Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus Menikahi Pria Asing

Repotnya Menikah dengan Pria Asing, Beda Selera Makan Bisa Bikin Pusing

wolipop
Jumat, 24 Mei 2013 09:44 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok: Beta, Itha, Rachel
Jakarta - Setiap pernikahan tentunya ada masalah-masalah sepele yang bisa menyebabkan keributan kecil. Tak terkecuali pernikahan dengan pria asing. Salah satu masalah sepele itu adalah perbedaan selera makan yang bisa membuat pusing.

Ketua Srikandi, organisasi beranggotakan wanita Indonesia yang menikah dengan pria asing, Itha Saleem menceritakan pengalamannya bagaiamna perbedaan selera makan ini bisa mendatangkan masalah. Itha menikah dengan pria asal Inggris, Saleem Mohammed. Dia baru dua tahun ini tinggal di Tanah Air. Selama menetap di Inggris, wanita yang kini bekerja di sebuah perusahaan consultant public relation itu kerap memasak di rumah. Masakannya menjadi masalah ketika ia menggoreng terasi. Suaminya bisa langsung protes.

Tak hanya itu saja, ketika sang suami ada di Indonesia bersamanya, Itha bisa pusing ketika akan makan di restoran. "Dia tahu saya suka makanan Indonesia banget dan dia nggak suka bau lemak, daging-dagingan. Buat dia ceker ayam bukan buat dimakan," kisah ibu tiga anak yang sudah menikah selama 16 tahun itu itu saat berbincang dengan wolipop di sebuah restoran di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah selera makan ini juga dialami Rachel yang menikah dengan Ben, pria asal Inggris. Suami yang menikahinya pada September 2012 itu, kerap memasak makan malam untuk mereka santap bersama. "Aku kan anaknya nggak bisa hidup tanpa sambal. Dia suka sensitif kalau aku makan, makanan masakan dia aku kasih sambal. Dia tersinggung," tuturnya.

Pengalaman serupa disampaikan Beta Kurniawati Gagula, Corporate Marketing & Sales Supervisor Cassis Group, yang dinikahi pria asal Bosnia, Amil Gagula. Hanya saja menurut Beta, perbedaan selera makannya dengan sang suami tidak terlalu jauh. Suaminya malah sangat menyukai rendang. Namun Amil bisa bingung ketika melihatnya menyantap jeroan. "Agak bingung kok kikil, jeroan dimakan ya," ujarnya.

Beta dan Amil juga memiliki perbedaan pola makan. Amil biasanya hanya makan besar satu kali dalam sehari. Sedangkan Beta, seperti orang Indonesia pada umumnya bisa makan nasi tiga kali dalam sehari.

Selain perbedaan selera makan, beda bahasa dan budaya juga dapat mendatangkan masalah di awal hubungan. Itha mengatakan perbedaan pemahaman ketika saling mengucapkan candaan bisa menyinggung salah satu pihak. "Buat mereka bercandanya suka ke fisik, agak sarkastik. Dulu saya suka nangis sebelum mengerti. Tapi ke sini-sini ya ngertiin aja," tuturnya.

Tak hanya itu saja, menurutnya orang asing biasanya cukup tegas dalam beberapa hal. Itha mencontohkan, ketika ada kerabat atau teman yang mau datang ke rumahnya, ternyata orang tersebut tidak jadi datang, tapi tidak memberi kabar lagi. Itha merasa cukup mengerti dan tidak terlalu emosi karena toh mereka memang sedang santai di rumah.

"Kalau dia bisa ngamuk. Dia bilang itu nggak benar. Kita seharian nggak bisa ke mana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain," ujar wanita 46 tahun itu.

Soal kendala bahasa, Rachel pernah mengalaminya. "Ada bahasa Indonesia yang nggak bisa diterjemahkan dan ada bahasa Inggris yang nggak bisa diterjemahkan," katanya. Ketika itu terjadi mereka bisa saling salah paham.


(eny/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads