Liputan Khusus Fashion Stylist

Mengenal Pekerjaan Fashion Stylist yang Masih Dipandang Sebelah Mata

- wolipop Jumat, 01 Nov 2013 08:07 WIB
Foto: Dok. Pribadi Ajeng
Jakarta - Fashion stylist beberapa tahun belakangan pekerjaan ini mulai banyak digeluti anak muda. Apa sebenarnya pekerjaan yang dilakukan seorang fashion stylist? Seberapa menjanjikan pekerjaan yang masih dipandang sebelah mata ini?

Ajeng Dewi Swastiari merupakan salah satu fashion stylist Indonesia yang sudah tujuh tahun merasakan pahit-manisnya bekerja di bidang tersebut. Dia memulai karirnya sebagai personal fashion stylist dari penyanyi Titi DJ. Pekerjaan pertamanya saat itu belum sampai menentukan konsep busana dari sang penyanyi. Ketika itu dia lebih memberikan saran baju seperti apa yang cocok dikenakan Titi.

Ajeng mengatakan sebenarnya profesi personal fashion stylist di Indonesia masih rancu. Hal itu karena ketika bekerja, dia menjadi memiliki hubungan personal dengan kliennya. Sementara itu jika berkaca pada sosok personal fashion stylist dunia seperti Rachel Zoe, hubungan pribadi justru tidak ada.

"Dia sudah sampai di mana dia hanya menjadi creative director dari Rachel Zoe Studio. Nggak perlu ketemu, cuma meeting sekali, brainstroming sekali, setelah itu asisten yang jalan," ujar wanita lulusan Lasalle College jurusan Fashion Stylist and Illustration itu.

Pada dasarnya, menurut Ajeng, dari yang pernah dipelajarinya saat kuliah, pekerjaan seorang fashion stylist adalah menentukan konsep. Konsep itu sendiri dibuat dengan melihat dari karakter klien si fashion stylist. Saat menentukan konsep ini, penata gaya juga harus berhubungan dengan pihak ketiga, misalnya orang yang mempekerjakan si selebrti atau penyanyi untuk suatu acara.

"Misalnya penyanyi ya. Klien meminta bajunya seperti ini, konsepnya seperti ini, warna, imej dan modelnya begini. Dari situ aku harus menyatukan ide. Aku harus discuss sama penyanyi aku. Kita mau bagaimana, pinjam, beli, bikin atau pakai yang sudah ada. Sebetulnya lebih the whole ideas of their image head to toe," ujar Ajeng saat berbincang dengan wolipop di Union, Street Gallery, Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2013).

Dalam menentukan konsep tersebut, Ajeng menjadi terlibat hubungan personal dengan kliennya. "Karena kehidupan penyanyi di Indonesia sangatlah personal. Aku aja yang sudah tujuh tahun belum bisa membatasi antara teman atau kakak karena aku harus mengenal emosi mereka, get into their charracter, eyes, life, baru dari situ aku bisa break down baju seperti apa yang akan dipakai selanjutnya," urainya.

Meskipun masih rancu, Ajeng tidak mempermasalahkannya. Menurutnya justru dengan adanya kedekatan emosi dengan kliennya dia bisa menemukan chemistri di antara mereka. Dengan adanya chemistry ini, dia jadi lebih muda menentukan konsep busana kliennya yang kebanyakan penyanyi.

Tujuh tahun bekerja sebagai fashion stylist, wanita kelahiran 11 Mei 1984 ini melihat sekarang profesi tersebut semakin berkembang. Semakin banyak orang tertarik menggeluti pekerjaan tersebut. Kemunculan fashion stylist-fashion stylist baru ini tidak membuat Ajeng sedih karena semakin banyak saingan.

"Aku malah senang. Budaya styling di Indonesia masih jarang. Orang-orang belum bisa menghargai profesi ini," kata wanita yang menjadi personal fashion stylist Titi DJ itu.

Anggapan sebelah mata pada profesi fashion stylist juga diungkapkan Dewi Utari. Wanita yang sudah 10 tahun bekerja di bidang penata gaya ini merasa orang-orang sering melihat pekerjaannya dari sisi glamour saja. Padahal kenyataannya, terutama di awal karir, pekerjaan tersebut sangat berat.

"Benar-benar aku mulai dari awal nggak punya pengalaman apapun. Dari mulai pinjam baju, balikin baju, beli makan, nge-laundry, setting pemotretan sampai produksi. Ibaratnya pekerjaan kuli aku lakukan. Jadi kalau orang-orang bilang pekerjaan stylist itu glamour, the trully stylist is not," jelas Dewi.

Setiap pekerjaan yang dijalani dengan kerja keras dan ketekunan pastinya akan membuahkan hasil positif. Hal ini pun dirasakan Ajeng dan Dewi. Pekerjaan sebagai seorang fashion stylist mampu membuat mereka membiayai hidup mereka sendiri, terutama untuk kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan.

"Aku jadi stylist karena suka bukan karena uang. Jangan mikir uangnya banyak. Jadi dulu Rp 500 ribu pun aku ambil. Sampai akhirnya Tuhan kasih aku rezeki banyak, ternyata bisa juga ya dapat segini. Jadi orang juga akan menghargai karya yang bagus. Bahkan di atas aku masih banyak," tuturnya.




(eny/eny)