan disekitar area tersebut. Berdasarkan keterangan para saksi di lokasi kejadian dan orang-orang terdekat, Sanjiv tadinya adalah seorang pilot di salah satu perusahaan penerbangan lokal. Tapi semenjak pandemi Corona, sekitar dua bulan yang lalu, dirinya dipecat dari pekerjannya tersebut.

"Tekanan masalah yang dia hadapi diyakini telah memebuatnya memutuskan untuk melompat dari gedung kondominiumnya," jelas Ismadi.

Ismadi juga menambahkan bahwa hingga saat ini pihak kepolisian masih berusaha menyelidiki insiden tersebut. Sejauh ini dugaan alasan dari kematian sang pilot adalah karena tekanan dan stres yang dialaminya karena tidak lagi memiliki pekerjaan dan penghasilan.

Stres dan depresi yang mungkin dialami oleh pilot dari Malaysia itu memang dapat menyebabkan kegelisahan dan pikiran menjadi tidak tenang. Hal itu sangat berdampak bagi kesehatan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkan stres yang dialami, seperti dengan menghindari hal-hal yang mengundang kepanikan, berkonsultasi dengan orang-orang yang kamu percaya, mengisi waktu dengan hal positif, atau menulis jurnal sebelum tidur.

Menurut Michael J. Breus, Ph.D., seorang psikolog, ritual menulis jurnal dapat dilakukan setiap sebelum tidur atau saat pikiran terasa jenuh. Saat melampiaskan semua kegelisahan yang dirasakan, pastikan juga menulis saran atau solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi itu.

Alex Lickerman, M.D. juga menyarankan seseorang yang merasa depresi apalagi sampai memiliki perasaan ingin bunuh diri sebaiknya tidak memendam perasaannya sendiri. Menurutnya, depresi bisa disembuhkan dengan adanya perhatian dari keluarga dan sahabat terdekat. Jadi ketika ada seseorang yang terlihat tertekan, janganlah mengabaikannya. Cobalah untuk mengajaknya berbicara atau curhat, karena sebenarnya orang yang depresi memerlukan seseorang untuk diajak bicara dari hati ke hati.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila kamu, pembaca, merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan kamu ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.



Simak Video "Digelar Virtual, Ini Penampilan Para Selebriti di Emmy Awards 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/vio)