ADVERTISEMENT

Viral Nonaktifkan Centang Biru di WA Tidak Beradab, Ini Kata Pakar Komunikasi

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 09 Jan 2022 08:00 WIB
Close up of a depressed Caucasian young woman sitting at home, reading some bad news on her smart phone, feeling sad and worried Ilustrasi wanita yang sedang mengirimkan pesan lewat WhatsApp. Foto: Getty Images/iStockphoto/AntonioGuillem.
Jakarta -

Salah satu fitur di aplikasi WhatsApp adalah centang biru, yang artinya kamu bisa melihat pesan sudah dibaca oleh penerima pesan. Namun ada sebagian orang memilih untuk tidak mengaktifkan fitur centang biru, dengan berbagai alasan.

Baru-baru ini beredar unggahan di media sosial, jika menonaktifkan centang biru termasuk perilaku tidak beradab. Unggahan tersebut langsung menuai kritik dari warganet.

Unggahan dari akun @habibiequotes_ soal nonaktif centang biru di WhatsApp itu viral setelah diunggah ulang oleh akun Twitter @AREAJULID. Postingan tersebut langsung dibanjiri oleh komentar warganet dan menuai pro dan kontra.

"Jangan sembunyikan centang biru. Menonaktifkan atau menyembunyikan tanda centang biru pada Whatsapp termasuk perilaku tidak memiliki adab, tidak menghargai orang lain, tidak jujur atau berbohong dalam komunikasi," tulis akun @habibiequotes_.

"Dis! Gimana menurut kalian?" tanya akun Twitter @AREAJULID. Kisah viralnya KLIK DISINI.

Istanbul, Turkey - July 11, 2016: Apple iPhone 6s screen with social media applications icons Facebook, Instagram, Twitter, Spotify, Youtube, Messenger, Apple Music, Safari, Maps, Whatsapp etc.Aplikasi pesan WhatsApp.. Foto: Getty Images/bombuscreative.

Pakar komunikasi Soal Perdebatan Nonaktifkan Centang Biru

Menurut Dr. Emrus Sihombing, komunikolog Indonesia jika melihat dari berbagai perspektif, handphone merupakanmedia komunikasi dengan siapapun. Ketika berkomunikasi melalui Whatsapp, berarti ada niat atau kepentingan yang ingin disampaikan kepada orang yang menerima pesan.

"Idealnya harus ada centang biru dan lebih baik dijawab atau dibalas. Kita memiliki handphone agar bisa berinteraksi dengan orang lain," ungkap Emrus kepada Wolipop lewat telepon baru-baru ini.

Namun menurut pakar komunikasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) ini handphone sendiri juga sesuatu yang privasi atau kepentingan pribadi. Jadi merupakan hak dari pengguna WhatsApp tersebut untuk menonaktifkan centang biru dan tidak menjawab pesan.

Foto Dr. Emrus Sihombing, Komunikolog Indonesia.Foto Dr. Emrus Sihombing, Komunikolog Indonesia. Foto: Dok. pribadi Dr. Emrus Sihombing.

"Perilaku tersebut juga etis, artinya baik untuk dirinya karena bisa saja pesan WhatsApp tersebut bersifat menganggu, mengancam, menipu bahkan tidak sesuai etika. Jadi itu tidak perlu direspon karena wasting energy untuk itu," kata Emrus.

Ia menjelaskan etis atau tidaknya menonaktifkan centang biru di WhatsApp tergantung dari perspektif orang yang melihat. Hanya saja Emrus menganjurkan akan lebih produktif, menghargai orang, mendidik dan setara dengan orang lain adalah dengan memberikan balasan dan mengaktifkan centang biru di WhatsApp.

Jika ada pesan yang isinya menipu atau dari pinjaman online misalnya, Emrus menuturkan sebaiknya kita sesama manusia jika menerima pesan yang kurang menyenangkan, mendidik pengirim pesan. Hal itu agar si pengirim pesan tidak melakukan itu lagi.

"Halo, saya tidak setuju pesan WhatsApp anda. Mohon maaf pesan seperti ini tidak dikirim lagi," begitu kata-kata yang disarankanya.

"Walaupun kita sudah mengingatkan tetapi dia tetap melakukannya, ya sudah nggak papa. Karena tanggung jawab kita sesama manusia, mereka sudah kita ingatkan. Sekalipun mereka tidak gubris. Tanggung jawab sosial kita sudah kita sampaikan," lanjut Emrus.

Emrus pun berharap sesama pengguna WhatsApp bisa membudayakan komunikasi beradab di ruang publik. Dan komunikasi beradab satu dengan yang lain.

"Salah satunya mengingatkan orang yang berkomunikasi kurang beradab, lalu kita adabkan dia atau kita reminder," pungkas Emrus.

Saksikan juga: Tangis Rindu Pak Ogah Pada Pak Raden

[Gambas:Video 20detik]



(gaf/eny)