Popular Sepekan: Kisah Sarjana Fisipol UGM Viral Karena Pilih Jadi Petani

Vina Oktiani - wolipop Minggu, 21 Jun 2020 14:00 WIB
dipa Foto: Twitter Dipa @tanikelana
Jakarta -

Seorang pria asal Sukabumi menjadi viral setelah berita mengenai dirinya ramai diperbincangkan di media sosial. Setelah berhasil mendapatkan gelar sarjana dari Fisipol Universitas Gadjah Mada, pria tersebut memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halamannya dan menjadi seorang petani. Kisah tersebut lalu dibagikannya melalui akun Twitter pribadinya.

"Tujuh bulan lalu aku lulus dari Fisipol UGM. Januari lalu akhirnya aku pulang kampung, dan bulan Maret aku mulai ambil cangkul dan pergi ke kebun. Sedikit cerita tentang memilih jalan seorang petani! 🏼Ear of rice Seedling," tulis Dipa di akun Twitternya @tanikelana, pada Jumat (12/6/2020).



Ketika dihubungi oleh Wolipop via WhatsApp, pria dengan nama lengkap Michael Raffy Sujono atau biasa dipanggil Dipa ini mengungkapkan alasan dirinya membuat thread tersebut di Twitter. Menurut penuturannya, awalnya Dipa hanya ingin sekedar curhat mengenai keputusan yang diambilnya itu.

"Sebatas curhat awalnya tetapi ternyata banyak yang respon karena ada keinginan untuk bertani, karena sadar banyak temen yang mau bertani. Dan mengalami kendala yang sama denganku susah akses modal dan susah akses lahan. Aku berharap ini jadi semangat buat temen-temen yang mau bertani juga.," ungkap Dipa saat dihubungi Wolipop lewat WhatsApp, Rabu (17/6/2020).

Dipa juga mengatakan bahwa ketika orangtuanya mengetahui keputusaannya tersebut, mereka langsung setuju dan mendukungnya. "Mereka tidak mempersalahkan, bahkan mendukung keputusan aku. Ini merupakan hal terbaik yang aku punya dan keluarga yang suportif," ujarnya.

Dipa menceritakan dirinya mulai bertani dengan menggarap lahan di Sukabumi. Dia memulai dengan menggarap lahan seluas 450 M2 dan berencana memperluas garapannya menjadi 1.000 M2.

dipaDipa bersama komunitas Sektimuda. Foto: Twitter Dipa @tanikelana

Ketika ditanya soal ketertarikannya dalam dunia pertanian, Dipa mengatakan ia sangat peduli dengan lingkungan dan alam. "Ada banyak hal, utamanya dari minat terhadap merawat, dan kepedulian dengan alam. Mungkin pengaruh masa kecil sering di luar, sering mendaki gunung, dan baca banyak hal terkait alam. Dengan bertani lewat pertanian alami, merupakan salah satu cara hidup tanpa banyak menimbulkan kerusakan," tutur Dipa yang mulai menyukai bercocok tanam berkat sang nenek yang rajin menanam tanaman di rumahnya.

Berkarir sebagai petani, Dipa mengaku memulai usahanya dengan dana Rp 2 - 4 juta. Uang tersebut dikeluarkannya untuk membeli berbagai peralatan bertani. Lahan pertanian yang digarapnya, ditanaminya
sayuran kangkung, bayam dan cabai. Dalam menggarap lahannya ini, Dipa masih dibantu oleh petani setempat.

"Dia merintis tanam sayur pertama di desa, namanya Aa Yuda dan juga ayahnya. Mereka mempersilahkan aku untuk menggarap lahan yang mereka sewa dari desa, jadi meski sendiri, aku belajar banyak dan dibantu banyak oleh mereka," kisahnya.

Dipa menjual hasil bertaninya pada tukang sayur lokal. "Biasanya aku jual per ikat 1.500 ke tukang sayur, sehari kadang antar 10 ikat, juga ada yg beli langsung dari kebun. Karena dulu perencanaannya kurang matang jadi ketersediaan sayur di kebun nggak terus ada. Sekarang lagi mau nanam lagi biar bisa panen setiap hari," ujarnya.

dipaLahan pertanian Dipa. Foto: Twitter Dipa @tanikelana

Pria 22 tahun itu menambahkan perjalanannya bercocok tanam tak semulus yang ia bayangkan. Dipa mengaku mengalami kegagalan.

"Banyak dan sering, aku tanam cabai gagal karena tanahnya kritis, aku tanam timun juga gagal karena tanahnya kritis juga ada resurgensi hama. Di situ belajar kalau tanah yang sehat adalah faktor paling peting dalam budidaya pertanian," katanya.

Mengenai threadnya di Twitter yang menjadi viral, Dipa tak menyangka karena awalnya ia hanya ingin curhat tentang apa yang dialaminya. "Nggak menyangka karena cuma curhat aja. Aku sampai sekarang merasa biasa aja," ujarnya seraya tertawa.



Simak Video "Mengapa Bersepeda Jadi Tren di Era New Normal?"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/vio)