Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

14 Penelitian Terbaru Soal Seks Sepanjang 2014 (Bag. 2)

wolipop
Selasa, 23 Des 2014 19:15 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Tahukah Anda bercinta tipe kepribadian menentukan kualitas hubungan seks? Dan apa saja sebenarnya alasan wanita berpura-pura orgasme? Berbagai pertanyaan tersebut terjawab dalam sejumlah riset yang terungkap di 2014. Setelah bagian pertamanya, inilah bagian kedua berbagai riset soal kehidupan seks sepanjang tahun ini.


8. Orgasme Palsu

Sebuah survei yang diadakan saat Piala Dunia digelar mengungkapkan kebiasaan bercinta orang-orang dari berbagai negara. Survei yang dilakukan oleh situs online shop ternama di Inggris yang menjual berbagai alat penunjang keintiman pasangan yaitu Lovehoney itu mengungkapkan, orang-orang dari Amerika Latin sebagai 'penipu' nomer satu dalam hal berpura-pura klimaks. 70% orang di negeri tersebut yang mengikuti survei, mengaku pernah memalsukan orgasme atau klimaks mereka. Sedangkan secara umum, 50% orang dewasa yang aktif secara seksual pernah melakukan hal serupa seperti orang Amerika Latin tersebut.

Riset dari Lovehoney ini juga mengungkapkan mengenai performa seksual. Orang Yunani meyakini bahwa mereka lah orang yang paling pandai memuaskan pasangan dalam hal bercinta. Hal sebaliknya dipercaya orang Belanda. Hanya 6% dari mereka yang merasa piawai dalam urusan ranjang.

9. Gangguan Kejiwaan

Penelitian terbaru mengungkapkan salah satu penyebab seseorang merasa tidak puas pada aktivitas bercintanya adalah karena gangguan kejiwaan yang dinamai ROCD atau relationship obsessive-compulsive disorder. ROCD merupakan gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya terus-menerus merasa khawatir atau memikirkan hal secara berlebihan. Dia akan berperilaku sesuai dengan hal yang dikhawatirkannya itu. Pada kasus ROCD, si penderita akan sering mempertanyakan apakah dirinya benar-benar mencintai pasangannya, meragukan cinta pasangannya atau berlebihan memikirkan kelemahan fisik pasangan.

Riset yang diterbitkan di Journal of Sexual Medicine pada awal Juni 2014 lalu mengungkapkan, orang dengan ROCD cenderung tidak merasa puas dengan kehidupan seksnya. Dalam jurnal tersebut disebutkan, rendahnya kepuasaan seks penderita ROCD terjadi karena orang tersebut juga merasa tidak bahagia dengan hubungan yang mereka miliki dengan pasangannya. Ketika seseorang menderita ROCD, hal itu akan menurunkan tingkat kebahagiaannya pada hubungan percintaan yang dijalaninya.

10. Sakit Kepala

Hasil riset yang diungkapkan pada Mei 2014 melihat bagaimana reaksi wanita dan pria terhadap seks saat rasa sakit di kepala datang. Dalam situs resminya, paingeneticslab, peneliti Jeffrey Mogil mencoba menelaah hubungan antara seks dan sakit kepala. Dia melakukan percobaan menggunakan tikus untuk mengetahui hubungan dua hal tersebut.

Dari riset pria lulusan doktor Universitas California ini diketahui, tikus betina yang menderita sakit kepala lebih memilih tidak berdekatan dengan lawan jenisnya. Hubungan seks di antara tikus ini saat sakit kepala datang bisa menjadi sangat jarang atau tidak ada sama sekali. Dan ketika sakit kepala itu berhasil diobati, tikus betina siap untuk kembali intim dengan lawan jenisnya.

Reaksi berbeda terhadap seks ditunjukkan tikus jantan. Saat sakit kepala menyerang, tikus jantan akan tetap bercinta. Mereka berusaha mengatasi atau menahan rasa sakitnya tersebut dan tidak kehilangan gairah untuk berhubungan intim.

