ADVERTISEMENT

Pengantin Viral Gelar Pernikahan di Bengkel, Pakai Baju Pembalap

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 16 Okt 2022 17:37 WIB
Pasangan pengantin viral di media sosial, pakai baju pembalap saat hari pernikahan. Pasangan viral di media sosial. Foto: Dok. Facebook M.Z Pixart.
Malaysia -

Pasangan pengantin ini viral karena mengenakan busana pernikahan yang anti mainstream. Keduanya sepakat memakai baju pembalap atau wearpack balap saat hari-H pernikahan.

Konsep busana pernikahan tersebut berawal dari mempelai yang berjiwa pembalap. Tak hanya memakai wearpack, ada juga sport rim, spanar dan juga kursi pembalap di atas pelaminan.

Walaupun memakai baju pembalap, pengantin wanita tetap memakai suntiang warna gold di atas kepala dan sepatu high heels. Jarang ditemui, gaya pasangan pengantin yang memakai baju pembalap ini menarik perhatian netizen setelah dibagikan oleh akun Facebook M.Z Pixart.

Berbagi cerita kepada Mstar, pengantin pria yang bernama Irwan Mhd Umran mengungkap kisah di balik busana pernikahannya yang unik. Dia mengatakan pernikahan yang mengusung konsep bengkel itu digelar di Tawau, Sabah, Malaysia.

Pasangan pengantin viral di media sosial, pakai baju pembalap saat hari pernikahan.Pasangan pengantin viral di media sosial, pakai baju pembalap saat hari pernikahan. Foto: Dok. Facebook M.Z Pixart.

Pria yang berusia 32 tahun itu mengungkapkan konsep pernikahan tersebut muncul karena minatnya terhadap mesin mobil. "Sejak umur 15 tahun saya sudah mulai bekerja dan bertekad untuk mahir dan mempunyai bengkel sendiri," kata Irwan.

"Banyak waktu yang saya habiskan untuk belajar tentang seluk beluk mesin mobil. Sehingga akhirnya saya bisa membuka bengkel sendiri. Sekarang sudah berjalan sekitar delapan tahun," ucapnya haru.

Pria yang akrab disapa Wan ini mengaku meskipun memakai baju pembalap saat pernikahan, ia tak melupakan busana adat khas Melayu. Wan dan istrinya Norwadah Suharto (27 tahun) menjadi raja dan ratu sehari pada 1 Oktober 2022 di Kunak, Malaysia.

"Di acara pernikahan saya dari jam 10.00 pagi sampai jam 12 tengah malam. Ada empat pasang baju termasuk baju adat. Kami kemudian ganti baju pembalap selama empat jam. Pelaminan dihias simpel hasil kreatifitas kakak beradik kami dan ibu," ungkap Wan panjang lebar.

Anak ketiga dari empat orang bersaudara ini menyebutkan lokasi pernikahan digelar di bengkel miliknya sendiri. "Di tempat ini juga saya tinggal. Rumah bersebelahan dengan bengkel, kalau ada mobil bisa cepat diperbaiki, kami bisa bekerja sampai tengah malam," ujarnya.

Wan menambahkan awalnya ia ingin memakai baju mekanik saat hari pernikahan. Namun, ibunya mengatakan tidak setuju.

"Kami lalu direkomendasikan untuk pakai baju pembalap. Kebetulan pula saya ada teman-teman dari kalangan pembalap atau drifter di Tawau, Malaysia. Mereka mendukung saya dengan meminjamkan baju. Saya ingin menciptakan kenangan dengan memberikan cerita dulu saya susah bekerja menjadi mekanik, dan kini sudah bisa mempunyai bengkel sendiri," kata Wan terharu.

"Jika dimurahkan rezeki, saya ada mimpi untuk membesarkan lagi bengkel yang tak seberapa ini. Saya ingin lebih maju Insya Allah," pungkasnya optimis.

(gaf/eny)