Bersantap di Baan Maisie, Ketika Desain Retro Bertemu Tradisi Rasa Thailand
Sebingkai foto mendiang Raja Thailand Bhumibol Adulyadej (Rama IX) terpajang tenang di salah satu sudut dinding. Sebuah penanda yang halus sekaligus kuat bahwa di balik suasana yang tampak seperti lounge modern ini, tersembunyi akar tradisi kuliner Thailand yang ingin dihadirkan secara serius oleh Baan Maisie di Plaza Indonesia.
Kesan itu memang tidak datang seketika. Begitu melangkah masuk, alih-alih nuansa restoran Asia yang kental, pengunjung justru disambut ruang bergaya lounge dan bar yang terasa kosmopolitan. Area depan didominasi bar panjang dengan rak minuman tersusun rapi, pencahayaan hangat, serta sentuhan kayu pada hampir seluruh elemen-dari langit-langit berpanel hingga furnitur.
Sofa kulit berwarna gelap berpadu dengan meja marmer berpola lembut, menciptakan atmosfer yang mengundang untuk duduk lama, berbincang santai, atau sekadar menikmati satu-dua gelas cocktail atau mocktail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Desain interior Baan Maisie terasa seperti dialog antara retro dan modern. Lampu gantung bergaya klasik dengan lengan logam yang memanjang ke meja bundar memberi sentuhan dramatis, sementara panel dinding bertekstur dan pencahayaan tersembunyi menghadirkan kesan kontemporer yang rapi. Di beberapa sudut, tanaman hijau besar menjadi aksen yang menyegarkan, memecah dominasi warna kayu yang hangat.
Barulah ketika melangkah lebih dalam, suasana berubah menjadi lebih intim dan "restoran" dalam arti yang lebih konvensional. Area makan utama menghadirkan booth melengkung dengan dudukan empuk, meja bundar yang lebih privat, serta dekorasi dinding berupa kolase lukisan dan artefak bergaya Thailand. Di sinilah foto Raja Thailand itu berada, seolah menjadi jangkar identitas di tengah ruang yang stylish tapi tidak secara eksplisit "tradisional".
Foto: Daniel Ngantung/detikcom |
Atmosfer yang terbagi dua ini menarik: di satu sisi, Baan Maisie terasa seperti tempat untuk bersosialisasi dengan gaya; di sisi lain, ia tetap berusaha mempertahankan narasi budaya lewat detail-detail visualnya.
Pengalaman bersantap dimulai dengan beberapa hidangan pembuka. Salmon Salad (Rp 195.000) hadir dengan potongan salmon segar yang lembut, berpadu dengan sayuran renyah dan dressing yang memadukan rasa asam, pedas, dan sedikit manis khas Thailand. Secara keseluruhan, hidangan ini menyegarkan, meski profil rasanya cenderung "aman"-tidak terlalu tajam bagi mereka yang mencari sensasi Thai yang lebih berani.
Salmon Salad. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Tod Man Khao Phod atau perkedel jagung (Rp 55.000) menjadi salah satu yang paling menyenangkan di meja. Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam, dengan rasa gurih yang cukup kuat. Ini adalah comfort food yang sederhana namun dieksekusi dengan baik.
Sementara itu, Miang Kham (Rp 60.000) menawarkan pengalaman yang lebih interaktif. Daun sirih segar diisi dengan kelapa sangrai, jeruk nipis, bawang merah, cabai, udang kering, dan kacang. Setiap gigitan menghadirkan ledakan rasa, manis, asam, asin, pedas-yang kompleks dan khas. Ini mungkin salah satu menu yang paling "Thailand" dalam keseluruhan sajian.
Miang Kham (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Untuk hidangan utama, Khao Pad Makop Nang atau olive fried rice (Rp 105.000) tampil menarik dengan kombinasi nasi goreng, zaitun hitam, dan sosis ayam. Rasa gurihnya cukup seimbang, dengan tambahan kacang mete dan perasan jeruk nipis yang memberi dimensi segar. Namun, bagi sebagian orang, penggunaan zaitun mungkin terasa sedikit asing dalam konteks nasi goreng Thailand, sebuah eksperimen yang menarik, meski tidak sepenuhnya konvensional.
Chayote with Salted Fish (Rp 65.000) menjadi pilihan yang lebih ringan. Labu siam dimasak dengan ikan asin, menghasilkan rasa yang sederhana namun comforting. Sayangnya, hidangan ini terasa agak kurang "nendang" dibandingkan menu lain-profil rasanya cenderung datar dan kurang eksploratif.
Nasi Goreng Black Olive. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Untuk minuman, Thai Tea with Milk (Rp 35.000) hadir dengan rasa klasik yang creamy dan manis, meski tingkat kemanisannya mungkin sedikit berlebih bagi sebagian orang. Sementara natural rose drink (Rp 30.000) menawarkan alternatif yang lebih ringan dan aromatik-segar, floral, dan cukup menenangkan, terutama untuk menyeimbangkan hidangan yang kaya rasa.
Secara keseluruhan, Baan Maisie adalah pengalaman yang lebih dari sekadar makan. Ia adalah ruang yang dirancang untuk dinikmati, baik dari sisi visual maupun suasana. Interiornya menjadi daya tarik utama: hangat, stylish, dan cukup fleksibel untuk berbagai suasana, dari santai hingga semi-formal.
Restoran Thailand Baan Maisie di Plaza Indonesia, baru dibuka pada akhir 2025. Foto: Daniel Ngantung/detikcom |
Namun dari sisi rasa, meski beberapa hidangan berhasil menonjol, sebagian lainnya terasa masih bermain aman. Baan Maisie tampaknya sedang mencari titik keseimbangan antara autentisitas dan adaptasi. Antara menjadi restoran Thailand yang "serius" dan tempat hangout yang trendi.
Dan mungkin,justru di situlah identitasnya terbentuk.
(dtg/dtg)


















































