Intimate Interview
Ratih Ibrahim dan Keinginan Membangun Bangsa Melalui Profesi Psikolog
wolipop
Rabu, 03 Jul 2013 13:23 WIB
Jakarta
-
Sempat ditertawakan, Ratih Ibrahim tidak pernah ragu untuk memilih profesi psikolog. Keyakinannya itu berbuah manis karena kini profesi tersebut membawa kesuksesan untuknya. Bukan hanya sukses, Ratih pun ingin profesinya bisa jadi salah satu caranya untuk ikut membangun bangsa.
Keinginan untuk berguna bagi orang lain ini sudah ada dalam diri Ratih sejak ia lulus dari jurusan psikologi Universitas Indonesia pada 1992. Setelah lulus, dia tidak langsung menjadi psikolog. Wanita berambut pendek itu memilih menjadi guru.
"Itu adalah bagian dari idealisme, bahwa saya harus mendedikasikan diri saya untuk pendidikan," ujarnya saat berbincang dengan wolipop di kantornya yang homey PT Personal Growth, Jl. Taman Aries, Jakarta Barat belum lama ini.
Idealisme untuk mendidik itu terus dipegangnya hingga ia berhenti mengajar karena hamil hingga kemudian mengurus anak. Setelah anaknya cukup besar, Ratih merasa dia harus melakukan sesuatu agar idealismenya tersebut tetap bisa terwujud.
"Barulah saya membangun brand Ratih Ibrahim plus Personal Growth. Ini adalah karya yang didekasikan untuk membangun untuk berkontribusi membangun kesehatan dan pendidikan kesehatan mental dan pendidikan masyarakat Indonesia," urai Ratih.
Personal Growth didirikannya bersama temannya Ratih Pramanik sejak 2003. Lembaga konseling yang didirikan Ratih itu kemudian berubah menjadi Perseroan Terbatas pada 2008. Personal Growth kini telah berkembang dengan memberikan layanan tidak hanya pada individu tapi juga berbagai perusahaan ternama.
Bagi Ratih bekerja sebagai seorang psikolog suatu hal yang sangat menyenangkan. Dia selalu bisa bertemu dengan orang-orang baru mulai dari klien hingga teman yang memiliki berbagai cerita menarik saat curhat padanya.
"Kasus-kasus yang sampai kepada saya itu kasus-kasus yang sangat bervariasi yang kadang-kadang mungkin kalo kita bukan dalam kapasitas sebagai seorang psikolog, kita nggak akan berjumpa dengan kasus yang sedemikian uniknya," cerita wanita yang juga kerap menjadi dosen di sejumlah universitas itu.
Selain mendapatkan berbagai cerita unik, yang juga membuat Ratih senang menjalani pekerjaannya adalah ketika orang percaya padanya. Dia merasa mendapatkan suatu kehormatan yang luar biasa ketika banyak sekali klien yang mempercayakan rahasia mereka padanya.
(eny/eny)
Keinginan untuk berguna bagi orang lain ini sudah ada dalam diri Ratih sejak ia lulus dari jurusan psikologi Universitas Indonesia pada 1992. Setelah lulus, dia tidak langsung menjadi psikolog. Wanita berambut pendek itu memilih menjadi guru.
"Itu adalah bagian dari idealisme, bahwa saya harus mendedikasikan diri saya untuk pendidikan," ujarnya saat berbincang dengan wolipop di kantornya yang homey PT Personal Growth, Jl. Taman Aries, Jakarta Barat belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Barulah saya membangun brand Ratih Ibrahim plus Personal Growth. Ini adalah karya yang didekasikan untuk membangun untuk berkontribusi membangun kesehatan dan pendidikan kesehatan mental dan pendidikan masyarakat Indonesia," urai Ratih.
Personal Growth didirikannya bersama temannya Ratih Pramanik sejak 2003. Lembaga konseling yang didirikan Ratih itu kemudian berubah menjadi Perseroan Terbatas pada 2008. Personal Growth kini telah berkembang dengan memberikan layanan tidak hanya pada individu tapi juga berbagai perusahaan ternama.
Bagi Ratih bekerja sebagai seorang psikolog suatu hal yang sangat menyenangkan. Dia selalu bisa bertemu dengan orang-orang baru mulai dari klien hingga teman yang memiliki berbagai cerita menarik saat curhat padanya.
"Kasus-kasus yang sampai kepada saya itu kasus-kasus yang sangat bervariasi yang kadang-kadang mungkin kalo kita bukan dalam kapasitas sebagai seorang psikolog, kita nggak akan berjumpa dengan kasus yang sedemikian uniknya," cerita wanita yang juga kerap menjadi dosen di sejumlah universitas itu.
Selain mendapatkan berbagai cerita unik, yang juga membuat Ratih senang menjalani pekerjaannya adalah ketika orang percaya padanya. Dia merasa mendapatkan suatu kehormatan yang luar biasa ketika banyak sekali klien yang mempercayakan rahasia mereka padanya.
(eny/eny)










































