Pewaris Martha Tilaar Group Ungkap 5 Kunci Sukses Melanjutkan Bisnis Keluarga

Arina Yulistara - wolipop Selasa, 28 Jun 2016 08:39 WIB
Foto: Arina Yulistara
Jakarta - Mampu terus mempertahankan hingga meningkatkan bisnis yang telah dibangun oleh orangtua tentu tidak mudah. Zaman yang berubah dan teknologi semakin canggih menjadi tantangan berat untuk membantu membesarkan perusahaan atau justru menghancurkannya.

Ada mitos populer beredar bahwa 'generasi pertama membangun, generasi kedua mempertahankan dan meningkatkan, lalu generasi ketiga menghancurkan'. Mitos tersebut seolah berubah menjadi kenyataan dengan adanya data yang menyebutkan bahwa sekitar 30% bisnis keluarga sukses diturunkan ke generasi kedua. Hanya 10% sampai 15% bisnis yang sukses diturunkan dari generasi kedua ke generasi ketiga. Angka itu kian menurun hingga generasi keempat yakni hanya 3% sampai 5%. Jadi sebenarnya anggapan tersebut mitos atau fakta?

Melihat hal ini, kedua pewaris Martha Tilaar Group (MTG) Bryan Tilaar (Anak Martha Tilaar) dan Samuel Pranata (Anak Ratna Pranata) meluncurkan buku berjudul 'The 2nd Generation Challenges'. Kedua putra dari pendiri MTG itu membuat buku tersebut untuk memotivasi para pewaris perusahaan keluarga agar bisnis yang telah dibangun susah payah oleh orangtua tidak hancur begitu saja tapi justru semakin besar di tangan generasi selanjutnya.

"Pertama memang buku ini sebagai sumber inspirasi perusahaan keluarga, bagaimana tongkat estafet ini berpindah dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Saya lihat belum pernah ada buku yang seperti ini makanya kita pikir kita harus tulis sesuatu," papar Samuel saat berbincang di Exodus Lounge, Kuningan City, Jakarta Selatan, Senin (27/6/2016).

Pria 43 tahun lulusan Universitas Boston Amerika Serikat itu menambahkan, dalam buku yang dijual seharga Rp 70 ribu tersebut terdapat motivasi dari 14 pemimpin perusahaan yang terkenal di Indonesia. Ia dan Bryan berharap dengan hadirnya buku ini bisa memicu semangat para generasi selanjutnya untuk terus berkembang dalam membesarkan bisnis keluarga. Jangan hanya mempertahankan dan menikmati hasil kerja keras orangtua saja tapi bagaimana meningkatkan keuntungan perusahaan.

Seperti yang saat ini Samuel dan Bryan lakukan selama puluhan tahun untuk terus meningkatkan bisnis orangtua mereka. Keduanya juga berbagi kunci sukses yang diakui mereka sudah ditanamkan oleh orangtua dalam membangun bisnis.

Disiplin

"Prinsipnya ibu memang menanamkan core value ada lima, DJITU. Yang pertama disiplin, sebagai pemimpin tentu kita harus mencontohkan kepada karyawan di sana bagaimana sikap disiplin bukan datang seenaknya, kerja sesukanya, tidak begitu," ujar Samuel yang kini menduduki posisi Coporate Social Responsibility, Communication, System & Procedure Director MTG itu.

Jujur

Bersikap jujur ini penting bagi seorang pemimpin. Ketika Anda melakukan kesalahan tentu harus mengakuinya bukan justru menyalahkan karyawan lain dan menjadikannya kambing hitam. Beberapa pemimpin yang gagal membesarkan perusahaan salah satu faktor penyebabnya karena tidak bisa bersikap jujur dengan diri sendiri maupun orang lain.

Inovasi

Inovasi juga sebagai salah satu faktor penentu tumbuhnya perusahaan. Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, tentu sebagai generasi penerus harus bisa berpikir kreatif bagaimana menciptakan suatu inovasi-inovasi baru. Buat sesuatu yang bisa menjadi terobosan bukan dengan hanya mengikuti tren.

Tekun

Sebagai generasi penerus tentu Anda harus tekun. Ketika mengalami kegagalan maka harus coba dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Jangan berhenti hanya karena mementingkan ego masing-masing.

Ulet

Faktor ulet juga menjadi kunci sukses bagaimana bisa membangun bisnis keluarga. Bryan bercerita bahwa walaupun ia putra sulung Martha Tilaar lantas dirinya tak langsung menduduki posisi pemimpin. Ia mulai merangkak dari staf sejak 1995 dan terus menekuni kariernya hingga kini menduduki posisi Direktur Utama PT Martina Berto Tbk.

"Saya baru menjadi Dirut (Direktur Utama) setelah puluhan tahun bekerja. Makanya tekun itu diperlukan untuk bisa menjadi seorang pemimpin," ujar pria lulusan Universitas Redlands, Amerika Serikat itu.



(aln/eny)