Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Lurah Muda Berprestasi

Kesulitan yang Dialami Lurah Wanita Saat Ingin Bantu Warganya Sejahtera

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 22 Apr 2016 18:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Dok. Facebook Kelurahan Pontap
Jakarta - Junita Anjar Lestari dan Ratnarahayu Pitriyati adalah dua orang wanita yang bekerja sebagai aparat pemerintahan dengan menjabat sebagai lurah. Anjar adalah lurah di Kelurahan Pontap, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, sedangkan Ratna merupakan seorang lurah di Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Pekerjaan yang dilakukan memiliki tujuan yang sama, yakni menyejahterakan dan membina warga-warga sekitar yang terdiri dari ratusan RT serta belasan RW. Namun hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Terdapat berbagai kesulitan yang harus dihadapi dalam menyejahterakan warga yang dipimpinnya.

Lurah Anjar menceritakan, kesulitan utama yang dialaminya adalah merelokasi warga yang masih tinggal di garis sempadan pantai. Garis tersebut adalah garis batas luar pengaman yang ditetapkan dalam mendirikan bangunan. Di bagian luar garis ini, pemilik tanah tidak diperkenankan untuk mendirikan bangunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kendalanya pemerintah kelurahan bagian bawah agak kesulitan karena mayoritas masyarakat kami tinggal di sempadan pantai. Sekarang ada aturan yang menjelaskan tanah sempadan pantai tidak sah untuk ditempati tapi masyarakat kami tidak siap untuk direlokasi," paparnya saat dihubungi Wolipop, Selasa (19/4/2016).

Hal itu adalah tugas yang berat baginya, mengingat banyak masyarakatnya yang masih bertahan tinggal di sana. Bahkan ia pun tak jarang didesak oleh warganya untuk segera mengurus tanah mereka.

"Mereka anggap tanah mereka sah karena memiliki sertifikatnya, tetapi sekarang ada aturan baru yang menjelaskan bahwa aturan lama sudah tidak berlaku dan tidak diakui oleh pemerintah. Di situ kami kesulitan memberikan pemahaman pada mereka," lanjut lurah 27 tahun itu.

Karena itulah Anjar dan tim internal nya membuat suatu program bernama Door To Door. Program tersebut dilakukan untuk menghadapi warga yang sulit diajak kerjasama.

"Kami datang dari rumah ke rumah, kami dekati secara emosional sampai mereka bisa menerima kami dan mereka menganggap bahwa kami mengerti mereka dan sadar kalau cara kerja kami itu tidak lagi kaku, tapi lebih fleksibel," jelas lulusan S-2 STIE Jakarta itu.

Kesulitan lainnya dialami oleh lurah Ratna. Wanita 34 tahun itu hingga kini masih 'bergulat' untuk mengubah budaya masyarakat sehingga warganya menjadi masyarakat yang mandiri dan tidak lagi bergantung kepada orang lain.

Kelurahan Sadang Serang yang didaulat menjadi kelurahan percontohan ini juga memiliki program unik yang banyak ditiru oleh kelurahan dari berbagai daerah lainnya. Kelurahan ini memiliki aplikasi berbasis internet bernama e-kelurahan yang tujuannya untuk memudahkan warga untuk memudahkan pelaporan, pengarsipan, dan pencarian data para warganya yang dapat diakses 24 jam.

Sayangnya, masih banyak warga yang belum bisa mengaplikasikan e-kelurahan ini dan penyebarannya pun juga belum tersebar hingga merata. "Bukan hal yang mudah mengubah budaya masyarakat. Tekanan dan kesulitan itu memang banyak, tapi kuncinya adalah kerja sama dan tim yang solid. Saya dan masyarakat harus kompak, saya dan tim internal juga harus bisa memberikan motivasi," papar lurah lulusan STPDN Jatinangor itu saat berbincang dengan Wolipop, Rabu (20/4/2016). (itn/itn)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads