Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

48% Orang Tidak Tahu Mengapa Mereka Menghamburkan Uang

Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 03 Okt 2012 17:10 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Tidak sedikit wanita atau pria yang gemar berbelanja. Mereka senang membeli berbagai barang yang diinginkan dan sesuai kebutuhan. Namun menurut survei terbaru, ada 48 persen pembeli yang tidak tahu alasan mereka menghambur-hamburkan uang untuk berbelanja.

Menurut penelitian, juga terdapat 68 persen pembeli yang sering terpengaruh oleh potongan harga atau diskon. Hal itu telah diungkapkan dalam Oxygen Media seri My Shopping Addiction yang akan dimuat pada 15 Oktober 2012. Tidak hanya itu saja, hasil survei pun mengatakan kalau dua per tiga atau 74 persen dari 1.000 orang dewasa mengatakan bahwa budaya materialistislah yang membuat mereka berperilaku konsumtif.

"Kebanyakan orang hanya sadar kalau mereka konsumtif daripada mencari tahu alasan yang jelas mengapa membuang-buang uang cuma untuk memenuhi hasrat belanja," ungkap Dr. Ramani Durvasula, seorang profesor psikologi di California State University, Los Angeles.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebiasaan belanja tersebut memang selalu dipertahankan dengan berbagai cara, baik mengumpulkan banyak kartu kredit, bekerja lembur, ataupun sengaja telat membayar tagihan utang mereka.

Bagi wanita berumur 18 hingga 34 tahun, ada sekitar 73 persen yang kecanduan belanja. Mereka lebih sering belanja tunai untuk membeli make up, pakaian, dan sepatu. Berbeda dengan pria, mereka lebih suka menukarkan uangnya dengan barang-barang mahal, seperti mobil, aksesori motor, dan gadget. Bahkan sebagian dari wanita dan pria tidak memakai barang-barang itu.

Menurut American Psychological Association, ada sekitar 15 juta penduduk yang 'menderita' kecanduan belanja. "Orang-orang yang hasrat belanjanya terlalu besar tidak dapat mengontrol diri sendiri. Mereka tidak bisa mengatakan 'tidak' saat ingin memenuhi keinginan sesaat, dan itu membuat hidup mereka berantakan," ujar Dr David Tolin, seorang profesor psikiatri di Universitas Yale, yang dikutip dari Dailymail.

Salah satu contoh wanita yang sangat kecanduan belanja adalah Roshanda Hill. Dia menghabiskan menghabiskan US$ 400 atau sekitar Rp 4 juta per minggu untuk belanja. Begitu pula dengan wanita bernama Marceia Hawkins, seorang shopaholic yang sedang menyicil hutangnya setelah menimbun US$ 30.000 atau Rp 287 juta dari koleksi-koleksi sepatunya.

(fer/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads