#BisaApaSih Kerja Cuma di Rumah Aja? Jadi Sasaran Nyinyiran Netizen

Nurcholis Maarif - wolipop Kamis, 20 Feb 2020 11:28 WIB
ilustrasi kerja Foto: shutterstock
Jakarta -

Kerja dari rumah emang #BisaApaSih untuk masa depan hidupnya jadi tema yang menarik saat membicarakan pekerjaan. Sebab kerja serabutan dari rumah masih dipandang sebelah mata dibanding kerja kantoran atau jadi PNS.

Laporan Indonesia Millenial Report 2019 menyebut gaji merupakan faktor pertama anak muda saat ini memilih pekerjaan, dilanjut dengan faktor jenis pekerjaan dan brand perusahaan. Lalu ternyata menurut milenial, waktu yang ideal bekerja di sebuah perusahaan ialah 2 sampai 3 tahun.

Tak hanya itu, ternyata konsep ngantor sudah ditinggalkan beberapa perusahaan juga, lho. Chairman Asosiasi Praktisi dan Profesional SDM Future HR, Audi Lumbantoruan mengatakan kini memang banyak perusahaan yang sistem kerjanya mengarah ke bekerja tanpa kantor, terlebih lagi dengan kemajuan teknologi yang memudahkan segala macam laporan kerja. Ia memaparkan, fleksibilitas menjadi alasan utama konsep ini menjadi tren.

Intinya, milenial yang punya sifat mudah bosan justru menginginkan pekerjaan yang fleksibel. Tak terkecuali bekerja dari rumah. Dilihat dari kenyataannya, memang banyak kok kerjaan yang nggak kantoran tapi punya masa depan. Contohnya penulis, freelance, photographer/videographer, kontraktor, atau influencer yang isinya jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain.

Mereka tinggal foto, dapat uang nggak jarang gratis karena di-endorse, bahkan seorang YouTuber bisa kerja sambil tiduran di rumah. Apakah ini pertanda sirik? Atau karena yang mereka yang nge-judge mulai bingung "#BisaApaSih kita?"

Namun, nyatanya kerja dari rumah maupun serabutan seringkali dinyinyiri tak hanya dari orang yang sudah tua, tetapi juga dari milenial itu sendiri. Hal itu turut dirasakan penulis Alit Susanto. Melalui akun Twitter-nya @shitlicious, Alit menyindir kebiasaan warga Indonesia yang suka nyinyir dan meremehkan masa depan seseorang dari pekerjaan maupun latar belakang hidupnya.

"Pernah dpt pertanyaan bernada meremehkan ky #BisaApaSih anak kampung di kota? #BisaApaSih lulusan SMA doang? #BisaApaSih kerja di rumah doang? Ditanya: Lit, jd penulis emangnya #BisaApaSih utk masa depan? Gue jwb, "bisa bahagia" Coba tulus curhatan lo di sini!" tulis Alit.

Dalam twit-nya tersebut, Alit seolah mengajak netizen untuk tak meremehkan pekerja serabutan atau pekerjaan nonformal yang tak melulu bekerja di kantor. Beberapa netizen dari berbagai profesi pun ikut menimpali.

Twit dari @shitlicious itu pun ditanggapi ramai-ramai oleh netizen, baik tentang pengalaman pribadinya maupun jawaban yang menggelitik. Misalnya akun @abidzarghifary membalas "Gue 2010 motret gigs di rossi, dipertanyakan anak metal #BisaApaSih ? Eh 2018 gue dipanggil jadi head photographer nya Hammersonic, festival musik metal terbesar di Asia Pasifik, kalo ada yg nanya julid kaya gt, sorry musik metal berisik gue gbs denger julidan lo pada hehe".

Lalu ada juga akun @amoriren yang membalas, "#BisaApaSih kalo jadi guru? Gaji aja cm patratusrebu doang. Aku jwb, kl udh sertifikasi bs travelling kemana2. Kerja setengah hari. Libur juga buanyak," tulisnya.

Ada juga yang membalas dengan kata-kata bijak seperti yang ditwit akun @bikinkecanduan. "Kalo ada org bilang #BisaApaSih ke gue, gue tinggal jwb "Hidup gue bukan untuk ngebuktiin gue bisa ini itu ke orang-orang. Berhenti ngurusin hidup orang, nikmatin hidup lo, jalani kehidupan dgn baik, selebihnya udah ada Tuhan yg ngatur."

Jadi gimana menurut kalian soal kerja serabutan #BisaApaSih?

(prf/eny)