Intimate Interview
Aprishi Allita, Aktivis Anti Bullying yang Jadi Tempat Curhat Anak Muda
Hestianingsih - wolipop
Jumat, 15 Apr 2016 15:23 WIB
Jakarta
-
Kasus bullying yang banyak menimpa anak-anak dan remaja kerap kali luput dari perhatian. Padahal efek negatif yang ditimbulkan dari perilaku bully secara verbal, non-verbal maupun lewat dunia maya bisa sangat besar baik bagi diri si korban juga lingkungan sekitarnya.
Korban bully harus dibantu, dan pelakunya pun perlu ditindak. Sayangnya belum banyak pihak yang tergerak untuk fokus melawan bullying sehingga masih saja marak terjadi di berbagai belahan dunia termasuk negeri kita tercinta ini.
Di tengah kekurangpedulian masyarakat terhadap perilaku bullying, muncul satu sosok wanita yang mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk mengatasi masalah sosial ini. Aprishi Allita, menyebut dirinya sebagai aktivis anti bullying dengan sebuah misi mulia yaitu menghapus segala praktik bullying dari muka bumi. Bukan harapan yang terlalu muluk, karena ia yakin sesuatu yang dikerjakan dengan konsisten pasti akan membuahkan hasil.
Tahun 2009 bisa dibilang merupakan titik balik kehidupan Aprishi, yang memutuskan keluar dari pekerjaannya di salah satu perusahaan agensi untuk menjadi seorang aktivitas anti bullying secara penuh. Semuanya berawal dari keterlibatannya sebagai relawan di sebuah panti asuhan.
"Saya dulu kuliah di FISIP UI dan ada beberapa tugas untuk penelitian. Dari situ mulai pilih isu dan saya tertarik dengan isu kenakalan remaja. Lalu pada 2009 saya kerja sosial di panti asuhan awalnya untuk keperluan tugas kuliah. Di panti asuhan itu ada 200 anak yang sekolah SMP dan SMA. Tapi mereka rata-rata tidak mau sekolah," tutur Aprishi, saat berbincang dengan Wolipop di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Perilaku anak-anak panti asuhan yang tidak ingin bersekolah membuat wanita berusia 27 tahun ini bertanya-tanya. Setelah mencoba mencari tahu ternyata penyebabnya karena mereka menjadi korban bully di sekolah. Pengalaman itulah yang membuat wanita yang mengenyam pendidikan kuliah di bidang kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini tergugah membantu korban dan menggerakkan kampanye anti bullying.
"Dari situ jadi turning point aku untuk kampanye anti bullying. Sejak 2009 aktif ke berbagai sekolah, kerjasama dengan universitas dan media juga untuk penyuluhan. Aku juga menulis buku self help untuk anak SMP dan SMA untuk edukasi apa itu bullying dan apa yang harus dilakukan ketika jadi korban bully. Aku tuturkan dengan bahasa yang bisa dimengerti dan enak dibaca anak muda," ujar Aprishi.
Menjadi aktivis untuk membantu anak-anak korban bully, mata Aprishi pun semakin terbuka bahwa praktik bullying sudah menjadi masalah yang mengakar dan menyebar luas. Mendatangi korban satu per satu bukanlah perkara mudah, terlebih lagi dengan kesibukannya sebagai pekerja kantoran membuat Aprishi tidak punya banyak waktu.
Hingga akhirnya pada 2011 tercetus ide untuk membuat website sebagai wadah para korban bully untuk berkeluh kesah. Aprishi sendiri yang mengelola website bernama Stopbullying tersebut dan ia juga yang menerima ratusan email 'curhatan' yang masuk setiap harinya. Tidak jarang penulis buku 'Cool In School' ini harus bergadang demi membaca dan membalas email mereka.
"Sempat keteteran karena mereka biasanya baru email pukul 23.00 - 02.00, karena mungkin memang ada waktunya di jam-jam tersebut. Korban bully biasanya nggak berani cerita ke siapa-siapa tapi sebenarnya mereka hanya butuh didengar," cerita Aprishi.
Berbagai kendala pun dihadapi Aprishi ketika memutuskan menjadi aktivis. Salah satunya keterbatasan waktu. Bahkan ia sempat mengalami stres karena harus bekerja di kantor dan di waktu yang bersamaan kepeduliannya terhadap korban bully juga tidak bisa terputus. Hingga akhirnya ia memberanikan diri keluar dari perusahaan tempat ia bekerja kala itu dan menjadi instruktur yoga.
