Liputan Khusus Menikah Siri

Saat Pasangan Nikah Siri, Ini yang Akan Dialami Istri dan Anak

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 16 Nov 2020 10:11 WIB
Ilustrasi nikah siri. Foto: Istock Ilustrasi nikah siri. Foto: Istock
Jakarta -

Nikah siri adalah sebuah pernikahan yang tidak dicatat di Kantor Urusan Agama. Apa dampak dari pernikahan siri ini, terutama jika pasangan tersebut memiliki anak? Dan bagaimana pengaruh nikah siri pada kehidupan wanita yang menjalaninya?

Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag. M.Si. MA. Ph.D dari Komisioner Komnas Perempuan dan Ketua Subkom Pendidikan dan Alfath Hanifah Megawati, M.Psi., Psikolog Klinis Dewasa berbincang dengan Wolipop mengenai dampak nikah siri pada anak dan istri:

1. Status Anak Nikah Siri

Seorang anak yang sah menurut undang-undang yaitu hasil dari perkawinan yang sah. Ini tercantum dalam UU No.1 tahun 1974 tentang Pernikahan. Dalam Pasal 42 Ayat 1 disebutkan anak yang sah adalah anak-anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Hal ini merujuk bahwa status anak memiliki hubungan darah dengan kedua orangtuanya. Dalam beberapa kasus tentang hak anak hasil nikah siri terdapat kesusahan dalam pengurusan hak hukum seperti nafkah, warisan, maupun akta kelahiran.

Status anak nikah siri ini karena tidak dicatat oleh negara maka dikatakan di luar nikah. Namun secara agama, status anak dari hasil nikah siri mendapat hak sama dengan anak hasil perkawinan sah. Aturan ini memang tidak selaras dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Dalam UU No.1 Tahun 1974 Pasal 43 Ayat 1 disebutkan anak yang dilahirkan di luar perkawinan sah hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Sehingga risiko akibat ketidaktahuan wanita terhadap hukum yang berlaku di Indonesia ini menyebabkannya termasuk golongan yang merugi ketika memilih menikah siri.

"Ketika menikah siri, anak masih atas nama ibunya. Konsekuensinya, segala hal tentang kesejahteraan anak itu kan jadi ibu yang harus memenuhi. Sehingga jika ayah sirinya punya harta yang melimpah, dia meninggal mendadak, secara hukum anaknya tidak berhak mendapatkan warisan. Karena tidak tercatat secara hukum negara. Status karena hanya anaknya ibu," jelas Alimatul Qibtiyah.

2. Wanita Bisa Tidak Mendapat Haknya Saat Nikah Siri

Alimatul Qibtiyah dari Komnas Perempuan menegaskan jika nikah siri tidak terdaftar negara dan otomatis pihak wanita tidak mendapatkan kesejahteraannya.

"Yang jelas dari sisi administrasi negara itu kan melanggar, jadi apapun posisinya secara administrasi negara tidak terdaftar, yang seharusnya dapat tunjangan tidak dapat. Berarti ada haknya sebagai seorang istri itu kan terlanggar. Sehingga hak-hak kesejahteraan yang melekat pada administrasi kepegawaian disebabkan karena pernikahan resmi itu terlanggar," kata Alimatul Qibtiyah kepada Wolipop.

3. Gangguan Sosiologis dan Psikologis Pada Anak dan Istri

Menurut Alimatul Qibtiyah mayoritas masyarakat meyakini bahwa pernikahan yang paling baik adalah pernikahan yang dicatat. "Maka dia (wanita) secara sosiologis dan psikologis merasa bahwa dirinya tidak menikah secara resmi. Akan berdampak pada dirinya secara tidak langsung," ujarnya.

Sedangkan psikolog Alfath Hanifah Megawati atau biasa dipanggil Ega ini menyoroti dampak psikologis nikah siri pada anak. Efek psikologis nikah siri yang dilakukan orangtua ini bisa mempengaruhi perkembangan sang anak.

"Mendapatkan pergunjingan dari lingkungan sosialnya (terutama jika anak tinggal di kota besar - nikah siri lebih dapat diterima ketika seseorang tinggal tidak di perkotaan besar). Kondisi-kondisi ini tentu saja akan memengaruhi perkembangan anak dan kemampuan anak untuk melakukan penyesuaian di lingkungan sekitarnya," tegasnya.

Next: Kerugian Nikah Siri Bagi Wanita

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Dampak Pandemi, Black Friday di Amerika Serikat Sepi"
[Gambas:Video 20detik]