Jakarta
-
Sebuah pernikahan yang tidak sehat bisa menyebabkan kondisi kesehatan menurun. Malah pada wanita, efeknya bisa menyebabkan semakin tingginya risiko terkena sakit jantung.
Penelitian yang dilakukan oleh dua universitas di Pittsburgh dan San Diego membuktikan hal tersebut. Dalam penelitian itu terungkap, wanita yang puas pada hubungan pernikahannya lebih tidak berisiko terkena faktor risiko sakit jantung yaitu sindrom metabolik. Sindrom metabolik adalah serangkaian gejala yang harus diwaspadai saat seseorang memiliki kelebihan berat badan, darah tinggi dan gangguan metabolisme gula.
"Wanita yang secara konsisten melaporkan ketidakpuasan pada pernikahan berada pada risiko tertinggi terkena sindrom metabolik ketimbang mereka yang secara konsisten mengaku puas pada pernikahannya," ujar Troxel dan timnya yang melakukan penelitian ini.
Saat melakukan penelitian itu, Troxel dan rekan-rekannya menganalisa 400 lebih wanita sehat yang saat diteliti berusia 42-50 tahun dan memiliki usia rata-rata 47 tahun. Hampir semua responden wanita tersebut berkulit putih dan bukan keturunan Hispanik.
Para peneliti kemudian meneliti lagi para wanita tersebut 11,5 tahun kemudian. Setelah melihat pada faktor lain yang menyebabkan sindrom metabolik, mereka menemukan:
- Wanita yang tidak puas pada pernikahannya kemungkinan tiga kali lebih mungkin terkena sindrom metabolik.
- Wanita yang berstatus janda 5,7 kali berisiko terkena sindrom metabolik ketimbang yang menikah dan puas pada pernikahannya.
- Wanita yang bercerai dan single dua kali berisiko memiliki sindrom metabolik ketimbang wanita yang bahagia dengan pernikahannya. Namun hasilnya tidak terlalu sigfinikan secara statistik.
"Menariknya, perbandingan antara wanita yang puas pada pernikahan dan wanita single tidak terlalu signifikan secara statistik mungkin karena banyaknya pengalaman wanita single," ujar Troxel.
Tak hanya itu, dalam penelitian tersebut juga diketahui, wanita yang tidak puas pada pernikahannya hanya saat tertentu, tak terlalu tinggi risikonya terkena sakit jantung. Hanya wanita yang dalam jangka waktu lama tidak puas pada pernikahannya lah yang risiko terkena sakit jantungnya tinggi.
(eny/kik)
Penelitian yang dilakukan oleh dua universitas di Pittsburgh dan San Diego membuktikan hal tersebut. Dalam penelitian itu terungkap, wanita yang puas pada hubungan pernikahannya lebih tidak berisiko terkena faktor risiko sakit jantung yaitu sindrom metabolik. Sindrom metabolik adalah serangkaian gejala yang harus diwaspadai saat seseorang memiliki kelebihan berat badan, darah tinggi dan gangguan metabolisme gula.
"Wanita yang secara konsisten melaporkan ketidakpuasan pada pernikahan berada pada risiko tertinggi terkena sindrom metabolik ketimbang mereka yang secara konsisten mengaku puas pada pernikahannya," ujar Troxel dan timnya yang melakukan penelitian ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti kemudian meneliti lagi para wanita tersebut 11,5 tahun kemudian. Setelah melihat pada faktor lain yang menyebabkan sindrom metabolik, mereka menemukan:
- Wanita yang tidak puas pada pernikahannya kemungkinan tiga kali lebih mungkin terkena sindrom metabolik.
- Wanita yang berstatus janda 5,7 kali berisiko terkena sindrom metabolik ketimbang yang menikah dan puas pada pernikahannya.
- Wanita yang bercerai dan single dua kali berisiko memiliki sindrom metabolik ketimbang wanita yang bahagia dengan pernikahannya. Namun hasilnya tidak terlalu sigfinikan secara statistik.
"Menariknya, perbandingan antara wanita yang puas pada pernikahan dan wanita single tidak terlalu signifikan secara statistik mungkin karena banyaknya pengalaman wanita single," ujar Troxel.
Tak hanya itu, dalam penelitian tersebut juga diketahui, wanita yang tidak puas pada pernikahannya hanya saat tertentu, tak terlalu tinggi risikonya terkena sakit jantung. Hanya wanita yang dalam jangka waktu lama tidak puas pada pernikahannya lah yang risiko terkena sakit jantungnya tinggi.
(eny/kik)










