Sejak dulu Aprishi memang tertarik dengan latihan yoga dan jika hobinya itu bisa membantunya lebih fokus menangani maraknya praktik bullying, tidak ada salahnya mencoba untuk menjadi pelatih yoga profesional. Wanita berambut panjang ini pun mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi dan sejak empat tahun lalu dirinya alih profesi sebagai instruktur yoga.
"Dulu di kantor benar-benar tidak punya waktu. Kalau melatih yoga, aku hanya pegang tiga kelas sehari selama tiga jam. Sisa waktunya aku manfaatkan untuk mengurus website dan berbagai kegiatan penyuluhan lainnya," terangnya.
Tidak hanya lewat website dan email, Aprishi juga memberikan dukungan untuk para korban bully dengan melakukan pendampingan. Seperti yang pernah dilakukannya pada 2014, kala itu ia menangani tiga kasus anak yang di-bully sampai pada tahap percobaan bunuh diri. Jika sudah mendapati kasus-kasus yang tergolong berat, Aprishi akan menyarankan untuk mendatangi psikolog atau orang yang lebih berkompeten untuk mengatasi masalah tersebut.
"Pernah juga mendampingi anak pindahan dari Kalimantan ke sekolah di Jakarta. Dia saat itu SMA kelas 1 dan nggak punya teman sama sekali karena dia dari daerah. Dia merasa berbeda, dijauhi teman-temannya. Sempat berusaha biar sama seperti teman-temannya di sekolah jakarta tapi jadinya malah stres. Pernah juga dilempar sandal dan waktu ke toilet di-video-in itu parah sekali. Akhirnya aku melakukan pendampingan ke sekolahnya dan setelah setahun dia mulai bisa bicara dengan teman-temannya," urai Aprishi.
Saat ini Aprishi masih 'berjalan' sendiri sebagai aktivis anti bullying. Mulai dari mengelola website, melakukan pendampingan hingga pembiayaan. Meski begitu wanita yang hobi di bidang musik dan olahraga ini menyatakan tak akan menghentikan langkahnya memberantas praktik bullying. Ke depannya ia berharap bisa mendapat lebih banyak dukungan sehingga bisa menjangkau korban bully yang berada di daerah.
"Sejauh ini masih pakai biaya pribadi. Untuk penyuluhan juga membayar iuran hosting website per bulannya. Tapi kalau kita selalu berpikir positif pasti ada jalan. Dengan berpikir positif hal-hal positif juga akan datang dengan sendirinya," pungkas Aprishi. (hst/hst)
Korban bully harus dibantu, dan pelakunya pun perlu ditindak. Sayangnya belum banyak pihak yang tergerak untuk fokus melawan bullying sehingga masih saja marak terjadi di berbagai belahan dunia termasuk negeri kita tercinta ini.
Di tengah kekurangpedulian masyarakat terhadap perilaku bullying, muncul satu sosok wanita yang mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk mengatasi masalah sosial ini. Aprishi Allita, menyebut dirinya sebagai aktivis anti bullying dengan sebuah misi mulia yaitu menghapus segala praktik bullying dari muka bumi. Bukan harapan yang terlalu muluk, karena ia yakin sesuatu yang dikerjakan dengan konsisten pasti akan membuahkan hasil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dulu kuliah di FISIP UI dan ada beberapa tugas untuk penelitian. Dari situ mulai pilih isu dan saya tertarik dengan isu kenakalan remaja. Lalu pada 2009 saya kerja sosial di panti asuhan awalnya untuk keperluan tugas kuliah. Di panti asuhan itu ada 200 anak yang sekolah SMP dan SMA. Tapi mereka rata-rata tidak mau sekolah," tutur Aprishi, saat berbincang dengan Wolipop di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Perilaku anak-anak panti asuhan yang tidak ingin bersekolah membuat wanita berusia 27 tahun ini bertanya-tanya. Setelah mencoba mencari tahu ternyata penyebabnya karena mereka menjadi korban bully di sekolah. Pengalaman itulah yang membuat wanita yang mengenyam pendidikan kuliah di bidang kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini tergugah membantu korban dan menggerakkan kampanye anti bullying.
"Dari situ jadi turning point aku untuk kampanye anti bullying. Sejak 2009 aktif ke berbagai sekolah, kerjasama dengan universitas dan media juga untuk penyuluhan. Aku juga menulis buku self help untuk anak SMP dan SMA untuk edukasi apa itu bullying dan apa yang harus dilakukan ketika jadi korban bully. Aku tuturkan dengan bahasa yang bisa dimengerti dan enak dibaca anak muda," ujar Aprishi.
Menjadi aktivis untuk membantu anak-anak korban bully, mata Aprishi pun semakin terbuka bahwa praktik bullying sudah menjadi masalah yang mengakar dan menyebar luas. Mendatangi korban satu per satu bukanlah perkara mudah, terlebih lagi dengan kesibukannya sebagai pekerja kantoran membuat Aprishi tidak punya banyak waktu.
Hingga akhirnya pada 2011 tercetus ide untuk membuat website sebagai wadah para korban bully untuk berkeluh kesah. Aprishi sendiri yang mengelola website bernama Stopbullying tersebut dan ia juga yang menerima ratusan email 'curhatan' yang masuk setiap harinya. Tidak jarang penulis buku 'Cool In School' ini harus bergadang demi membaca dan membalas email mereka.
![]() |
"Sempat keteteran karena mereka biasanya baru email pukul 23.00 - 02.00, karena mungkin memang ada waktunya di jam-jam tersebut. Korban bully biasanya nggak berani cerita ke siapa-siapa tapi sebenarnya mereka hanya butuh didengar," cerita Aprishi.
Berbagai kendala pun dihadapi Aprishi ketika memutuskan menjadi aktivis. Salah satunya keterbatasan waktu. Bahkan ia sempat mengalami stres karena harus bekerja di kantor dan di waktu yang bersamaan kepeduliannya terhadap korban bully juga tidak bisa terputus. Hingga akhirnya ia memberanikan diri keluar dari perusahaan tempat ia bekerja kala itu dan menjadi instruktur yoga.
Sejak dulu Aprishi memang tertarik dengan latihan yoga dan jika hobinya itu bisa membantunya lebih fokus menangani maraknya praktik bullying, tidak ada salahnya mencoba untuk menjadi pelatih yoga profesional. Wanita berambut panjang ini pun mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi dan sejak empat tahun lalu dirinya alih profesi sebagai instruktur yoga.
"Dulu di kantor benar-benar tidak punya waktu. Kalau melatih yoga, aku hanya pegang tiga kelas sehari selama tiga jam. Sisa waktunya aku manfaatkan untuk mengurus website dan berbagai kegiatan penyuluhan lainnya," terangnya.
Tidak hanya lewat website dan email, Aprishi juga memberikan dukungan untuk para korban bully dengan melakukan pendampingan. Seperti yang pernah dilakukannya pada 2014, kala itu ia menangani tiga kasus anak yang di-bully sampai pada tahap percobaan bunuh diri. Jika sudah mendapati kasus-kasus yang tergolong berat, Aprishi akan menyarankan untuk mendatangi psikolog atau orang yang lebih berkompeten untuk mengatasi masalah tersebut.
"Pernah juga mendampingi anak pindahan dari Kalimantan ke sekolah di Jakarta. Dia saat itu SMA kelas 1 dan nggak punya teman sama sekali karena dia dari daerah. Dia merasa berbeda, dijauhi teman-temannya. Sempat berusaha biar sama seperti teman-temannya di sekolah jakarta tapi jadinya malah stres. Pernah juga dilempar sandal dan waktu ke toilet di-video-in itu parah sekali. Akhirnya aku melakukan pendampingan ke sekolahnya dan setelah setahun dia mulai bisa bicara dengan teman-temannya," urai Aprishi.
Saat ini Aprishi masih 'berjalan' sendiri sebagai aktivis anti bullying. Mulai dari mengelola website, melakukan pendampingan hingga pembiayaan. Meski begitu wanita yang hobi di bidang musik dan olahraga ini menyatakan tak akan menghentikan langkahnya memberantas praktik bullying. Ke depannya ia berharap bisa mendapat lebih banyak dukungan sehingga bisa menjangkau korban bully yang berada di daerah.
"Sejauh ini masih pakai biaya pribadi. Untuk penyuluhan juga membayar iuran hosting website per bulannya. Tapi kalau kita selalu berpikir positif pasti ada jalan. Dengan berpikir positif hal-hal positif juga akan datang dengan sendirinya," pungkas Aprishi. (hst/hst)
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
Ramalan Zodiak 8 Januari: Capricorn Harus Tegas, Pisces Hadapi Tantangan
2
Momen Miley Cyrus Ngomel ke Fotografer, Disuruh Lepas Kacamata di Red Carpet
3
Penampilan Terbaru Vidi Aldiano Bikin Pangling, Kini Berkumis Tebal
4
Kate Middleton Jadi Korban Kekejaman AI, Tersebar Gambar Sensual
5
Kisah Cinta Sesama Idol Jepang, Mantan AKB48 Akan Dinikahi Anggota BOYS & MEN
MOST COMMENTED












































