Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Saat Suami Putuskan untuk Poligami, Pilih Cerai Atau Bertahan?

Arina Yulistara - wolipop
Senin, 26 Okt 2015 19:10 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Semua wanita tidak ada yang mau diduakan baik saat berpacaran apalagi setelah menikah. Namun karena satu dan lain hal, beberapa wanita terpaksa menyetujui suaminya menikah lagi. Ketika suami memutuskan untuk poligami, lebih baik pilih bercerai atau bertahan?

Menurut psikolog klinis Ayoe Sutomo, M.Psi, saat suami berpoligami tentu akan memberikan dampak besar untuk hubungan pernikahan dan anak terkait komunikasi, intensitas hubungan, serta emosional seseorang. Oleh karena itu, pikirkan matang-matang tindakan tepat yang harus dilakukan sebelum memutuskan menyetujui suami berpoligami.

Ayoe menegaskan agar wanita mempertimbangkan segala konsekuensinya mulai dari dampak sosial, psikologis, hingga pengasuhan anak. Jika istri siap menghadapi segala konsekuensinya maka bertahan bisa menjadi pilihan tepat ketika suami menikahi perempuan lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa istri benar-benar siap dengan segala konsekuensi termasuk melihat suami bersama wnaita lain? Siapkah istri berbagi waktu, mengatur emosi, perasaan cemburu? Apakah istri siap menghadapinya dan memastikan kepada keluarga kalau mereka baik-baik saja? Apa istri siap diomongin banyak orang? Konsekuensi pengasuhan juga penting untuk memastikan kepada anak-anak kalau suami tetap figur bapak yang baik bisa dijadikan contoh. Pikirkan baik-baik," terang Ayoe saat dihubungi Wolipop, Senin (26/10/2015).

Ketika istri tidak siap akan konsekuensi psikologis, anak, serta sosial maka sebaiknya pilih cerai. Menurut Ayoe, daripada hidup penuh tekanan dan kondisi psikologis menjadi tidak stabil yang akhirnya berpengaruh terhadap keluarga serta anak sebaiknya jangan memaksakan diri bertahan dalam lingkaran poligami.

Wanita lulusan Universitas Tarumanagara itu mengatakan akan jauh lebih baik menyudahi pernikahan yang sudah tidak sehat daripada hidup dalam keterpurukan. "Tidak baik mempertahankan pernikahan hanya karena status karena efeknya akan jauh lebih menyedihkan," tambah Ayoe.

Sayangnya, banyak wanita yang terpaksa menyetujui suami berpoligami walaupun ia tahu dirinya tak siap menghadapi segala konsekuensi terburuk. Faktor ekonomi atau takut menjadi gunjingan orang lain menjadi salah satu penyebab wanita bertahan dalam lingkaran poligami yang menyakitkan dirinya sendiri.

Bila wanita dalam keadaan terdesak atau terpaksa menyetujui suami poligami karena berbagai pertimbangan, Ayoe menyarankan agar Anda meningkatkan kecerdasan spiritual supaya lebih bisa menerima kenyataan.

Satu-satunya cara agar Anda tidak menjadi 'hancur' karena bertahan di lingkaran poligami adalah berdamai dengan kenyataan. Luangkan banyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Lakukan hal-hal yang terkait spiritual agar bisa membuat diri menjadi lebih baik.

"Memperdalam kecerdasaan spiritual, banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal-hal yang terkait dengan spiritual bisa digali lebih dalam setidaknya membantu menguatkan seseorang secara psikoilogis," sarannya.

Ayoe menambahkan, setelah meningkatkan keimanan kepada Tuhan, cari kegiatan lain. Bila selama ini Anda hanya bertugas sebagai istri dan ibu kini mencoba berkecimpung dalam kegiatan sosial. Anda juga bisa banyak berkumpul dengan teman sehingga tidak terus merasa terpuruk.

"Cari pemaknaan hidup lainnya, berkumpul atau berpartisipasti dalam lingkungan sosial bisa menjadi salah satu cara. Cari aktivitas yang kaitannya bisa meraih pemaknaan hidup seperti relawan misalnya. Jadi Anda merasa 'Saya masih punya hidup yang berguna untuk orang lain, saya masih punya akal sehat," tambah Ayoe sebelum menutup perbincangan.

(aln/aln)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads