Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Intimate Interview

Ira Puspadewi, Dirut Sarinah yang Lepas Jabatan di GAP Demi Industri Lokal

wolipop
Selasa, 30 Des 2014 10:18 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Mohammad Abduh/Wolipop
Jakarta -

Nama Ira Puspadewi sempat mendapat sorotan hangat saat dirinya dipilih oleh menteri BUMN Dahlan Iskan sebagai direktur utama PT Sarinah pada Juli lalu. Wanita 47 tahun tersebut didaulat untuk menggantikan posisi direktur terdahulu yang masa jabatannya telah usai sejak Maret.

Padahal sebelumnya, wanita yang akrab disapa Ira ini menjabat sebagai direktur kawasan Asia Pasifik di GAP Inc., sebuah perusahaan garmen terkemuka di Amerika yang berbasis di San Fransisco. Sejumlah merek pakaian ternama seperti GAP, Banana Republic dan Old Navy termasuk di dalamnya.

Tingginya mobilitas dan tuntutan pekerjaan yang telah dilakoninya selama 17,5 tahun mengharuskannya bekerja secara nomaden mengunjungi negara-negara di kawasan Asia. Dalam dua minggu, dirinya bisa berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari Filipina, Vietnam, Thailand, lalu Indonesia dan kembali lagi ke Amerika. Lantas apa yang membuat Ira rela melepas jabatannya dan mantap kembali ke Indonesia?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ibu dua anak ini menuturkan, 17,5 tahun bekerja di luar negeri bukanlah waktu yang lama. Gejolak hati yang berkecamuk di dalam diri seolah mengisyaratkannya untuk pulang ke Indonesia pada Maret lalu.

"Selama saya bekerja di luar, pastinya saya belajar banyak hal ya. Di antara itu semua saya rasa ada yang berguna untuk Indonesia. Jadi saya pikir, inilah waktu yang tepat untuk mewujudkannya," cerita Ira saat berbincang dengan Wolipop di kantornya, Gedung Sarinah lantai 10, Jakarta Pusat, Rabu (24/12/2014).

Walaupun bekerja di negara sendiri, wanita yang sedang menjalani studi S3 nya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengaku proses yang dilaluinya untuk menduduki posisi tertinggi itu tidaklah mudah. Dirinya harus menjalani serangkaian tes, mulai dari psikotes, manajemen, hingga studi kasus yang dilakukan dari pukul 8 pagi hingga 7 malam. Proses yang dilaluinya pun memakan waktu lebih dari tiga bulan.

Satu hal yang diingat Ira saat hari pertama dirinya menginjakkan kaki di Sarinah, ia sempat merasakan suasana yang berbeda dengan perusahaan sebelumnya. Salah satu yang dirasakannya adalah perbedaan kultur dan prosedur yang berlaku. Namun wanita yang hobi olahraga ini menganggap perbedaan tersebut adalah hal yang wajar karena setiap perusahaan mempunyai budaya yang berbeda.

"Kalau di perusahaan multinasional, peraturannya tidak terlalu ketat ya, karena ada etikanya. Ruang geraknya juga lebih luas dan berkembangnya lebih cepat. Tetapi kalau BUMN, ketentuannya lebih detail. Sebenarnya ini bagus, karena perusahaan negara kan milik rakyat jadi akuntabilitasnya tinggi," paparnya lagi.

Perbedaan ini juga bukan merupakan suatu halangan baginya. Justru dirinya merasa mempunyai tantangan baru untuk mengelola aset negara agar lebih maju dan berkembang, meskipun dirinya sama sekali belum pernah bekerja di perusahaan Indonesia. Ira juga tampak antusias dengan memiliki partner kerja yang semuanya orang Indonesia, karena selama ini timnya berasal dari berbagai negara seperti China, Bangladesh dan Srilanka.

Walaupun baru lima bulan menjabat, penggemar buku The Alchemist karangan Paulo Coelho ini sudah menyiapkan langkah dan upaya dalam memajukan industri kreatif Indonesia. Rencana jangka panjang yang saat ini mulai dijalankannya adalah mempersiapkan Sarinah sebagai wajah Indonesia dengan mental yang kuat untuk bersaing di pasar global.

Ira menginginkan ke depannya Sarinah bisa mewadahi merek dagang lokal yang sudah siap untuk mendunia. "Contoh gampangnya gini, sekarang ini Sarinah dikenal dengan restoran cepat sajinya, mungkin nanti ke depannya kita akan menghadirkan restoran tradisional khas Indonesia yang bisa menarik perhatian para wisatawan asing," ringkasnya.

(int/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads