Ibu Nekat Banting Tetangga Setelah Anaknya Diejek Masih Single di Usia 30

Vina Oktiani - wolipop Rabu, 06 Mei 2020 16:01 WIB
Bride sitting in a ceremony waiting restaurant. Sitting sad with head and flowers in her hands. Foto: dok. Changsha TV/Douyin
Jakarta -

Seorang ibu di China terpaksa berurusan dengan pihak kepolisian setelah melakukan aksi brutal kepada tetangganya demi membela anaknya. Ibu yang diketahui bermarga Dai itu berkelahi dan melempar tetangganya karena dianggap telah mengejek putrinya yang belum menikah di usia yang sudah menginjak 30 tahunan.

Seperti dikutip dari Daily Mail, perkelahian tersebut bermula dari masalah yang sepele. Awalnya, sang ayah, Tuan Dai, berdebat sengit dengan keluarga Yang setelah mereka bermain mahjong bersama. Ketegangan lalu memuncak setelah istri dan anak perempuan Dai ikut bergabung dalam pertengkaran tersebut.

Sang istri, Nyonya Dai lalu merasa kesal setelah Nyonya Yang mengejek putrinya yang sudah berusia sekitar 30 tahunan belum juga menikah. Akhirnya pada 24 April 2020 perkelahian brutal itupun terjadi di kota Changsha, provinsi Hunan, China Selatan.



"Saya hanya mengatakan,'kamu berusia lebih dari 30 tahun tetapi masih belum menikah karena kamu sangat agresif dan jahat'. Hanya itu yang saya katakan," kata nyonya Yang kepada media.

Pihak kepolisian setempat kemudian dipanggil ke tempat kejadian oleh salah seorang saksi dan menahan Nyonya Dai dan Yang. Saat dimintai keterangan, Nyonya Dai mengatakan bahwa dirinya tidak pernah memukul tetangganya itu. Dia hanya mencoba untuk mengangkatnya tetapi tidak bisa, sehingga dia memutuskan untuk melepaskannya.

Perkataan nyonya Dai tersebut jelas tidak sesuai dengan apa yang terlihat di rekaman CCTV. Dalam rekaman CCTV terlihat Nyonya Dai memukul kepala Nyonya Yang lalu membantingnya ke tanah. Polisi memaksa Nyonya Dai untuk berkata jujur dengan memperlihatkan rekaman tersebut.

Pada akhirnya kedua keluarga itu tetap gagal mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan konflik. Hingga saat ini polisi masih menangani kasus pertikaian dua keluarga tersebut.

Di China sendiri diketahui banyak wanita berusia akhir 20an hingga 30an yang mengalami diskriminasi karena belum menikah. Pemerintah Komunis di China bahkan memerintahkan All-China Women's Federation untuk menggunakan istilah yang menghina wanita dalam beberapa artikel yang berisi tentang peningkatan jumlah orang berpendidikan dan profesional yang masih lajang di usia 27-30 tahunan. Orang-orang tersebut dianggap 'tidak diinginkan'.



Selain itu istilah 'wanita sisa' juga muncul setelah artikel-artikel tersebut rilis. Salah satu artikel yang berjudul 'Wanita Sisa Tidak Pantas Dapat Simpati Kami' pada 2013 bahkan mengatakan bahwa wanita cantik tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi untuk menikah dengan pria yang kaya dan berkuasa. Tetapi wanita dengan penampilan rata-rata atau jelek akan kesulitan mendapatkan hal itu.

Hal itu tentu saja menimbulkan banyak kemarahan dari jutaan wanita berpendidikan dengan mengklaim rendahnya kualitas pria yang ingin melamar mereka. Pada 2016, video berdurasi singkat dari salah satu merek perawatan kulit SK-II yang berisi pengakuan dari sekelompok wanita yang belum menikah dan tekanan yang mereka hadapi menjadi viral. Video itu menunjukkan keadaan yang dihadapi oleh para wanita yang masih melajang di usia yang sudah tidak lagi muda di China.



Simak Video "Dokumentasi Pernikahan Gratis Disediakan untuk Tenaga Medis COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/eny)