Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Do's and Don'ts Agar Jadi Penerjemah yang Andal

wolipop
Sabtu, 06 Des 2014 13:19 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Rizki, Andina (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Mahir berbahasa asing memang menjadi salah satu kemampuan yang dituntut di industri kerja sekarang ini. Dan bagi mereka yang bisa berbicara lebih dari satu bahasa asing tentu saja memiliki poin plus tersendiri. Orang-orang yang lancar dalam beberapa bahasa juga tak jarang turun menjadi interpeter atau penerjemah.

Profesi penerjemah sendiri tentu saja bukan peke‎rjaan yang mudah. Dalam menggeluti bidang ini, dibutuhkan daya tangkap yang tinggi serta dedikasi. Ilmu bahasa yang terus berkembang membuat mereka juga harus terus belajar. Tertarik menjadi seorang penerjemah? Intip do's and dont's berikut ini yang disarankan langsung oleh para interpeter profesional:
 
Do's:

1. Punya Rasa Penasaran
Memiliki rasa penasaran yang tinggi sebenarnya dibutuhkan tak hanya pada pekerjaan penerjemah. Seseorang yang selalu ingin tahu lebih mengenai bidang yang digeluti biasanya akan lebih cepat ahli. Begitu pun untuk menjadi interpeter yang baik. Karena ilmu bahasa cenderung dinamis, para penerjemah wajib terus memperbarui kosa kata mereka. Andina Margaretha, seorang penerjemah bahasa Prancis pun membenarkan hal tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

‎"Ketika kita berhadapan dengan naskah yang kita nggak tahu, ya cari tahu dulu. Kita harus penasaran. Kalaupun kita tahu, kita harus cari tahu lebih dalam. Rasa ingin tahu itu harus ada. Kalau kita tahu jawabannya apa, kita harus cross check," ungkap ibu anak satu tersebut ketika diwawancara Wolipop Summarecon Mall Bekasi beberapa waktu lalu.

2. Fokus
Orang yang mahir berbahasa asing tak jarang juga ingin mempelajari bahasa lain. Hal tersebut kadang membuat mereka jadi kurang fokus dalam menguasai satu bahasa. Untuk menjadi penerjemah yang profesional sebaiknya ‎pembelajaran sebuah bahasa dilakukan satu per satu. "Harus fokus juga sama bahasa yang dipelajari agar lebih menyerap ilmunya," tambah Andina.

3. Memberi Kepuasan
Interpreter adalah profesi penyedia jasa. Hal tersebut membuat para penerjemah diharapkan dapat memberi layanan yang baik kepada klien. Rizki Apriansyah, seorang penerjemah bahasa Turki menilai seorang interpreter harus memberi kepuasan pada para klien atau murid. Usahakan tidak membuat mereka kecewa dengan menampilkan sikap yang kurang profesional.

Don'ts:

1. Merasa Diri Pintar
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, menjadi seorang ahli bahasa menuntut para penerjemah untuk selalu memperbarui ilmu. Untuk itu, hindari bersikap seperti sudah tahu semua hal. Meskipun sudah sangat ahli, interpeter diharapkan untuk melakukan pemeriksaan kembali, terutama ketika tengah menerjemahkan buku, film, dan lain-lain. Teruslah pelajari kosa kata serta tata bahasa. Andina Margaretha pun menyarankan agar penerjemah tak hanya belajar dari buku.

‎"Suamiku nanya ngapain sih aku sering nonton You Tube, nggak jelas. Aku bilang, aku sekalian belajar. Kalau aku dengerin orang nyanyi bahasa Prancis, sekalian dengerin kalimatnya. Oh, ini kata-kata slang, oh ini grammar-nya jalan," jelas lulusan Sastra Prancis Universitas Gajah Mada itu.

2. Sombong
Ahli dalam berbahasa asing bukan kemampuan yang dimiliki semua orang. Otomatis seorang penerjemah dikenal sebagai individu yang pintar. Meski begitu, sebagai interpreter yang baik hindarilah bersikap sombong. Terutama dalam hal membagi ilmu. Ketika mengajarkan bahasa kepada orang lain hindari bersikap pelit dalam menularkan informasi. Orang yang banyak mentransfer pengetahuan justru akan menyerap ilmu yang lebih banyak. Seperti Rizki yang selalu mengajar bahasa Turki kepada para murid dengan ikhlas.

"Yang terpenting untuk saya adalah saya dapat berguna untuk siapapun, apalagi untuk murid-murid saya. Saya mengajar bukan hanya karena materi semata, tapi Insyaa Allah selama mereka menggunakan bahasa Turki, apalagi untuk kebaikan, maka pahalanya akan terus mengalir sampai akhir zaman," tutur pria lulusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Gümüşsoy, Ümraniye, Istanbul, Turki tersebut saat diwawancara via email beberapa waktu lalu.

3. Membuat Kecewa
‎Ketika menerjemahkan atau mengajar, para interpreter diharapkan untuk tidak membuat kecewa para kliennya. Sebenarnya dalam mengartikan bahasa asing, penerjemah tidak dituntut untuk sempurna. Yang paling penting, pendengar atau pembaca bisa memahami konten dengan jelas serta tepat. "Sebenernya tidak ada terjemahan yang sempurna, adanya terjemahan yang baik, yang pas, yang enak dibacam," jelas Andrina.




(ami/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads