Kartini Masa Kini
Kisah Fariana Dewi Djakaria, Pilot Heli Wanita Pertama di ASEAN
Alissa Safiera - wolipop
Jumat, 21 Apr 2017 16:07 WIB
Jakarta
-
Layaknya R. A. Kartini yang berusaha mendobrak dominasi pria dan keinginannya mengangkat hak-hak wanita agar setara dengan kaum pria, pribadi ini kian menginspirasi para wanita masa kini yang berjuang dalam caranya masing-masing. Salah satu sosok Ibu Kartini di masa sekarang itu adalah seorang wanita bernama Fariana Dewi Djakaria.
Fariana tercatat sebagai pilot helikopter wanita pertama TNI AU, tak hanya di Indonesia namun juga Asia Tenggara. Kini, ibu satu anak tersebut disibukkan dengan kegiatannya menjadi pilot instruktur di Sekolah Penerbangan (Sekbang) TNI AU.
Wanita kelahiran Pariaman, Sumatera Barat ini tak pernah menyangka bisa terjun ke dalam dunia tentara, apalagi mencatatkan namanya sebagai pilot helikopter wanita pertama di TNI AU. Sebelumnya, ia hanyalah mahasiswa biasa di Universitas Padjajaran Bandung, namun di tahun keduanya dia mencoba masuk TNI AU, yang menjadi jalan hidupnya saat ini.
"Saya jarang pisah dengan keluarga. Jangankan saya menjadi pilot, bahkan ketika saya masuk TNI ibu saya bertanya berkali-kali, "yakin kamu?". Ibu saya berpesan kalau yakin, laksanakan, jalani dan jangan berhenti di tengah jalan. Keluarga kami jauh dari militer, apalagi jadi pilot penerbang," ujar Fariana kepada Wolipop di Rumah Maroko, Kamis (20/4/2017).
Bagi Fariana, menjadi sosok Kartini di tengah dominasi pria di TNI AU membuat ia menjadi sosok yang tahan banting. Di sana, semuanya adalah setara. Demi memantaskan dirinya menjadi seorang pilot penerbang, ia pun harus mengikuti pelatihan fisik yang sama dengan tentara lainnya. Ini bukan tantangan baginya, melainkan caranya menyamakan kedudukannya dengan para pria.
"Wanita memang komunitas kecil. Tapi kita tetap disamakan. Cowok lari, kita juga lari. Apalagi ketika saya masuk sekolah penerbangan di TNI, kita harus melalui aerobatic, manuver, formasi, terbang rendah. Nggak mungkin pesawat yang menyesuaikan kita, otomatis kita yang harus menyesuaikan dengan cowok. Kita tahu sendiri kita yang butuh itu," imbuh wanita 35 tahun itu.
Baca Juga: 21 Kartini Masa Kini
Pelatihan selama bertahun-tahun itu lalu membawa dia menjadi sosok wanita pertama sebagai pilot helikopter di dunia militer, di Asia Tenggara. Walau pekerjaannya didominasi pria, Fariana mengaku tak pernah mendapat perlakuan khusus atau justru disepelekan. Para pria malah menjadi pendukung serta penyemangat Fariana.
Walau sudah lihai mengemudikan helikopter militer, namun ketika tiba saatnya pulang, Fariana adalah seorang wanita pada umumnya. Ia menjalankan kodrat sebagai wanita, istri dan juga ibu bagi putrinya yang kini berusia 4 tahun.
"Kalau di rumah kita tetap menjadi istri, menjadi ibu. Walau di militer kita sudah tandatangan kontrak kalau kita milik negara. Hebatnya perempuan ya itu, ketika di kantor dia profesional, di rumah menjadi ibu. Walau waktu memang susah membuat saya sering bertemu, karena kita kalau heli bisa standby sebulan di luar. Jadi yang terpenting bagi saya adalah kualitas bukan kuantitas," imbuh wanita yang hobi berwisata kuliner tersebut.
Baginya menjadi sosok Kartini masa kini memang tak mudah. Butuh kerja keras untuk membuat derajat wanita menjadi setara, yakni dengan meningkatkan kualitas sebagai wanita.
"Ketika mereka (wanita masa kini) mengelu-elukan emansipasi, mereka harus punya kualitas itu. Kualitas dari perempuan itu sendiri, jangan sampai ketika kita ingin sama, tapi kita tidak memiliki kemampuan itu," pungkasnya.
(asf/eny)
Fariana tercatat sebagai pilot helikopter wanita pertama TNI AU, tak hanya di Indonesia namun juga Asia Tenggara. Kini, ibu satu anak tersebut disibukkan dengan kegiatannya menjadi pilot instruktur di Sekolah Penerbangan (Sekbang) TNI AU.
Wanita kelahiran Pariaman, Sumatera Barat ini tak pernah menyangka bisa terjun ke dalam dunia tentara, apalagi mencatatkan namanya sebagai pilot helikopter wanita pertama di TNI AU. Sebelumnya, ia hanyalah mahasiswa biasa di Universitas Padjajaran Bandung, namun di tahun keduanya dia mencoba masuk TNI AU, yang menjadi jalan hidupnya saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Hasan Alhabshy |
Bagi Fariana, menjadi sosok Kartini di tengah dominasi pria di TNI AU membuat ia menjadi sosok yang tahan banting. Di sana, semuanya adalah setara. Demi memantaskan dirinya menjadi seorang pilot penerbang, ia pun harus mengikuti pelatihan fisik yang sama dengan tentara lainnya. Ini bukan tantangan baginya, melainkan caranya menyamakan kedudukannya dengan para pria.
"Wanita memang komunitas kecil. Tapi kita tetap disamakan. Cowok lari, kita juga lari. Apalagi ketika saya masuk sekolah penerbangan di TNI, kita harus melalui aerobatic, manuver, formasi, terbang rendah. Nggak mungkin pesawat yang menyesuaikan kita, otomatis kita yang harus menyesuaikan dengan cowok. Kita tahu sendiri kita yang butuh itu," imbuh wanita 35 tahun itu.
Baca Juga: 21 Kartini Masa Kini
Pelatihan selama bertahun-tahun itu lalu membawa dia menjadi sosok wanita pertama sebagai pilot helikopter di dunia militer, di Asia Tenggara. Walau pekerjaannya didominasi pria, Fariana mengaku tak pernah mendapat perlakuan khusus atau justru disepelekan. Para pria malah menjadi pendukung serta penyemangat Fariana.
Walau sudah lihai mengemudikan helikopter militer, namun ketika tiba saatnya pulang, Fariana adalah seorang wanita pada umumnya. Ia menjalankan kodrat sebagai wanita, istri dan juga ibu bagi putrinya yang kini berusia 4 tahun.
"Kalau di rumah kita tetap menjadi istri, menjadi ibu. Walau di militer kita sudah tandatangan kontrak kalau kita milik negara. Hebatnya perempuan ya itu, ketika di kantor dia profesional, di rumah menjadi ibu. Walau waktu memang susah membuat saya sering bertemu, karena kita kalau heli bisa standby sebulan di luar. Jadi yang terpenting bagi saya adalah kualitas bukan kuantitas," imbuh wanita yang hobi berwisata kuliner tersebut.
Baginya menjadi sosok Kartini masa kini memang tak mudah. Butuh kerja keras untuk membuat derajat wanita menjadi setara, yakni dengan meningkatkan kualitas sebagai wanita.
"Ketika mereka (wanita masa kini) mengelu-elukan emansipasi, mereka harus punya kualitas itu. Kualitas dari perempuan itu sendiri, jangan sampai ketika kita ingin sama, tapi kita tidak memiliki kemampuan itu," pungkasnya.
(asf/eny)
Kesehatan
Sering Pegal & Kaku Saat Kerja? Lenovo Massage Gun 8 Kepala Ini Jadi Andalan Kaum Jompo
Kesehatan
Solusi Teeth Whitening Tanpa Ribet ke Klinik! Dengan PUTIH Wireless Whitening Light
Hobi dan Mainan
ORCA MAGMA01 vs Donner DAG-1CE: Gitar Ringkas atau Full Size, Mana Lebih Pas?
Kesehatan
Suplemen Harian Jaga Imun Tubuh di Tengah Aktivitas Padat! Review Swisse Ultiboost Vitamin C 1000mg
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
Foto: Gaya Denada Sambut 2026, Seksi Pakai Gaun Menerawang
2
Meghan Trainor Tanggapi Sindiran Ashley Tisdale soal Geng Ibu-ibu Toxic
3
Mantan Desainer Marni Pindah ke GU Uniqlo, Siap Rancang Fashion Ramah Kantong
4
Viral Verificator
Bikin Melongo! Viral Aksi Emak-emak Pungut Sayur Sisa di Pasar untuk Dimasak
5
Ramalan Zodiak 11 Januari: Aquarius Buat Rencana, Pisces Banyak Peluang
MOST COMMENTED












































Foto: Hasan Alhabshy