Pernah Jadi Pasien 'Face Off' 16 Tahun Lalu, Begini Kondisi Lisa Sekarang

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 17 Jun 2020 07:30 WIB
Siti Nur Jazilah Foto: Dok. Lisa
Jakarta -

16 tahun lalu seorang wanita bernama Siti Nur Jazilah menjadi pasien rekonstruksi wajah pertama di Indonesia. Menjadi korban kekerasan rumah tangga, wanita yang disapa Lisa itu mengalami kerusakan wajah yang membuat belasan dokter turun tangan membantunya. Selama tujuh tahun, Lisa pun menjalani 17 kali operasi perombakan wajah total dengan teknik free flap. Bagaimana kondisinya sekarang?

Pada 2004, Lisa menjadi korban penyiraman air keras yang dilakukan oleh suaminya. Setelah bertahun-tahun menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Lisa akhirnya diperbolehkan pulang pada 2014. Meski kondisinya belum sempurna, ketika itu Lisa dianggap sudah bisa hidup mandiri tanpa bantuan tim medis.

Walau kondisi fisiknya hampir sembuh, ketika itu para dokter sebenarnya masih mengkhawatirkan kondisi psikis Lisa yang akan kembali hidup di masyarakat setelah sekian lama dirawat. Namun ternyata Lisa bisa bangkit dari pengalaman buruknya hingga kini menjadi pengusaha perhiasan. Kepada Wolipop, wanita yang kini tinggal di Surabaya itu menceritakan kondisinya sekarang.

Siti Nur Jazilah, LisaSiti Nur Jazilah, Lisa Foto: Instagram @lisa_jewellry_handmade

"Keadaannya sudah jauh lebih baik. Secara sosialisasi juga sudah membaik karena aku sudah tinggal di luar (rumah sakit) lumayan jadi sudah terbiasa. Sekarang sih nggak begitu ada kesulitan," kata Lisa ketika dihubungi Selasa, (16/6/2020).

Dua tahun setelah keluar dari rumah sakit, Lisa membangun bisnis perhiasaan. Bisnis tersebut merupakan hasil dari pembelajarannya selama di rumah sakit. Ketika itu, ia sempat mencoba banyak hal untuk punya bisa bekerja setelah nanti sembuh. Dibantu oleh para dokter, Lisa sempat belajar melukis, menjahit, masak, menyulam sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada aksesori.

"Jualan perhiasan sudah dari 2009 cuma waktu itu kan ada operasi di rumah sakit jadi terbatas. Setelah dua tahun keluar rumah sakit, aku sempat magang setahun tapi resign. Setelah itu aku melanjutkan buat perhiasan. Beberapa kali belajar macam-macam merasa sukanya memang sukanya yang ini, jadi dikembangin," ungkapnya.

Siti Nur Jazilah, LisaKalung Buatan Siti Nur Jazilah, Lisa Foto: Instagram @lisa_jewellry_handmade

Lisa kebanyakan menjual kalung dan bros dari bebatuan. Sering menjual produknya di berbagai acara kesehatan, dilaporkan jika aksesori Lisa kerap jadi langganan ibu-ibu pejabat. Bisa dibilang sukses bangkit dari keterpurukan, wanita asal Malang tersebut kini senang bisa menemukan 'passion' dan membuktikan diri.

"Aku ingin membuktikan bahwa yang penting kita tuh tetap menggali potensi. Aku sendiri dulu sering ada keraguan. Aku dulu juga awalnya sering berpikir apakah bisa tapi lama-lama setelah dijalani bisa juga," ungkapnya.

"Kalau aku kan secara akademi kurang. Aku cuma lulusan SMP jadi kalau bekerja di perusahaan itu nggak mungkin. Jadi aku ingin menunjukkan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan talenta. Pokoknya kamu sukanya apa ya kamu jalani," kata Lisa.

Wanita 36 tahun ini pun mengaku tidak punya banyak ilmu dan pengalaman ketika baru pertama kali memulai bisnisnya. Memulai bisnis dari awal hingga kini cukup sukses, Lisa membagikan kunci suksesnya.

Siti Nur Jazilah, LisaSiti Nur Jazilah, Lisa Foto: Instagram @lisa_jewellry_handmade

"Aku benar-benar dari awal juga jadi lalui saja prosesnya dan telaten. Kalau aku mengikuti trennya sekarang apa. Kalau ada yang mahal atau tidak, itu tergantung dengan bahannya. Bikin yang bagus, kalau orang pakai terlihat keren kan kita ikut senang," ujarnya.

Sukses dengan bisnis perhiasan, Lisa ternyata belum mau merambah produk lain. Ia mengatakan lebih suka fokus pada satu bidang. "Dulu pernah ikut-ikut jualan baju tapi jadi nggak fokus. Yang penting fokus kalau ditelateni juga pasti sukses. Aku basic-nya memang suka jualan," jelas Lisa.



Simak Video "Aeshnina, Gadis Pemberani Asal Gresik yang Surati Pemimpin Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(ami/ami)