Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Riset: Gara-gara Bertengkar, Berat Badan Suami-Istri Bisa Bertambah

Eny Kartikawati - wolipop
Kamis, 27 Agu 2015 16:02 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Pertengkaran suami-istri bukan hanya menyebabkan hubungan di antara pasangan memburuk. Kondisi kesehatan pasangan pun ikut terpengaruh. Riset terbaru membuktikan pertengkaran dalam pernikahan bisa membuat berat badan bertambah.

Penelitian yang dilakukan terhadap 43 orang dengan masa pernikahan lebih dari tiga tahun itu menemukan bahwa pertengkaran intens dengan pasangan bisa meningkatkan produksi ghrelin. Ghrelin merupakan hormon yang diproduksi oleh perut yang bisa meningkatkan nafsu makan. Bukan hanya itu saja, hormon tersebut juga membuat orang jadi mendambakan makan makanan berlemak seperti ayam goreng atau es krim.

"Ghrelin bukan hanya mendorong orang untuk makan. Hormon itu juga membuat orang jadi ingin makan makanan jenis tertentu seperti yang tinggi gula, tinggi lemak dan banyak garam," ujar pimpinan riset dengan judul 'Novel Links Between Troubled Marriages and Appetite Regulation: Marital Distress, Ghrelin, and Diet Quality, Lisa M. Jaremka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari risetnya, Lisa yang merupakan asisten profesor bidang psikologi dan ilmu otak di Universitas Delaware ini juga mengungkapkan bahwa pasangan yang memiliki hubungan pernikahan buruk berisiko tidak panjang umur. Orang-orang yang berada pada hubungan tidak sehat ini juga berisiko mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan berat badan seperti diabetes dan penyakit jantung.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Psychological Science itu memberikan fakta lainnya bahwa ternyata hormon yang menyebabkan nafsu makan itu tidak muncul pada semua orang saat bertengkar dengan suami atau istrinya. Hormon ghrelin ini hanya muncul pada orang-orang yang berat badannya normal atau merasa overweight. Sedangkan mereka yang obesitas tidak mengalaminya.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan Lisa juga membeberkan mengenai dampak buruk ketika pasangan memiliki hubungan yang tidak sehat. Pasangan yang tidak saling menyayangi dan sering beradu argumen cenderung lebih banyak memproduksi hormon kortisol akibat dari stres yang mereka rasakan. Ketika hormon kortisol diproduksi dalam jumlah banyak, hal ini akan menghambat produksi sel T dan sel T cytotoxic, sel darah putih yang menghasilkan antibodi.

Dari riset yang dipublikasikan pada 2013 itu terungkap pasangan yang memiliki pernikahan tidak sehat mengalami penurunan sistem imun yang lebih besar ketimbang mereka yang pernikahannya bahagia. Jika sistem imun terus menurun, kondisi kesehatan pasangan itu pun akan terkena dampak buruknya.



(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads