Ini Alasan Bos Wanita Lebih Rentan Mengalami Stres Daripada Pria
Rasa tertekan memang wajar dialami seorang atasan. Banyaknya tugas serta tanggung jawab yang dibebankan kepadanya membuat bos menjadi banyak pikiran. Alhasil, mereka pun rentan menderita stres berlebihan.
Berbicara mengenai rasa stres para atasan, sebuah penelitian menunjukkan jika perasaan tertekan yang dialami bos pria dan bos wanita ternyata berbeda. Riset yang dilakukan oleh University of Texas tersebut pun membuktikan bahwa atasan wanita ternyata lebih rentan mengalami stres daripada pria. Mengapa?
Pemimpin riset,Tetyana Pudrovska mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena wanita memiliki beban sosial yang lebih berat dalam lingkungan pekerjaan. Ia harus menghadapi beban interpersonal, interaksi sosial, stereotype, atau penilaian tertentu dari rekan, bawahan, serta atasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr. Ruth Sealy dari City University di London juga mengatakan hal yang serupa. Ia membenarkan jika wanita kerap terperangkap dalam gagasan yang salah tentang sosok pemimpin yang baik. Ketika ia bertindak sedikit maskulin, atasan wanita akan dicap tidak memiliki sikap kewanitaan. Namun jika bos wanita memiliki karakter yang terlalu feminin, para kolega tidak akan percaya ia akan menjadi pemimpin yang baik. Mereka pun jadi kerap serba salah.
"Karena kita berpendapat bahwa sifat natural lelaki adalah berkompetisi sebagai pemimpin, para wanita sering bekerja lebih giat untuk mencapai posisi tersebut, hanya untuk menemukan bahwa kalaupun mereka sudah mencapai posisi atas, 'hak' mereka untuk status tersebut pun masih dipertanyakan," ujar Ruth kepada BBC.
Untuk itu, Ruth memberi saran jika sikap kepemimpinan wanita harus dibuat senatural mungkin seperti kepimpinan pria. Agar tidak kikuk dalam pemimipin, wanita tidak perlu memikirkan pendapat orang lain. Berusahalah menjadi diri sendiri tanpa harus meninggalkan sikap feminitas atau ragu untuk bergaya maskulin.
Sementara menurut Dr Gijsbert Stoet dari University of Glasgow, para perusahaan juga sebaiknya mencari jalan agar para pekerjanya dapat mengatur rasa tertekan seperti menyediakan konselor. Perusahaan juga bisa menyediakan permainan atau kegiatan yang membuat karyawan dapat melupakan rasa stresnya sementara.
(ami/aln)











































