Wanita Ini Berhasil Buat Parlemen Inggris Berdebat Soal High Heels
Daniel Ngantung - wolipop
Selasa, 31 Jan 2017 16:50 WIB
London
-
Parlemen Inggris akan memperdebatkan aturan berpakaian dalam lingkungan kerja, salah satunya wajib tidaknya seorang wanita memakai high heels atau sepatu berhak tinggi di kantor. Pasalnya aturan tersebut berpotensi menimbulkan diskriminasi.
Semuanya bermula ketika pertengahan 2016 lalu Nichola Thorp dipecat lantaran menolak memakai high heels di kantor. Merasa didiskriminasi, wanita 27 tahun itu pun membuat sebuah petisi.
Melalui petisi itu, ia meminta pemerintah Inggris untuk mengeluarkan peraturan yang melarang perusahaan mewajibkan karyawatinya memakai high heels.
Petisi tersebut membutuhkan 10.000 tanda tangan agar mendapat respon dari pemerintah. Lalu 100.000 tanda tangan untuk meyakinkan parlemen membahas topik tersebut dalam debat mereka.
Upaya Nichola membuahkan hasil. Petisi yang dirilis pada Mei 2016 itu berhasil menghimpun 136.000 tanda tangan hanya dalam waktu sepekan. Dan setelah menunggu hampir setengah tahun, topik tersebut dipastikan akan menjadi perdebatan Parlemen Inggris bulan depan.
"Senang rasanya setelah mengetahui banyak orang yang mendukungku dan bukan aku saja yang mengalaminya. Aku berharap nantinya ada perubahan kebijakan," tulis Nichola dalam sebuah essai di situs Today.
Nichola kehilangan pekerjaannya sebagai resepsionis di sebuah perusahaan agensi karena kukuh memakai sepatu datar ketimbang high heels sebagaimana peraturan kantornya.
"Di hari pertama kerja, aku memakai setelan dan sepasang smart shoes, dan manajerku bilang aku harus segera membeli high heels atau pulang," kata wanita yang juga berprofesi sebagai aktris itu.
Menurut Nichola, kejadian tersebut tidak semestinya terjadi karena tergolong tindakan diskriminatif dan seksis. "Aku pun akan melakukan semampuku untuk memastikan kejadian tersebut tidak dialami oleh wanita manapun," kata dia.
(dng/dng)
Semuanya bermula ketika pertengahan 2016 lalu Nichola Thorp dipecat lantaran menolak memakai high heels di kantor. Merasa didiskriminasi, wanita 27 tahun itu pun membuat sebuah petisi.
Nichola Thorp (Foto: ist) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petisi tersebut membutuhkan 10.000 tanda tangan agar mendapat respon dari pemerintah. Lalu 100.000 tanda tangan untuk meyakinkan parlemen membahas topik tersebut dalam debat mereka.
Upaya Nichola membuahkan hasil. Petisi yang dirilis pada Mei 2016 itu berhasil menghimpun 136.000 tanda tangan hanya dalam waktu sepekan. Dan setelah menunggu hampir setengah tahun, topik tersebut dipastikan akan menjadi perdebatan Parlemen Inggris bulan depan.
Ilustrasi Parlemen Inggris (AFP Photo/Daniel Leal-Olivas) |
"Senang rasanya setelah mengetahui banyak orang yang mendukungku dan bukan aku saja yang mengalaminya. Aku berharap nantinya ada perubahan kebijakan," tulis Nichola dalam sebuah essai di situs Today.
Nichola kehilangan pekerjaannya sebagai resepsionis di sebuah perusahaan agensi karena kukuh memakai sepatu datar ketimbang high heels sebagaimana peraturan kantornya.
Foto: thinkstock |
"Di hari pertama kerja, aku memakai setelan dan sepasang smart shoes, dan manajerku bilang aku harus segera membeli high heels atau pulang," kata wanita yang juga berprofesi sebagai aktris itu.
Menurut Nichola, kejadian tersebut tidak semestinya terjadi karena tergolong tindakan diskriminatif dan seksis. "Aku pun akan melakukan semampuku untuk memastikan kejadian tersebut tidak dialami oleh wanita manapun," kata dia.
(dng/dng)












































Nichola Thorp (Foto: ist)
Ilustrasi Parlemen Inggris (AFP Photo/Daniel Leal-Olivas)
Foto: thinkstock