Tidur Siang di Kantor Tingkatkan Performa Kerja
wolipop
Jumat, 26 Agu 2011 12:37 WIB
Jakarta
-
Dengan meningkatnya tuntutan kerja untuk mencapai target, maka tidur di tempat kerja menjadi tabu. Hal ini mungkin bisa membuat seseorang dipecat atau mendapat surat peringatan ketimbang mendapat manfaat positif.
Namun saat ini, yang terjadi di Amerika justru sebaliknya. Dikutip dari Fortune, sebuah perusahaan investasi bernama Kodiak Capital Group di Manhattan justru mencapai kemajuan target di bulan Januari 2011 setelah seseorang menyarankan untuk menyediakan sofa nyaman untuk tidur siang di kantor.
"Beberapa staf mulai kerja dari jam 8 pagi hingga 5 sore, lalu pergi olahraga, pulang, dan lanjut bekerja mengecek pasar Australia dari rumah di malam hari sebelum tidur," ujar partner manajer, Ryan Hodson. "Mereka akan memerlukan tidur siang sekitar jam 2 siang selama 15-20 menit," tambahnya. Ia juga memperkirakan sepertiga dari tiap 15 pekerja telah melakukan tidur siang sebagai rutinitas di kantor.
Sebuah survei yang dilakukan terhadap 600 perusahaan oleh Society for Human Resource Management, mendapati bahwa orang Amerika kini bekerja dengan jam yang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. 6% tempat kerja sudah menyediakan ruang khusus tidur siang tahun ini, yang mana meningkat 5% dari tahun sebelumnya. Survei dari National Sleep Foundation terhadap 1,508 orang juga mendapati bahwa 34% responden telah diperbolehkan atasannya untuk tidur siang di kantor, dan 16% responden mengatakan bahwa tempat kerjanya telah menyediakan tempat untuk tidur siang.
Pendiri MetroNaps, Christopher Lindholst, yang menjual kursi tidur Energy Pods sejak tahun 2006, mengatakan klien-kliennya seperti Google hingga AOL telah berpikir jauh ke depan. Ia menjelaskan bahwa selain memberikan insentif untuk meningkatkan kesehatan dan pola makan sehat, perusahaan-perusahaan ini juga memikirkan tidur siang sebagai salah satu rencana jangka pendek yang sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas kerja pegawainya.
Studi oleh National Sleep Foundation di tahun 2008 juga menjelaskan, bahwa pilot penerbangan Trans-Pasifik di NASA yang diperintahkan untuk tidur siang selama 40 menit mengalami peningkatan performa kerja sebanyak 34% dan tingkat kewaspadaan sebesar 54%. Awalnya mereka hanya punya waktu tidur siang selama 26 menit.
Sayangnya ide ini juga mendapat respon negatif yang berhubungan dengan masalah ekonomi. Bill Anthony, profesor psikologi di Universitas Boston dan penulis buku The Art of Napping at Work memaparkan bahwa dengan adanya ide ini, berarti perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyediakan ruangan khusus tidur siang tersebut, seperti yang dikutip dari CNN Money.
(fer/kik)
Namun saat ini, yang terjadi di Amerika justru sebaliknya. Dikutip dari Fortune, sebuah perusahaan investasi bernama Kodiak Capital Group di Manhattan justru mencapai kemajuan target di bulan Januari 2011 setelah seseorang menyarankan untuk menyediakan sofa nyaman untuk tidur siang di kantor.
"Beberapa staf mulai kerja dari jam 8 pagi hingga 5 sore, lalu pergi olahraga, pulang, dan lanjut bekerja mengecek pasar Australia dari rumah di malam hari sebelum tidur," ujar partner manajer, Ryan Hodson. "Mereka akan memerlukan tidur siang sekitar jam 2 siang selama 15-20 menit," tambahnya. Ia juga memperkirakan sepertiga dari tiap 15 pekerja telah melakukan tidur siang sebagai rutinitas di kantor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendiri MetroNaps, Christopher Lindholst, yang menjual kursi tidur Energy Pods sejak tahun 2006, mengatakan klien-kliennya seperti Google hingga AOL telah berpikir jauh ke depan. Ia menjelaskan bahwa selain memberikan insentif untuk meningkatkan kesehatan dan pola makan sehat, perusahaan-perusahaan ini juga memikirkan tidur siang sebagai salah satu rencana jangka pendek yang sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas kerja pegawainya.
Studi oleh National Sleep Foundation di tahun 2008 juga menjelaskan, bahwa pilot penerbangan Trans-Pasifik di NASA yang diperintahkan untuk tidur siang selama 40 menit mengalami peningkatan performa kerja sebanyak 34% dan tingkat kewaspadaan sebesar 54%. Awalnya mereka hanya punya waktu tidur siang selama 26 menit.
Sayangnya ide ini juga mendapat respon negatif yang berhubungan dengan masalah ekonomi. Bill Anthony, profesor psikologi di Universitas Boston dan penulis buku The Art of Napping at Work memaparkan bahwa dengan adanya ide ini, berarti perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyediakan ruangan khusus tidur siang tersebut, seperti yang dikutip dari CNN Money.
(fer/kik)
Kesehatan
Punya Luka Susah Kering? Ini Gel Andalan untuk Bantu Percepat Penyembuhan Luka Ringan hingga Kronis!
Makanan & Minuman
Bingung Kegiatan Setelah Tarawih? Saatnya Cemil Popcorn & Maraton Netflix! Combo Wajib Biar Nonton Film Makin Seru
Elektronik & Gadget
Meja Kerja Makin Clean Tanpa Kabel Berantakan? 2 Keyboard & Mouse Wireless Ini Bisa Jadi Pilihan
Makanan & Minuman
Pulihkan Tenaga saat Berbuka! Kurma Sukari Bantu Energi Kamu Kembali Setelah Seharian Berpuasa
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
7 Foto TikToker Shegan yang Viral, Disebut Lisa BLACKPINK Versi Indonesia
2
Aksi Kemanusiaan, Meghan Markle & Pangeran Harry Temui Korban Luka Bakar Gaza
3
Sutradara Boyfriend on Demand Tanggapi Kritik Soal Akting Jisoo BLACKPINK
4
7 Foto Pierce Anak Billy Davidson yang Curi Atensi, Ganteng Bak Oppa Korea
5
Sering Tertukar! Perbedaan Kulit Sawo Matang dan Kuning Langsat Ini Wajib Tahu
MOST COMMENTED











































