Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Tantangan Terberat yang Harus Dihadapi Pasangan Menikah Muda

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Jumat, 06 Jul 2012 11:31 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggalakkan program kampanye yang menghimbau pasangan untuk tidak menikah di usia muda. Idealnya, pria sudah siap menikah saat menginjak usia 25 dan wanita 20 tahun.

Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi.M.Si pun tidak menyarankan dilakukannya pernikahan di usia belasan tahun. Pasangan yang menikah di usia muda umumnya akan lebih sulit mengatasi permasalahan rumah tangga dibandingkan pria dan wanita yang usianya sudah matang.

Salah satu tantangan terberat yang harus dihadapi pasangan menikah muda, adalah menghadapi jika terjadi konflik di lingkungan keluarga. Psikolog yang biasa disapa Nina ini menjelaskan, pernikahan di Indonesia bukan hanya penyatuan antara mempelai pria dan wanita saja, tapi juga peleburan dua keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seringkali terjadi kekagetan saat remaja harus beradaptasi dengan keluarga besar pasangannya. Misalnya saat remaja perempuan harus masuk ke keluarga besar suaminya setelah menikah. Akan banyak pertanyaan yang terlontar, 'Keluarga dia kok begini, kok begitu?' Kaget, karena mereka belum matang (mentalnya)," tutur wanita yang banyak menangani konsultasi untuk keluarga dan persiapan pernikahan ini.

Ditambah emosi yang cenderung meledak-ledak baik pada pasangan pria maupun wanita, membuat pertengkaran antara mereka bisa jauh lebih hebat. Cara mereka menyampaikan keluhan pun berbeda dengan pasangan yang sudah lebih dewasa. Dengan konten masalah yang sama, penyelesaiannya bisa lebih rumit karena cara penyampaian yang kurang tepat.

"Contohnya kalau pasangan yang sudah dewasa, jika ada masalah dengan ibunya biasanya akan menyampaikan, 'Kenapa ibu kamu berbicara seperti itu ya ke aku?' Sementara di usia yang masih belia, cara penyampaiannya bisa seperti, 'Kok nyokap lo ngomong gitu ke gue?' Itu contoh dengan konten yang sama, tapi cara menanggapi berbeda. Jauh lebih kompleks," jelas Nina saat dihubungi Wolipop, Jumat (29/06/2012).

Tantangan yang lebih besar lagi ketika mereka sudah memiliki anak. Hal-hal yang dipikirkan pun jadi semakin banyak dan akan lebih memusingkan bagi pasangan yang belum matang secara mental.

"Mulai dari hamil masalah sudah besar, merasakan mual, takut melahirkan, belum lagi imunisasi yang perlu biaya dan macam sebagainya. Kalau usianya sudah matang dia cenderung lebih siap. Tapi kalau menikah muda biasanya belum siap," ujarnya.

Nina menambahkan, ada berbagai macam permasalahan dalam perkawinan yang tidak bisa diselesaikan dengan sederhana. Kala menikah di usia belasan tahun, penyesuaian antara suami istri jadi lebih berat dan rentan akan perceraian akibat pertimbangan dalam mengambil keputusan yang tidak matang.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads