Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Pernikahan Retak: Cerai atau Bertahan Demi Anak?

wolipop
Kamis, 20 Okt 2011 08:32 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Cukup banyak pasangan yang bingung mengambil keputusan saat pernikahan mereka sudah retak. Pasangan tersebut sulit memilih antara tetap bertahan demi anak atau bercerai.

Kalau bercerai, sudah pasti keputusan tersebut akan membuat anak sedih. Awalnya, anak-anak juga bisa sulit menerima kondisi itu.

Untuk Anda yang tengah dilematis, berikut beberapa informasi yang bisa menjadi referensi sebelum mengambil keputusan. Seperti dikutip dari WebMD, penelitian menunjukkan, di masa depan, perceraian bisa jadi pilihan terbaik untuk anak ketimbang tumbuh besar dalam keluarga yang tidak bahagia.

Dalam artikelnya yang dipublikasikan di Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, Joan B. Kelly menulis, sebagian besar anak-anak yang orangtuanya bercerai tetap menjadi anak normal seperti anak-anak pada umumnya.

"Pasangan yang memiliki pernikahan tinggi konflik dan memilih bercerai atau mencari solusi atas konflik tersebut, bisa membuat anak merasakan perubahan yang signifikan di lingkungan rumahnya," ujar Kelly.

Namun hal berbeda dirasakan anak, jika ia berada dalam keluarga yang konflik antara orangtua jarang terjadi. Si anak bisa sangat terpukul ketika orangtuanya bercerai.

"Lebih mudah menjelaskan pada anak yang sering melihat orangtuanya bertengkar terus- menerus. Tapi saat anak berasal dari keluarga rendah konflik, mereka terkadang tidak paham apa yang salah," urai Kelly lagi.

Kondisi tersebut bisa membuat anak dilanda kegelisahan dan kekhawatiran. Hal itu karena anak tidak pernah sadar apa yang terjadi pada kedua orangtuanya. Yang ia pahami adalah, ia kini menjadi kehilangan perhatian dari kedua orangtuanya dan biasanya juga kehilangan sumber ekonomi.

Beberapa penelitian yang dipublikasikan pada 1990-an menunjukkan pernikahan rentan konflik menjadi faktor penting dalam perkembangan anak ketimbang perceraian. Intensitas dan frekuensi konflik antara orangtua, bagaimana konflik itu diatasi dan diselesaikan serta apakah ada bantuan untuk anak, semua hal itu mempengaruhi anak untuk menyesuaikan diri.

Bantuan untuk anak saat menghadapi konflik itu, misalnya hubungan yang baik dengan salah satu orangtua dan dukungan saudara kandung, sangat penting ada. Penelitian pada 1992 mengungkapkan anak-anak yang tumbuh di keluarga tinggi konflik namun memiliki hubungan baik dan dekat dengan saudara kandungnya, bisa menyesuaikan diri dengan baik, sama seperti anak yang tumbuh di keluarga rendah konflik.

Dalam berbagai penelitian tentang perceraian dan dampaknya pada anak itu ditekankan, hal yang paling penting adalah agar orangtua tidak membuat anak harus memilih antara ayah atau ibunya. Penulis buku 'Putting Children First: A Guide for Parents Breaking Up', Hanna McDonough, sangat setuju dengan penekanan di atas.

"Hal yang biasa terjadi dalam keluarga tinggi konflik adalah menggunakan anak sebagai mediator atau pertaruhan. Kalau itu dilakukan tentu efeknya buruk pada anak," jelas McDonough.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bukannya mereka orangtua yang buruk. Hanya saja banyak orangtua yang sangat sedih sehingga mereka tidak sadar mereka sedang menyakiti anak," tambahnya.


(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads