Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kisah Jane Atasi Trauma Pasca Kekasih Meninggal Mendadak Sehari Jelang Nikah

wolipop
Rabu, 12 Feb 2014 08:53 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta - Jane Davies seharusnya menikah dengan kekasihnya Max Lowry pada 25 September 2010. Rencana pernikahan telah disusun dengan matang. Mereka telah mengundang 180 teman dan keluarga. Namun sehari menjelang pernikahan takdir berkata lain. Max mendadak menghembuskan nafas terakhir.

Kisah cinta Jane dan Max yang berakhir tragis berawal dari cerita manis. Berkenalan saat masih remaja dan bersekolah di Marborough College, Wiltshire, Inggris, saat itu tak ada cinta monyet di antara mereka. Keduanya kembali bertemu 16 tahun kemudian di sebuah kafe di London. Setelah itu barulah cinta mereka bersemi.

Jane dan Max bertunangan tepat di hari ulang tahun ke-34 Max pada 21 April 2010. Mereka kemudian mulai tinggal bersama di apartemen pada awal September, menjelang pernikahan. Namun untuk menjaga tradisi, beberapa minggu setelah tinggal bareng itu keduanya hidup terpisah dulu sebelum akhirnya menikah. Hingga tiba pada H-1 sebelum pernikahan, Jane yang tinggal di rumah kakaknya dan tengah makan malam mendadak merasakan firasat untuk bertemu dengan Max.

Dia kemudian menghubungi kekasihnya itu melalui telepon. Jane mengatakan tidak mau hidup berpisah, meskipun hanya sementara dan tinggal semalam saja. Max pun merespon dengan cepat keinginan kekasihnya itu. "I love you...," katanya singkat.

Setelah ucapan sayang itu, mimpi buruk Jane dimulai. Di ujung telepon dia mendengar Max membuat suara yang mengerikan, mengerang kesakitan. Jane merasa Max mengalami kesulitan bernapas. Ketika itu yang ada di pikirannya, Max tersedak. Dia pun langsung berlari ke dapur memanggil ayahnya dan mereka pergi ke apartemen yang jaraknya hanya 10 menit.

Sepanjang perjalanan ke apartemen, Jane tidak menutup telepon Max. Dan di ujung telepon, pria tersebut terus mengeluarkan suara erangan kesakitan. Ucapan kesakitan tersebut hanya bisa dibalas Jane dengan meminta calon suaminya tersebut bertahan. Jane semakin panik karena perjalanannya ke apartemen tidak secepat yang dibayangkannya karena saat itu Jumat malam. Sepanjang perjalanan dia berteriak emosi pada kondisi lalu-lintas.

Setelah 12 menit perjalanan Jane akhirnya bisa tiba di apartemennya. Ayahnya meminta seorang tetangga mendobrak pintu apartemen tersebut. Dan saat itu, Jane langsung melihat Max sudah terbaring di tempat tidur dengan telepon masih berada di dekat telinganya. Namun pria tersebut seperti sudah tidak bernyawa. Tidak lama tim medis yang sudah dihubungi ayahnya datang.

"Aku bilang pada paramedis, pria ini adalah tunanganku, kami akan menikah besok. Dan dengan lembut, seorang paramedis membawaku keluar ke koridor. Dia hanya bilang kalau Max benar-benar sakit," kenang Jane seperti dikutip Mail Online.

Satu jam setelah tim medis datang, Max dibawa keluar dari apartemen. Paramedis terus berusaha memberikan tunangan Jane itu napas buatan. Ketika itu Jane sebenarnya sudah merasa kalau Max telah tiada. Meski demikian bibirnya terus berucap "itu bukan Max, tubuh yang mereka bawa itu bukan dia."

Kejadian yang dialami Max di atas setiap minggunya terjadi pada 12 anak muda berusia di bawah 35 tahun di Inggris. Mereka semua meninggal karena Sudden Adult Death Syndrome (SADS). Diperkirakan ada 130 ribu orang berusia di bawah 35 yang masih belum terdiagnosa memiliki masalah jantung sehingga memicu serangan jantung mendadak tersebut. Seperti Max, sekitar 80% dari mereka tidak mengalami gejala apapun.

Setelah ditemukan sudah seperti orang tidak bernyawa, paramedis kemudian membawa Max ke rumah sakit. Mereka tetap berusaha menyelamatkan pria tersebut selama 30 menit. Sementara Jane duduk di ruang tunggu dan terus menutup telinganya serta bergumam, 'tolong jangan meninggal, tolong jangan meninggal.'

"Aku membayangkan di kepalaku Max bangun dari tempat tidur rumah sakit, duduk di tempatku. Kami bicara dan tertawa. Dia akan sembuh total," ucapnya. Namun bayangan itu tak pernah menjadi nyata. Ketika dokter menghampirinya untuk memberikan kabar buruk, Jane menjauh dan mengatakan "aku akan menikah dengan Max besok. Kamu tidak akan bilang padaku dia meninggal, tidak akan."

Tiga minggu setelah Max meninggal, Jane didiagnosa menderita PTSD atau post-traumatic stress disorder. Trauma dan stres berat yang dialaminya itu kemudian berhasil diatasinya setelah berjam-jam menjalani terapi.

Cerita memilukan kehilangan calon suami sehari menjelang pernikahan ini diungkapkan Jane sebagai bagian dari kerjasama dengan kampanye CRY (Cardiac Risk in the Young). Organisasi yang berdiri sejak 1995 itu berusaha mensosialisasikan tentang bahayanya serangan SADS. Organisasi tersebut menyadari banyak pihak yang belum tahu tentang kematian mendadak di usia muda ini. Sindrom tersebut, menurut CRY bisa terjadi karena keturunan, namun dapat juga karena hal tidak terduga lainnya.


(eny/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads