Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

4 Masalah Seks yang Bisa Menghancurkan Pernikahan

Hestianingsih - wolipop
Jumat, 25 Nov 2016 19:47 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Ada berbagai hal yang bisa menyebabkan perceraian suami istri. Mulai dari perselingkuhan, perbedaan prinsip hingga masalah finansial. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa masalah dalam kehidupan seks juga bisa memicu perpecahan rumah tangga.

Sebagian orang menganggap seks bukanlah faktor utama dalam mempertahankan kehidupan pernikahan yang langgeng. Namun ternyata kehidupan seks yang buruk, bisa menjadi alasan utama sebuah rumah tangga bermasalah dan berujung pada perceraian. Kenapa begitu?

"Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa seks bisa menjadi, istilahnya, 'sedotan' yang mematahkan punggung unta dalam pernikahan," ujar Aline Zoldbrod, Ph.D., terapis seks dan psikolog asal Boston, Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini empat pengakuan orang yang rumah tangganya kandas karena masalah seks, seperti dikutip dari Men's Health:

1. Tidak Pernah Mencoba Sesuatu yang Baru
Kebosanan dan rutinitas dalam bercinta bisa jadi akar permasalahan rumah tangga yang semakin lama semakin berat, hingga sulit diperbaiki lagi. Ketika pasangan merasa terperangkap dalam kebosanan, maka yang terjadi adalah sikap emosional dan perasaan yang lebih sensitif sehingga lebih cepat menimbulkan konflik.

"Setelah menikah, menurut saya kami merasa terjebak (dalam rutinitas) dan tidak bisa menemukan hal-hal baru dalam bercinta. Kami seharusnya bisa lebih terbuka satu sama lain, tapi setelah punya anak dan kemudian keguguran, seks tidak pernah benar-benar menyenangkan," kata seorang pria berusia 31 tahun, yang kini lebih memilih menjadi teman ketimbang suami-istri.

2. Gairah Bercinta Tidak Sinkron
Gairah seks pria dan wanita terkadang tidak sinkron. Pria umumnya tinggi gairah seksnya di pagi hari, sementara wanita lebih nyaman di malam hari. Ketika hasrat seks suami sedang tinggi-tingginya, sang istri justru merasa lelah dan enggan bercinta. Hal itu menyebabkan seks jadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan, sehingga pasangan bisa saja mencari kepuasan biologis di tempat lain. Akhirnya, perselingkuhan pun tak terelakkan.

"Aku dan suamiku gairah bercintanya tidak sejalan, jadi dia selingkuh. Pada akhirnya, dia memutuskan tidak ingin hanya beristri satu, jadi aku pergi," ungkap seorang wanita bernama Claire.

3. Seks Terlalu Direncanakan
Menjadwalkan seks merupakan hal yang baik untuk memastikan pasangan bisa rutin bercinta. Tapi tak ada salahnya juga jika seks dilakukan secara spontan sebagai bumbu dalam kehidupan bercinta. Seorang pria mengaku, istri menganggap seks sebagai sesuatu yang sangat serius hingga harus memiliki skenario yang spesifik dalam bercinta. Sang suami pun diharuskan mengikuti skenario tersebut sehingga seks bukanlah lagi sesuatu yang membuat nyaman dan senang, tapi lebih kepada sebuah pekerjaan.

"Bahkan meskipun dia yang berinisiatif bercinta, dia masih mengharapkan saya untuk melakukan semua gerakan. Semuanya seperti pekerjaan dan tidak ada waktu bermain-main," ungkapnya.

4. Mengabaikan Kebutuhan Pasangan Akan Seks
Hasrat seks pria umumnya muncul lebih cepat karena sedikit saja stimulasi atau rangsangan dari pasangannya. Pria juga umumnya lebih mudah orgasme ketimbang wanita. Sedangkan wanita, biasanya menginginkan aktivitas dan penetrasi seks yang lebih lama untuk bisa mencapai klimaks. Jika pria tidak memahami hal ini dan terus saja memikirkan dirinya sendiri, pernikahan bisa berisiko hancur karena istri yang selalu merasa kurang puas. (hst/ays)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads