Susu Bear Brand Diborong, Ini 3 Alasan Orang Panic Buying

Hestianingsih - wolipop Senin, 05 Jul 2021 12:45 WIB
Panic buying... as shoppers going round for their daily essentials at local supermarket in Bayan Baru, Penang.

Starpic By: ZAINUDIN AHAD/The Star / 11 Mac 202 Alasan orang panic buying. Foto: The Star/SYSTEM
Jakarta -

Beredar viral di media sosial orang-orang berebut membeli susu Bear Brand yang disebut bisa mengatasi virus Corona. Apa alasan orang panic buying?

Pandemi virus Corona yang semakin menggila di Indonesia pada Juni dan Juli 2021 ini membuat orang kembali panic buying. Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial memperlihatkan momen ornag-orang berebut membeli susu Bear Brand.

Selain susu, sederet makanan dan minuman yang diyakini bisa membunuh dan mencegah virus Corona pun habis diburu orang. Jika dulu masker dan hand sanitizer, kini susu dan vitamin cepat habis di mana-mana sehingga memicu timbulnya sejumlah oknum yang menjualnya hingga ratusan kali mahalnya dari harga normal.

Apa yang membuat orang berbondong-bondong membeli vitamin hingga susu di masa pandemi COVID-19 yang semakin menelan banyak korban ini?

Berikut tiga alasan orang panic buying:

5 Fakta Susu Beruang yang Diburu Selama Pandemi Covid-19Susu Bear Brand diborong Foto: iStock

1. Media Sosial

Media sosial menjadi agen yang paling berkontribusi membuat masyarakat melakukan panic buying dan menumpuk barang. Postingan foto yang memperlihatkan rak-rak kosong di supermarket dan antrean mengular di di kasir secara tidak langsung memengaruhi otak agar ikut juga memborong belanjaan karena takut kehabisan stok.

"Seseorang akan mengunggah foto di Instagram dan media sosial lainnya tentang keranjang belanja yang penuh menggunung dan rak-rak kosong di department store," ujar Profesor University of British Columbia Steven Taylor, seperti dikutip dari CBC.

Unggahan foto-foto tersebut kemudian menjadi viral sehingga menciptakan ilusi pada alam bawah sadar akan adanya kondisi darurat dan kelangkaan barang. "Itulah yang memicu panic buying," jelas penulis 'The Psychology of Pandemics: Preparing for the Next Global Outbreak' ini.

Dari banyaknya foto yang memperlihatkan tentang kepanikan, menurutnya sangat jarang postingan yang menunjukkan kondisi sebaliknya. Sebab media memang membutuhkan gambar-gambar dramatis agar lebih diperhatikan orang.

"Tidak ada postingan foto orang-orang belanja dengan santai dan stok barang yang masih penuh di department store atau supermarket. Ketika kamu melihat foto-foto tersebut, sadarlah bahwa apa yang tergambar di situ tidak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya," tutur Steven.

2. Herd Effect

Ketergesaan memborong dan menumpuk stok barang ini disebut dengan istilah 'herd effect', yang dipicu oleh ketakutan akan penyakit menular. Menurut Steven 'panic buying' ini merupakan salah satu bentuk reaksi yang nyaris refleks.

Dia pun mengimbau agar pemerintah terutama Kementerian Kesehatan segera melakukan tindakan untuk menyeimbangkan keadaan. Berusaha tidak menimbulkan kepanikan berlebihan tapi di sisi lain juga meningkatkan kewaspadaan masyarakat agar mau melindungi diri sendiri dan orang lain.

3. Ketakutan akan Hal yang Tidak Diketahui

Secara umum, orang akan merasakan stres, ketakutan dan kegelisahan saat virus merebak. Tekanan ini yang kemudian menyebabkan manusia tidak mampu memprediksi apa yang akan mereka hadapi atau terjadi saat pandemi virus terjadi.

Ketakutan akan hal yang tidak diketahui ini dipengaruhi kurangnya pengetahuan mengenai virus yang tengah mewabah. Ini menyebabkan ketidakpastian, sehingga membuat orang jadi membayangkan berbagai skenario, sehingga semakin menambah ketakutannya.

Riset yang diungkapkan dalam jurnal berjudul The Psychological Causes of Panic Buying Following a Health Crisis mengungkapkan, ketakutan membuat seseorang termotivasi membeli atau belanja karena hal itu dapat meredakan ketakutan mereka, menimbulkan kenyamanan dan mengurangi stres. Alasan orang panic buying karena ketakutan ini membuat seseorang membeli benda atau barang yang sebenarnya tidak benar-benar mereka butuhkan.



Simak Video "Cerita Titiek Puspa Puasa Perhiasan Selama Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)