Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Cerita Menyentuh Veronica, Pendiri Yayasan Cinta Anak Bangsa

wolipop
Senin, 09 Feb 2015 16:15 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Dok. Pribadi
Jakarta - Setiap ibu tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, begitu juga halnya dengan Veronica Colondam. Ibu tiga anak ini khawatir pertumbuhan sang buah hati terganggu akibat pergaulan bebas dan obat-obatan terlarang karena terjerumus ke dalam lingkungan sosial yang tidak sehat.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, ia mendirikan yayasan sosial bernama Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) pada 1999 dengan memfokuskan tujuan awal untuk mengedukasi remaja tentang bahaya narkoba. Yayasan ini berdiri sebagai bentuk cintanya kepada anak-anak Indonesia dan kerinduannya akan remaja muda yang cerdas dan memiliki banyak ide cemerlang.

Bersama beberapa rekan yang membantunya, wanita lulusan S-2 ilmu sosial di Imperial College London ini mengadakan seminar ke beberapa sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya kepada remaja SMP dan SMA yang rentan akan pergaulan bebas. Bak gayung bersambut, respon yang diterima bernada positif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring berjalannya waktu, fokus utamanya pun melebar meliputi bidang pendidikan dan ekonomi. Pada 2003, ia mengadakan program Rumah Belajar, yaitu pendidikan gratis yang diberikan kepada anak-anak kurang mampu. Mereka diberikan pengajaran sesuai dengan kemampuan dan keinginannya, hingga akhirnya bisa berkembang dengan sendirinya.

Dalam Cewequat International Forum 2015 yang diadakan di Kuningan City, Jakarta Selata, Sabtu (7/2/2015) lalu, wanita yang akrab disapa Vera ini menceritakan tentang salah satu anak didiknya yang kini sukses sebagai ahli teknisi di salah satu perusahaan elektronik asal Korea Selatan, Samsung. "Dulu dia ini pembantu rumah tangga, tapi majikannya memberi izin untuk belajar di Rumah Belajar. Akhirnya dia ambil ujian paket B dan paket C. Terus kita sekolahkan lagi di bidang elektro. Sekarang akhirnya jadi salah satu teknisi terpercaya di Samsung," cerita Vera penuh semangat.

Lewat kerja kerasnya dan perjuangan tak kenal lelah ini pula, ia berhasil membantu para wanita yang kurang mampu dari segi finansial untuk menyejahterakan keluarganya lewat program Microfinance Ladies. Melalui dana yang didapatkan dari kemitraan atau sponsor, YCAB membantu wanita-wanita yang menjadi penopang hidup keluarga dengan memberikan pinjaman sebanyak Rp 1 juta sebagai modal untuk memulai usaha.

Modal itu kemudian harus dikembalikan secara tunai atau melalui cicilan selama lima bulan dan baru boleh meminjam lagi setelah cicilan sudah lunas. Namun program ini tidak seperti program microfinance pada umumnya, ada satu syarat yang harus dipenuhi bagi para peminjam modal.

"Kita akan pinjamkan modal asalkan dia punya anak yang masih sekolah. Pendidikan itu syarat utama kita, karena dari modal yang kita kasih, kalau sudah ada untungnya kan bisa dipakai untuk bayar sekolah anak," katanya lagi. Tetapi jika para wanita tersebut tak sanggup untuk membiayai pendidikan anaknya, Vera menawarkan bantuan lain. Anak-anak tersebut bisa belajar di Rumah Belajar YCAB.

Program yang dimulai sejak 2009 ini telah berhasil membantu setidaknya lebih dari 140 ribu wanita di seluruh Indonesia untuk menyejahterakan keluarganya. Bahkan masih ada yang setia menjadi anggota hingga kini. "Saya ingat ada satu ibu-ibu, dia jualan bakso keliling dengan tongkat karena kakinya yang satu diamputasi. Ia berjualan untuk menyekolahkan 12 anaknya dan sekarang anak pertamanya sudah bisa kuliah," tambahnya.

Meski sudah 16 tahun berkecimpung di dunia sosial, wanita yang menerima banyak penghargaan di bidang kemanusiaan ini pernah merasa ingin menyerah dalam melakukan aksi sosialnya, terutama di awal tahun YCAB berdiri. Tak sedikit penolakan yang diterima dan seringkali dipandang sebelah mata. Namun karena kecintaannya kepada anak-anak Indonesia, Vera mengurungkan niatnya. Ia justru bangkit melawan pikiran negatif yang bersarang di benaknya.

"YCAB ini adalah bentuk dari perjalanan spiritualku. Aku ingin belajar untuk memaknai hidup yang sebenarnya. Kalau gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Kalau aku wafat, aku ingin diingat sebagai seseorang yang sudah berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia," tutupnya.

(int/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads