Liputan Khusus
Pekerjaan PR Gampang & Cuma Senang-senang, Eits Siapa Bilang?
wolipop
Jumat, 31 Agu 2012 08:32 WIB
Jakarta
-
Menjadi seorang Public Relations (PR) tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak kendala yang harus dihadapi, terutama dalam mengelola perasaan. Anda harus selalu terlihat ramah dan baik di hadapan media dan masyarakat walaupun sedang ada masalah atau hal lain yang mengganggu pikiran. Belum lagi ditambah anggapan yang kurang berkenaan mengenai profesi PR.
"Belum ada pemahaman yang sebenarnya tentang profesi PR. Seringkali divisi lain dalam perusahaan menganggap kalau pekerjaan PR hanya senang-senang, padahal pekerjaannya sama-sama berat. Kita harus berpikir strategi komunikasi ke media atau publik," ujar Ratu Maulia Ommaya, seorang public relation dari The Body Shop Indonesia yang diwawancarai oleh wolipop melalui telepon belum lama ini.
Ommaya menambahkan sekarang ini juga tak sedikit perusahaan mencari PR baru, namun yang kemudian diterima bekerja lebih banyak bukan dari jurusan PR atau komunikasi. "Banyak yang dari pertanian ke PR, dokter ke PR, karena menganggap PR itu hanya perlu penampilan dan pintar ngomong," tuturnya.
Pemahaman salah lainnya juga disebabkan karena adanya beberapa perusahaan yang membuka lowongan untuk mencari PR, namun kenyataannya setelah bekerja tugasnya ternyata menjual produk. Hal inilah yang menimbulkan pemahaman kalau target seorang PR adalah jualan atau sales. Padahal sebenarnya tugas seorang PR bukan itu.
"PR nggak selalu pinter ngomong tapi nggak ada isinya, nggak nyampe pesannya ke pembaca. Aku dituntut lebih strategis daripada lebih sekadar hanya menyusun strateginya saja. Banyak orang nggak tahu berpikir cara strategis bagi seorang PR yang profesional," urai Ommaya.
Maurin Handayani, seorang communication consultant bagian Media Expert di Inke Maris menambahkan, selain pemahaman yang salah, kendala lainnya dari seorang PR itu seringkali berasal dari pihak klien atau publik. Contohnya komplain atau salah paham. Jika ada komplain harus dijawab dan diberikan pengertian serta ada perbaikan dari perusahaan. Namun, kendala terberat adalah saat membuat berita yang negatif menjadi positif tanpa harus berbohong.
"Kalau ada masalah dalam perusahaan coba kita konsultasikan bagaimana hal ini bisa dipecahkan. Setelah membuat strategi akan masaalah tersebut, kemudian dikomunikasikan kepada teman-teman,” ujar Maurin yang mempunyai hobi traveling.
Kendala menghadapi komplain ini juga dihadapi Herlina, Public Relations dari Shy Rooftop. Sebagai PR dari sebuah kafe, dia harus bisa menghadapi komplain tersebut tanpa harus mengurangi kepercayaan pelanggan atau masyarakat terhadap tempat kerjanya.
"Kalau kafe misalnya berhubungan dengan service, makanan, sebagai contoh, ada masalah dengan makanan, itukan biasanya ada juga yang mereka minta bagaimana penanganan dari kita, si customer ini merasa dirugikan. Nah, si PR buat dia biar nggak merasa dirugikan, perbaiki produk yang sudah ada, kita juga harus meyakinkan kepada klien lain kalau ini nggak akan terulang lagi," urai Herlina saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Kamis (30/8/2012).
Masih tertarik bergelut di dunia public relation? Seorang PR tidak cuma pintar berbicara saja, tapi harus cerdas dalam membuat strategi komunikasi. Wanita-wanita yang telah sukses menjadi PR mewakili brand ternama itu pun mengatakan, semakin tinggi posisi seorang PR semakin berat tugasnya, mulai dari membuat program hingga mencapai tujuan, yaitu membentuk opini publik yang sesuai dengan keinginan perusahaan.
"Sebagai PR, aku harus kasih mindset ke mereka mulai dari tren, kemudian pengetahuannya, nggak cuma melihat dari sisi produknya saja. Berbeda dengan markom, ya. Dia lebih ke marketing karena markom yang melakukan iklan,” tutup Ommaya diakhir pembicaraan dengan wolipop.
(eny/kik)
"Belum ada pemahaman yang sebenarnya tentang profesi PR. Seringkali divisi lain dalam perusahaan menganggap kalau pekerjaan PR hanya senang-senang, padahal pekerjaannya sama-sama berat. Kita harus berpikir strategi komunikasi ke media atau publik," ujar Ratu Maulia Ommaya, seorang public relation dari The Body Shop Indonesia yang diwawancarai oleh wolipop melalui telepon belum lama ini.
Ommaya menambahkan sekarang ini juga tak sedikit perusahaan mencari PR baru, namun yang kemudian diterima bekerja lebih banyak bukan dari jurusan PR atau komunikasi. "Banyak yang dari pertanian ke PR, dokter ke PR, karena menganggap PR itu hanya perlu penampilan dan pintar ngomong," tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PR nggak selalu pinter ngomong tapi nggak ada isinya, nggak nyampe pesannya ke pembaca. Aku dituntut lebih strategis daripada lebih sekadar hanya menyusun strateginya saja. Banyak orang nggak tahu berpikir cara strategis bagi seorang PR yang profesional," urai Ommaya.
Maurin Handayani, seorang communication consultant bagian Media Expert di Inke Maris menambahkan, selain pemahaman yang salah, kendala lainnya dari seorang PR itu seringkali berasal dari pihak klien atau publik. Contohnya komplain atau salah paham. Jika ada komplain harus dijawab dan diberikan pengertian serta ada perbaikan dari perusahaan. Namun, kendala terberat adalah saat membuat berita yang negatif menjadi positif tanpa harus berbohong.
"Kalau ada masalah dalam perusahaan coba kita konsultasikan bagaimana hal ini bisa dipecahkan. Setelah membuat strategi akan masaalah tersebut, kemudian dikomunikasikan kepada teman-teman,” ujar Maurin yang mempunyai hobi traveling.
Kendala menghadapi komplain ini juga dihadapi Herlina, Public Relations dari Shy Rooftop. Sebagai PR dari sebuah kafe, dia harus bisa menghadapi komplain tersebut tanpa harus mengurangi kepercayaan pelanggan atau masyarakat terhadap tempat kerjanya.
"Kalau kafe misalnya berhubungan dengan service, makanan, sebagai contoh, ada masalah dengan makanan, itukan biasanya ada juga yang mereka minta bagaimana penanganan dari kita, si customer ini merasa dirugikan. Nah, si PR buat dia biar nggak merasa dirugikan, perbaiki produk yang sudah ada, kita juga harus meyakinkan kepada klien lain kalau ini nggak akan terulang lagi," urai Herlina saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Kamis (30/8/2012).
Masih tertarik bergelut di dunia public relation? Seorang PR tidak cuma pintar berbicara saja, tapi harus cerdas dalam membuat strategi komunikasi. Wanita-wanita yang telah sukses menjadi PR mewakili brand ternama itu pun mengatakan, semakin tinggi posisi seorang PR semakin berat tugasnya, mulai dari membuat program hingga mencapai tujuan, yaitu membentuk opini publik yang sesuai dengan keinginan perusahaan.
"Sebagai PR, aku harus kasih mindset ke mereka mulai dari tren, kemudian pengetahuannya, nggak cuma melihat dari sisi produknya saja. Berbeda dengan markom, ya. Dia lebih ke marketing karena markom yang melakukan iklan,” tutup Ommaya diakhir pembicaraan dengan wolipop.
(eny/kik)
Olahraga
Sepatu Lari Wanita Terbaik 2026! Ringan, Terjangkau, dan Ideal untuk Jogging Harian
Pakaian Wanita
Effortless Chic Tanpa Ribet! Tunik Monogram Elzatta untuk Look Rapi di Berbagai Momen
Kesehatan
Jaga Lambung dan Imun Selama Puasa Ramadan! PRO EM 1 Bantu Stabilkan Lambung dengan Bakteri Baik
Kesehatan
Punya Masalah Gatal dan Iritasi di Area Intim? Saatnya Ganti ke Perawatan yang Tepat
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
Barron Trump Tampil Beda Saat Ayahnya Pidato, Gayanya Jadi Sorotan
2
Pesona Elea Putri Ussy-Andhika Pratama di Pemotretan Keluarga, Bikin Salfok
3
Pesona Eileen Gu, Atlet Ski Berprestasi yang Juga Model Victoria's Secret
4
Gaya Mahalini Beri Kejutan Ultah Suami di Kasur, Rambut On Point Bikin Salfok
5
Sisterhood Modest Bazaar 2026: Hijab Rp100 Ribu Hingga Diskon Hijabchic 70%
MOST COMMENTED











































