Kencan Lagi Pasca Cerai: Jangan Dibutakan 3 Kata Ini!
wolipop
Rabu, 18 Jan 2012 08:47 WIB
Jakarta
-
Berkencan lagi setelah bercerai bisa menyenangkan sekaligus menakutkan. Anda tentu semangat bertemu lagi orang baru, tapi khawatir juga mungkinkah kalian dapat benar-benar jatuh cinta.
Seperti dikutip dari Huffington Post, penulis buku 'If Your Parents Divorced, Will You Too?: How to Break the Cycle of Divorce and Create a Successful Relationship of Your Own' Sharon Brooks membagi kisahnya pada Anda soal pengalamannya kencan setelah bercerai. Ia mengisahkan, saat itu Sharon berpikir dirinya sudah menemukan cinta baru.
Sharon percaya pria yang dikencaninya itu bisa menjadi suami keduanya dan ayah dari anak-anaknya. Setelah melalui perceraian yang menyakitkan, dia memang bertekad untuk membuat hubungan asmara barunya itu berhasil. Pemilik blog 'ifyourparentsdivorced' itu juga seperti mendapat angin segar dari orang-orang dekatnya.
Keluarga dan teman-teman Sharon menerima dan menganggumi kekasihnya. Pria tersebut memang tampan, sukses dan tipe yang memang mudah disukai orang.
Seiring berjalannya waktu dan semakin berkembangnya hubungan asmara mereka, pesona kesempurnaan sang kekasih perlahan mulai terbuka yang sebenarnya. Namun saat itu, Sharon tidak mempedulikannya. Meski sudah berbagai hal menjadi tanda dan peringatan, dia seperti tidak terlalu menyadarinya. Apa penyebabnya?
Menurut Sharon hal itu karena dia terpesona pada tiga kata yang terus-menerus diucapkan sang kekasih padanya yaitu, 'I love you'. Tiga kata tersebut membuatnya merasa tak perlu mempermasalahkan sikap buruknya, seperti lebih sering pergi bersama teman pria, terlalu banyak mengkritik, dan kurang menghargainya. Sharon juga tak pernah menjadi prioritas dalam hidup kekasihnya itu, tapi dia tidak mengeluh. Hal itu karena sang kekasih mengatakan mencintainya.
Ketika Sharon mencoba mengajak kekasihnya itu berbicara soal pernikahan, pria tersebut selalu berkata dia masih butuh lebih banyak waktu untuk bersama (sebagai kekasih). Namun dia meyakinkan Sharon bahwa dia ingin menikah, hanya saja belum siap.
Sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga dengan banyak konflik, Sharon berusaha untuk menghindari pertengkaran dengan kekasihnya. Dia terus mengusahakan hubungan asmaranya dengan sang kekasih bisa berhasil. Dia pun berusaha menyenangkan atau membuat bahagia pasangannya. Sharon percaya hal itu adalah kunci kesuksesan sebuah hubungan.
Tapi tentu saja kemudian Sharon merasa dirinya bodoh. Setelah lima tahun pacaran dan tidak ada tanda-tanda akan menikah, dia memutuskan jalinan asmaranya dengan pria tersebut. "Aku cukup frustasi dan berpikir dengan perpisahan itu, bisa membuatnya sadar seharusnya menikah denganku. Tapi ternyata tidak. Dia mulai berkencan dengan orang lain dua minggu kemudian," tuturnya.
Sharon merasa selama ini dirinya terus 'diracuni' oleh pernyataan 'I love you', sehingga dia percaya pada ucapan tersebut. Namun kenyataannya, ucapannya itu hanyalah sekadar kata-kata. Sharon mengatakan, tidak besar dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih, jadi membuatnya tidak tahu cinta itu seharusnya seperti apa. Dia menganggap ucapan 'I love you' itu sudah cukup.
Wanita yang sudah mewawancarai 400 orang yang orangtuanya bercerai itu kini merasa egonya terluka pasca putus cinta. Dia merasa malu karena bertahan dalam sebuah hubungan yang sakit selama lima tahun hanya karena dirinya begitu rapuh pada tiga kata, 'I love you'.
Sharon pun mencoba mengambil hikmah dari perpisahannya itu dan berharap bisa jadi pelajaran untuk wanita lainnya. Saat seorang pria mengatakan 'I love you' pada Anda, tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah sikapnya menunjukkan perkataannya itu. Memang perkataan cinta itu manis didengar, tapi tentunya juga harus didukung dengan sikap yang sama manisnya. Kalau tidak, ucapan tersebut hanyalah sebuah perkataan tanpa arti. Apakah Anda setuju?
