Perjuangan Ai Dewi Mengajar Anak Suku Baduy di Pedalaman
Dunia pendidikan sudah menjadi kecintaannya sejak kecil. Terlahir dengan tubuh kurang sempurna, tekad yang kuat berhasil menjadikan wanita berusia 42 tahun ini sebagai pengajar yang peduli akan pendidikan anak-anak di wilayah terpencil. Dialah Ai Dewi, tenaga pengajar yang kini sangat berperan dalam memajukan pendidikan anak-anak suku Baduy.
"Ketika saya lahir, sebenarnya dalam kondisi cacat. Tangan kanan terbalik. Saya dengar ibu saya ngeluh, sedih dan khawatir takut saya nggak bisa nulis," tutur wanita kelahiran Cianjur, 2 September 1972 ini.
Kekhawatiran sang bunda ternyata tak terbukti. Seiring berjalannya waktu, tangan kanan Ai perlahan-lahan membaik dan ia bisa membaca serta menulis seperti anak-anak pada umumnya. Bahkan ibu dari tiga anak ini tumbuh menjadi sosok inspiratif yang mampu membuktikan kalau kendala jarak dan penolakan bukan halangan untuk menjadi maju.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya mengajar di Desa Cicakal Girang, baru setelah itu saya mengajar di pedalaman Baduy," ujar Ai.
Ketertarikan Ai untuk mengajar anak-anak suku Baduy berawal dari rasa keprihatinan akan minimnya fasilitas pendidikan di wilayah itu. Suku Baduy memiliki 63 kampung dan tiga diantaranya bermukim di wilayah Ulayat Baduy. Salah satu dari tiga kampung tersebut berada di dusun Cicakal Girang, desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Di dusun tersebut ada dua lembaga pendidikan formal yaitu sekolah MI dan MTS. Namun sejak berdiri, tidak banyak guru yang bertahan hingga lebih dari sebulan.
Kondisi tersebut disayangkan oleh Ai, sebab semangat anak Baduy untuk belajar terbilang besar namun fasilitas serta tenaga pengajarnya sangat minim. Berbekal informasi yang dikumpulkannya dari berbagai pihak, berangkatlah Ai menuju desa yang jaraknya 10 kilometer itu dari tempat tinggalnya di Rangkasbitung.
"Alasannya karena disana masih haus pendidikan sedangkan tenaga pengajarnya tidak ada," jawab Ai saat ditanya motivasinya mengajar di desa tersebut.
Mengajar yang Penuh Perjuangan
Langkah Ai bukannya tanpa aral, ia sempat mengalami penolakan dari kepala suku adat Baduy. Masyarakat Baduy memang membatasi modernisasi masuk ke wilayahnya. Penolakan demi penolakan harus dihadapi Ai, bahkan pernah suatu kali karena peringatan yang cukup keras dari kepala adat, ia terpaksa keluar dari desa.
Pengalaman tidak menyenangkan juga pernah ia alami dalam proses belajar mengajarnya. Untuk mendatangi tempat ia mengajar, Ai harus berjalan kaki dan tak jarang melewati hutan lebat. Berjalan kaki di malam hari dan melewati hutan menjadi bukti hidupnya ia curahkan untuk pemerataan pendidikan. Pergi selepas maghrib, tak jarang ia baru sampai ke rumah hingga tengah malam dikarenakan jarak dari satu desa ke desa lainnya yang cukup berjauhan.
Pernah pula Ai mengalami peristiwa cukup mengerikan. Ketika sedang berjalan melintasi hutan, tiba-tiba sekelompok anjing hutan mengejarnya dan mengharuskan Ai menceburkan dirinya ke sungai. Untungnya, peristiwa menakutkan itu tidak membuat Ai patah semangat atau trauma untuk memberi pendidikan yang bermutu kepada anak-anak suku Baduy.
"Saya hanya membayangkan bagaimana besarnya keinginan anak-anak ini untuk belajar tapi tidak ada yang mengajar karena mereka berada di wilayah terpencil dan terisolir. Kenapa hanya untuk berjalan sejauh 10 kilometer, mereka yang seharusnya menjadi pendidik tapi sampai berhenti mendidik?" ujar Ai.
Meyakinkan kepala adat untuk membolehkannya mengajar memang tidak mudah dan prosesnya dilakukan secara perlahan. Untuk itu Ai melakukan sejumlah pendekatan agar masyarakat maupun kepala adat bisa menerima keberadaannya. Salah satu caranya, banyak melakukan interaksi dengan penduduk setempat dan mengakrabkan diri hingga akhirnya diizinkan untuk memberikan pelajaran.
"Itu pun harus bersifat informal terlebih dahulu sampai akhirnya sekarang sudah bisa menerima pendidikan formal," terangnya.
Syarat lainnya, kegiatan belajar mengajar tidak boleh membebani masyarakat sehingga demi pendidikan yang merata, Ai harus memfasilitasi murid-muridnya dengan membagikan alat tulis secara gratis. Alat tulis tidak disubsidi oleh pemerintah setempat melainkan berasal dari kantong Ai sendiri. Kegiatan pengajaran dilakukan Ai dengan mendatangi muridnya ke rumah-rumah, atau belajar di alam beratapkan langit.
Perjuangan Berbuah Hasil
Perjuangan Ai tak sia-sia. Seiring berjalannya waktu, tak hanya anak-anak yang tertarik belajar tapi juga remaja hingga orang tua. Rata-rata dari mereka tertarik setelah melihat anak-anaknya belajar baca tulis. Selain baca tulis, Ai juga mengusung pendidikan seni musik menggunakan alat musik tradisional angklung. Ia juga mengadakan program pemberantasan buta aksara, yang pesertanya berusia dari 21 tahun hingga 40 tahun.
Semangat Ai pun menjadi motivasi beberapa muridnya untuk meningkatkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Ia juga banyak mencetak tenaga di bidang pendidikan agar proses belajar tidak berhenti sampai di dirinya saja. Ai menyebutkan, saat ini ada 12 orang tenaga pengajar yang tersebar di berbagai desa.
Keberhasilan Ai merangkul masyarakat melalui pendidikan tak lepas dari dukungan keluarga terutama sang suami. Keluarga, menjadi pembakar semangat Ai untuk terus memperjuangkan kesempatan setiap anak mendapatkan pendidikan yang layak.
"Saya berharap bagi para kader-kader pendidikan agar tidak gentar untuk terus menyebar pesan pendidikan. Karena pendidikan itu adalah hak bangsa yang harus bisa mengakomodasi hingga pedalaman," tutupnya.
(hst/fer)
Kesehatan
Solusi Teeth Whitening Tanpa Ribet ke Klinik! Dengan PUTIH Wireless Whitening Light
Hobi dan Mainan
ORCA MAGMA01 vs Donner DAG-1CE: Gitar Ringkas atau Full Size, Mana Lebih Pas?
Kesehatan
Suplemen Harian Jaga Imun Tubuh di Tengah Aktivitas Padat! Review Swisse Ultiboost Vitamin C 1000mg
Pakaian Pria
Corduroy Jacket Jadi Outer Andalan Cowok yang Ingin Tampilan Casual Modern
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Foto: Gaya Denada Sambut 2026, Seksi Pakai Gaun Menerawang
Mantan Desainer Marni Pindah ke GU Uniqlo, Siap Rancang Fashion Ramah Kantong
Viral Verificator
Bikin Melongo! Viral Aksi Emak-emak Pungut Sayur Sisa di Pasar untuk Dimasak
Ramalan Zodiak 11 Januari: Aquarius Buat Rencana, Pisces Banyak Peluang











































