Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kisah Inspiratif Noelia, Guru Down Syndrome Pertama di Argentina

Eny Kartikawati - wolipop
Rabu, 02 Nov 2016 14:27 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Diego Lima
Buenos Aires - "Aku ingin mereka membaca dan mendengar karena di masyarakat sekarang ini, orang-orang harus mendengarkan satu sama lain," begitulah keinginan Noelia, guru down syndrome pertama di Argentina.

Sosok Noelia Garella menjadi populer setelah dia diwawancara oleh Agence France Presse. Dia disebut sebagai pemilik gangguan down syndrome pertama yang menjadi guru di negaranya/

Sehari-harinya Noelia merupakan pengajar di sebuah kelas pre school di Argetina. Dia mengajar membaca anak-anak berusia dua dan tiga tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aku menikmati ini. Sejak aku kecil aku memang ingin menjadi seorang guru," begitu kata wanita 31 tahun itu.

Kisah Inspirarif Noelia, Guru Down Syndrome Pertama di ArgentinaFoto: Diego Lima


Keinginan Noelia menjadi guru terinspirasi dari pengalaman pahit yang dialaminya saat masih anak-anak. Dia mengaku tidak seberuntung anak-anak yang menjadi muridnya sekarang. Dia pernah ditolak masuk kelas pre school dan mendapat panggilan tidak menyenangkan dari teman-temannya bahkan orang dewasa yang mengenalnya.

Pengalaman buruk itu kini diubah Noelia menjadi cerita yang positif. Dia tidak mau menyebarkan keburukan. "Orang itu (yang berkata jahat tentang diriku) menjadi cerita yang aku ceritakan pada anak-anak. Bahwa dia adalah monster yang sedang bersedih, yang tidak tahu apapun dan memahami suatu hal dengan salah," katanya.

Saat Garella ingin mewujudkan impiannya menjadi guru, dia beruntung bertemu dengan Alejandra Senestrari, kepala sekolah tempatnya sekarang menjadi guru. Alejandra dengan tangan terbuka menerima kehadiran Garella.

Kisah Inspirarif Noelia, Guru Down Syndrome Pertama di ArgentinaFoto: Diego Lima


"Kami dengan cepat menyadari bahwa dia memiliki panggilan jiwa yang kuat. Dia memberikan anak-anak kelas preschooll apa yang paling dibutuhkan yaitu cinta," ujar Senestrari pada AFP.

Ketika Garella mulai mengajar di kelasnya sendiri pada Januari 2016, kontroversi tetap ada. Beruntung dia mendapat banyak dukungan dari orangtua murid dan para guru lainnya. Akhirnya kini dia mendapat banyak dukungan untuk meneruskan impiannya menjadi guru. Apalagi murid-muridnya tidak pernah melihat sosok dirinya sebagai orang dengan down syndrome.

"Bagaimana anak-anak itu menerima dia apadanya, kita melihat sebuah pelajaran kehidupan di sana," kata Senestrari.

Sebelum resmi menjadi pengajar, Garella sudah menjadi asisten guru kelas membaca sejak 2012. Meski memiliki mimpi besar, dia menyimpan misi yang sederhana untuk murid-muridnya. "Aku ingin mereka membaca dan mendengar karena di masyarakat sekarang ini, orang-orang harus mendengarkan satu sama lain," ujarnya.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads