Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Calon Karyawan Rela Operasi Plastik Demi Lulus Wawancara Kerja

wolipop
Kamis, 14 Feb 2013 19:08 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Wawancara kerja merupakan momen penting untuk menentukan apakah Anda layak atau tidak diterima di perusahaan yang Anda lamar. Banyak yang mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari intelektualitas sampai dengan penampilan. Dan ternyata, tak sedikit orang rela melakukan operasi plastik demi lulus wawancara kerja.

Para dokter mengatakan bahwa mereka mendapatkan permintaan lebih banyak dari pasiennya yang merupakan calon karyawan, untuk melakukan operasi hidung, menghilangkan bekas luka, menghapus tato, dan lain sebagainya. Sebab, bagi kalangan muda hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan tampilan yang sempurna. Dengan begitu mereka bisa menciptakan kesan yang baik pada saat wawancara kerja.

"Selama tiga tahun terakhir, konsep operasi plastik telah berubah. Kebutuhan untuk terlihat baik demi mendapatkan pekerjaan merupakan slah satu alasannya," ungkap Sunil Choudhary, direktur bedah estetika di Max Super-speciality Hospital, seperti dikutip dari Times of India.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia pun mengatakan bahwa sebagian besar pasien yang datang kepadanya untuk meminta perubahan tersebut karena para calon karyawan itu ingin masuk kerja di bidang marketing, public relations, komunikasi dan human resources. Dengan adanya persaingan yang semakin ketat, kaum pria dan wanita rela melakukan semua yang mereka bisa untuk mendapatkan keuntungan lebih bagi masa depan pekerjaan mereka.

Mereka juga percaya, memiliki wajah yang menyenangkan dan cantik, mampu membantu mereka meraih kesan pertama yang baik untuk dapat diterima di perusahaan yang diinginkan tersebut.

"Mayoritas kasus, kami harus melakukan perubahan pada penampilan wajah pria dengan dua tuntutan utama yaitu penghapusan bekas luka yang buruk, misalnya tanda jahitan di pipi atau dahi, serta perbaikan hidung yang bengkok," kata Choudhary.

Bekas luka atau hidung bengkok memang bisa saja terjadi karena kecelakaan. Tapi pihak perusahaan bisa beranggapan lain. Misalnya karena terlibat perkelahian, dan sebagainya.

"Alasan untuk bekas luka atau hidung bengkok bisa karena kecelakaan atau jatuh, tapi mereka merasa itu akan mengasosiasikan mereka sebagai seseorang yang suka perkelahian, sebab itu bisa mendapatkan poin negatif," tambahnya.

Choudhary pun menambahkan, bahwa bekas luka itu tidak dapat dihapus, tetapi dibuat menjadi terlihat lebih baik. Sedangkan untuk pasien wanita, mayoritas mereka ingin operasi plastik agar wajahnya terlihat lebih menarik.

"Jika seseorang memiliki hidung yang terkesan maskulin atau bulat, ia akan meminta untuk membuatnya lebih lembut. Mereka juga meminta wajah yang tirus untuk bisa menaikkan tulang pipi. Dan beberapa wanita lainnya meminta untuk operasi payudara agar terlihat lebih matang. Hal ini juga tentunya untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka, " tutur Choudhary.

Sementara penghapusan tato, ini merupakan permintaan yang paling populer.

"Tato masih dianggap stigma dan persepsi bahwa seseorang yang memiliki tato tidak bisa dianggap serius dan tidak meninggalkan kesan yang baik," ungkap Sahin Nooreyezdan, senior konsultan di departemen bedah kosmetik, di Apollo Hospital.

Sunanda Thakur, seorang seniman pun juga setuju dengan pernyataan tersebut. "Saya baru-baru ini punya klien wanita muda yang menginginkan tato di belakang lehernya. Tapi ia menjelaskan secara spesifik bahwa tatonya tersebut yang harus rendah dan tidak terlihat di atas kerah baju kantornya," jelas Thakur.

Sebelum menyetujui permintaan pasien, Dr. Sunil Choudhary ternyata melakukan evaluasi terlebih dahulu selama 30 - 45 menit kepada pasien. Hal ini penting untuk memastikan apakah pasien meminta dalam keadaan normal atau hanya karena hal lain.

"Saya dan pasien duduk bersama selama 30 - 45 menit untuk mengevaluasi bahwa kesadaran mereka berada dalam kisaran normal. Jika seseorang memberikan alasannya karena hidupnya berantakan, mereka tidak cukup matang secara mental,"kata Choudhary.

"Ketika seseorang terus-menerus menemukan kesalahan dengan dirinya sendiri, itu disebut Body Dysmorphic syndrome dan kami merujuk mereka ke psikolog. Jika pasien masih di bawah umur, kami membicarakannya dengan orang tua mereka dan jika diperlukan, rujuk ke dokter anak dan psikolog juga," tutupnya.

(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads