Pria dan Wanita 50-an Tahun Bisa Cari Jodoh Via Aplikasi Mirip Tinder Ini

Hestianingsih - wolipop Selasa, 24 Nov 2015 11:19 WIB
Dok. Thinkstock, Stitch
Jakarta -

Tidak semua orang beruntung bisa bersama-sama pasangan mereka hingga usia senja. Entah karena terpisahkan oleh maut atau perceraian. Dikutip dari Daily Mail, tiga dari 10 orang berusia antara 51-69 tahun menyandang status single.

Mencari pasangan di usia yang sudah tidak muda lagi bukan perkara mudah, meskipun bukan tidak mungkin dilakukan. Namun tentu tidak semudah ketika masih remaja atau beranjak dewasa. Membantu para single berusia lanjut mendapatkan pasangan, kini hadir aplikasi kencan khusus usia 50 tahun ke atas.

Dinamakan Stitch, aplikasi ini mengklaim bisa membantu orang-orang lansia menjalani hubungan asmara yang lebih bermakna. Bukan sekadar mencari teman hanya untuk iseng atau berkencan sekali-dua kali.

Aplikasi ini mirip Tinder, dimana penggunanya bisa 'swipe' kiri atau kanan untuk memilih profil yang disukai dan tidak disukai. Jika sama-sama suka, pengguna akan mendapatkan notifikasi 'It's a stitch' bukan 'It's a match' seperti halnya Tinder.

Stitch, mempunyai 'misi' mempertemukan lansia dengan pasangan yang menyukai kegiatan spesifik. Misalnya tari salsa, mencicip wine atau pergi ke bioskop.

"Awalnya saya merasa terganggu (dengan Tinder), tapi kemudian saya menyadari ternyata banyak pengguna yang menemukan aplikasi ini dengan Googling 'Tinder for seniors' karena mereka tahu anak-anak mereka main itu dan ingin tahu apa ada aplikasi serupa untuk mereka," ujar Marcie Rogo dalam wawancara bersama CNBC.

Baca Juga: 50 Foto Before-After Selebriti yang Operasi Plastik

Aplikasi ini sendiri sudah ada sejak Juli 2014 namun baru menjadi booming beberapa bulan belakangan. Marcie mengklaim bahwa Stitch bukan sekadar situs atau aplikasi perjodohan tapi juga memungkinkan penggunanya menemukan teman atau menjalin persaudaraan, jika itu yang memang mereka cari.

Sebelum bisa menjadi member dan menggunakan aplikasi, pengguna harus melewati proses verifikasi. Salah satunya dengan mengirimkan foto scan SIM. Mungkin hal itu diperlukan untuk memastikan mereka benar-benar anggota berusia lanjut. Setelah diverifikasi dan menemukan pasangan 'stitch' nya, maka mereka bisa chatting atau bertelepon sebelum bertemu langsung.

Pengguna juga bisa bergabung dalam aktivitas kelompok, merencanakan traveling atau mengobrol dengan komunitas di forum. Sejak pertamakali diluncurkan hingga Oktober 2015, Stitch sudah berhasil menjaring 25.000 member.

"Kami ingin menjadikan Stitch mudah diakses untuk semua kalangan lansia," kata Marcie.

Ia menambahkan bahwa ide menciptakan aplikasi ini muncul setelah melakukan pengamatan terhadap komunitas lansia di Amerika. Marcie prihatin karena ada kecenderungan keluarga-keluarga di Amerika yang mengirimkan keluarga mereka yang sudah berusia lanjut ke panti jompo sehingga merasa menjadi beban.

"Mereka merasa sudah menjadi beban bagi keluarga dan memang susah seharusnya hanya duduk-duduk di tempat itu dan meninggal. Para kakek-nenek ini seringkali dianggap mengganggu, atau jadi beban atau mereka jauh dan Anda tidak perlu melihatnya lagi. Bukan begini seharusnya Anda memperlakukan orang yang telah melewati proses hidup ini," pungkasnya.

(hst/hst)