(eny/eny)
Seperti dikutip dari Huffington Post, penulis buku 'If Your Parents Divorced, Will You Too?: How to Break the Cycle of Divorce and Create a Successful Relationship of Your Own' Sharon Brooks membagi kisahnya pada Anda soal pengalamannya kencan setelah bercerai. Ia mengisahkan, saat itu Sharon berpikir dirinya sudah menemukan cinta baru.
Sharon percaya pria yang dikencaninya itu bisa menjadi suami keduanya dan ayah dari anak-anaknya. Setelah melalui perceraian yang menyakitkan, dia memang bertekad untuk membuat hubungan asmara barunya itu berhasil. Pemilik blog 'ifyourparentsdivorced' itu juga seperti mendapat angin segar dari orang-orang dekatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring berjalannya waktu dan semakin berkembangnya hubungan asmara mereka, pesona kesempurnaan sang kekasih perlahan mulai terbuka yang sebenarnya. Namun saat itu, Sharon tidak mempedulikannya. Meski sudah berbagai hal menjadi tanda dan peringatan, dia seperti tidak terlalu menyadarinya. Apa penyebabnya?
Menurut Sharon hal itu karena dia terpesona pada tiga kata yang terus-menerus diucapkan sang kekasih padanya yaitu, 'I love you'. Tiga kata tersebut membuatnya merasa tak perlu mempermasalahkan sikap buruknya, seperti lebih sering pergi bersama teman pria, terlalu banyak mengkritik, dan kurang menghargainya. Sharon juga tak pernah menjadi prioritas dalam hidup kekasihnya itu, tapi dia tidak mengeluh. Hal itu karena sang kekasih mengatakan mencintainya.
Ketika Sharon mencoba mengajak kekasihnya itu berbicara soal pernikahan, pria tersebut selalu berkata dia masih butuh lebih banyak waktu untuk bersama (sebagai kekasih). Namun dia meyakinkan Sharon bahwa dia ingin menikah, hanya saja belum siap.
Sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga dengan banyak konflik, Sharon berusaha untuk menghindari pertengkaran dengan kekasihnya. Dia terus mengusahakan hubungan asmaranya dengan sang kekasih bisa berhasil. Dia pun berusaha menyenangkan atau membuat bahagia pasangannya. Sharon percaya hal itu adalah kunci kesuksesan sebuah hubungan.
Tapi tentu saja kemudian Sharon merasa dirinya bodoh. Setelah lima tahun pacaran dan tidak ada tanda-tanda akan menikah, dia memutuskan jalinan asmaranya dengan pria tersebut. "Aku cukup frustasi dan berpikir dengan perpisahan itu, bisa membuatnya sadar seharusnya menikah denganku. Tapi ternyata tidak. Dia mulai berkencan dengan orang lain dua minggu kemudian," tuturnya.
Sharon merasa selama ini dirinya terus 'diracuni' oleh pernyataan 'I love you', sehingga dia percaya pada ucapan tersebut. Namun kenyataannya, ucapannya itu hanyalah sekadar kata-kata. Sharon mengatakan, tidak besar dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih, jadi membuatnya tidak tahu cinta itu seharusnya seperti apa. Dia menganggap ucapan 'I love you' itu sudah cukup.
Wanita yang sudah mewawancarai 400 orang yang orangtuanya bercerai itu kini merasa egonya terluka pasca putus cinta. Dia merasa malu karena bertahan dalam sebuah hubungan yang sakit selama lima tahun hanya karena dirinya begitu rapuh pada tiga kata, 'I love you'.
Sharon pun mencoba mengambil hikmah dari perpisahannya itu dan berharap bisa jadi pelajaran untuk wanita lainnya. Saat seorang pria mengatakan 'I love you' pada Anda, tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah sikapnya menunjukkan perkataannya itu. Memang perkataan cinta itu manis didengar, tapi tentunya juga harus didukung dengan sikap yang sama manisnya. Kalau tidak, ucapan tersebut hanyalah sebuah perkataan tanpa arti. Apakah Anda setuju?
(eny/eny)











