11. Frekuensi Bercinta

Bercinta satu kali seminggu ternyata tidak cukup bagi sebagian besar pasangan. Menurut hasil survei yang dilakukan situs kencan online Elite Singles pada April 2014, berhubungan seks beberapa kali dalam seminggu adalah frekuensi yang ideal untuk menjaga keharmonisan hubungan suami istri.

Survei melibatkan sekitar 600 orang yang merupakan member kencan online yang memiliki franchise di beberapa negara seperti Amerika, Inggris, Australia dan New Zealand tersebut. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar pengaruh hubungan seks terhadap romantisme pasangan. Hasilnya cukup menarik, karena baik pria maupun wanita sepakat bahwa seks seminggu sekali tidaklah cukup. Sebanyak 65 persen wanita dan 69 persen pria mengaku suka bercinta lebih dari satu kali dalam seminggu.

12. Alasan Pura-pura Orgasme

Penelitian terbaru yang dilakukan pada Maret 2014 mengungkapkan alasan wanita memalsukan orgasmenya. Riset dilakukan oleh para peneliti dari Temple University dan Kenyon College. Dalam riset berjudul 'The Faking Orgasm Scale for Women: Psychometric Properties' yang dipublikasikan di Journal of Sexual Archives itu, ada 481 wanita heteroseksual dengan rata-rata usia 20-an tahun terlibat sebagai responden. Saat diteliti, para responden ini ditanya seberapa besar empat faktor berikut mempengaruhi keputusan mereka untuk memalsukan orgasme. Empat faktor itu adalah:

1. Altruistic deceit: memalsukan orgasme karena ingin membuat pasangan bahagia.
2. Fear and insecurity: memalsukan orgasme untuk menghindari perasaan negatif terhadap seks.
3. Elevated Arousal: memalsukan orgasme untuk meningkatkan gairah seks diri sendiri
4. Sexual Adjourment: memalsukan orgasme agar sesi bercinta segera selesai.

Setelah diteliti, jawaban sebagian besar responden adalag faktor pertama, yaitu karena ingin membahagiakan pasangan. Dan alasan kedua wanita memalsukan orgasmenya adalah karena perasaan takut dan insecure.

13. Tipe Kepribadian

Apa tipe kepribadian Anda, ekstrovert atau introvert? Percaya atau tidak riset yang dipublikasikan di Februari 2014 membuktikan kepribadian seorang wanita bisa menentukan kualitas hubungan seksnya dengan pasangan. Riset tersebut dipublikasikan dalam jurnal Sexual Medicine. Dalam riset itu diketahui 43% wanita mengalami disfungsi seksual seperti libido rendah, jarang orgasme hingga sakit saat bercinta. Dan dari riset tersebut terungkap masalah disfungsi seksual ini berkaitan dengan kepribadian wanita tersebut.

Berdasarkan jawaban dari responden diketahui, wanita yang memiliki kepribadian kurang ekstrovert (tidak mudah bergaul dan kurang energetik) mengalami masalah disfungsi seksual paling buruk. Hal serupa juga dialami wanita yang tidak mampu mengalami masalahnya dengan cepat, seperti dengan menyalahkan dirinya sendiri.

14. Seks = Olahraga

Riset yang dilakukan Universitas Quebec Kanada membuktikan seks bisa setara dengan olahraga asal dilakukan selama satu jam. Dalam risetnya, peneliti merekrut 20 pasangan berusia 18-35 sebagai responden. Mereka diminta bercinta satu minggu sekali selama sebulan dan lari menggunakan treadmill selama 30 menit. Selama diteliti, responden menggunakan gelang khusus sehingga energi yang mereka keluarkan dapat dihitung. Responden juga diminta mengisi kuisioner untuk mengetahui tingkat kesenangan mereka.

Setelah diteliti diketahui, pria menghabiskan 120 kalori selama bercinta setengah jam. Sedangkan wanita dalam jangka waktu yang sama, seks membakar 90 kalori. Jumlah kalori yang dibakar pria dan wanita saat bercinta itu, menurut para peneliti, sama dengan ketika Anda berlari atau jogging selama 30 menit. Malah pada pria, bercinta dalam jangka waktu tertentu bisa membuat mereka membakar lebih banyak kalori dibandingkan dengan treadmill.
(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads