Lelah Sering Perang Mulut dengan Suami, Bisakah Pernikahan Bertahan?
wolipop
Kamis, 09 Jan 2014 12:44 WIB
Jakarta
-
Saya Rina, baru menikah sekitar 4 bulan ini. Sejak pacaran selama hampir lima tahun, saya dengan suami saya sekarang ini sering berantem karena perbedaan prinsip, bahkan oleh hal-hal sepele. Ini menjadi salah satu sebab suami saya selingkuh waktu kami pacaran dulu. Kami memutuskan untuk berpisah, namun hati kami tidak bisa hingga jalan hidup berkata lain, kami berjodoh. Sejak menikah, saya berpikir intensitas pertengkaran itu akan berkurang. Ternyata tidak. Seringkali karena hal-hal sepele kami perang mulut. Kadang saya merasa, mungkin memang salah saya sebagai isteri belum bisa sabar menghadapi suami saya yang keras. Namun, kalau tiap hari ada saja salah yang dibuat suami saya yang memancing kemarahan saya. Entah sikapnya yang cuek lah, suka berantakanlah di rumah atau dia yang malas ibadah.
Berkali-kali saya nasehati dengan cara lunak, kasar sampai saya maki-maki dia, tapi tidak juga berubah. Padahal dia sudah berjanji sebelum menikah. Namun karena sifatnya yang masih begitu, saya jadi kecewa dan semakin kecewa. Lalu saya ingat bagaimana dulu dia pernah selingkuh, itu membuat saya tambah benci dan menyesal telah memutuskan untuk menikah dengannya. Tapi, jauh di lubuk hati yang paling dalam saya merasa sangat mencintainya dan saya tahu suami saya juga mencintai saya sepenuhnya. Lalu, bagaimana cara saya harus bersikap mba, menghadapi dia yang selalu begitu dan begitu lagi. Saya capek....mungkin dia juga capek melihat saya marah-marah dan menangis terus. Saya nggak ingin rumah tangga saya hancur, saya ingin rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrahman. Mohon bantu kasih solusinya mba. Terima kasih sebelumnya dari saya.
Rina, 25 Tahun
Jawab:
Dear Rina yang baik,
Usia pernikahan kalian masih terbilang baru namun sudah banyak pertengkaran yang kalian hadapi. Pasti tidak menyenangkan mengalami hal ini setiap hari. Dalam kehidupan pernikahan memang bukan hal yang mudah untuk menyatukan perbedaan, terutama perbedaan kebiasaan dan prinsip. Kata kunci sebenarnya memang bukan pada menyatukan perbedaan karena tidak mungkin perbedaan dapat disatukan.
Kata kuncinya adalah pada respect, menghargai dan menerima perbedaan yang ada termasuk perbedaan dalam kebiasaan, budaya, pola asuh dan prinsip. Bila kita dapat melakukan hal ini maka kehidupan pernikahan akan lebih tenang, terdapat saling pemahaman dan pengertian di dalamnya. Tidak ada lagi harapan atau ekspektasi kita terhadap pasangan yang terlalu berlebihan, seperti berharap pasangan mengubah kebiasaannya, mengubah cara pikirnya, dan hal-hal lain yang sebenarnya kita tahu itu bukan dirinya. Sebab hanya akan menghasilkan kekecewaan bila kita menikahi seseorang yang kita harap dapat berubah atau mengubahnya menjadi seperti yang kita inginkan.
Kenyataannya berubah itu bukanlah hal yang mudah bahkan bagi diri sendiri yang sudah memiliki keinginan dan kesadaran untuk berubah sekalipun, perubahan itu tidaklah mudah. Oleh karena itu akan lebih menyenangkan bila kita dengan sadar menjalani pernikahan dengan penerimaan sepenuhnya terhadap diri pasangan. Hal ini sangat tidak mudah untuk dilakukan karena berarti kita harus mengorbankan sebagian idealisme dan kepentingan diri sendiri untuk dapat memperhatikan sudut pandang dan kepentingan orang lain (pasangan). Namun ingat bahwa untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrahman memang membutuhkan pengorbanan dan perjuangan dari diri sendiri secara sepantasnya.
Mengenai luka di masa lalu, perlahan-lahan Rina dapat terus belajar untuk memaafkan bukan hanya untuk suami tapi juga untuk diri sendiri agar tidak lagi dikendalikan oleh emosi negatif dan dapat lebih objektif dalam memandang permasalahan. Jangan lupa bahwa hubungan pernikahan yang tidak dilandasi oleh rasa percaya dapat mudah kandas ketika diterpa gelombang. Semoga masukan ini dapat membantu Rina.
(eny/aln)
Berkali-kali saya nasehati dengan cara lunak, kasar sampai saya maki-maki dia, tapi tidak juga berubah. Padahal dia sudah berjanji sebelum menikah. Namun karena sifatnya yang masih begitu, saya jadi kecewa dan semakin kecewa. Lalu saya ingat bagaimana dulu dia pernah selingkuh, itu membuat saya tambah benci dan menyesal telah memutuskan untuk menikah dengannya. Tapi, jauh di lubuk hati yang paling dalam saya merasa sangat mencintainya dan saya tahu suami saya juga mencintai saya sepenuhnya. Lalu, bagaimana cara saya harus bersikap mba, menghadapi dia yang selalu begitu dan begitu lagi. Saya capek....mungkin dia juga capek melihat saya marah-marah dan menangis terus. Saya nggak ingin rumah tangga saya hancur, saya ingin rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrahman. Mohon bantu kasih solusinya mba. Terima kasih sebelumnya dari saya.
Rina, 25 Tahun
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dear Rina yang baik,
Usia pernikahan kalian masih terbilang baru namun sudah banyak pertengkaran yang kalian hadapi. Pasti tidak menyenangkan mengalami hal ini setiap hari. Dalam kehidupan pernikahan memang bukan hal yang mudah untuk menyatukan perbedaan, terutama perbedaan kebiasaan dan prinsip. Kata kunci sebenarnya memang bukan pada menyatukan perbedaan karena tidak mungkin perbedaan dapat disatukan.
Kata kuncinya adalah pada respect, menghargai dan menerima perbedaan yang ada termasuk perbedaan dalam kebiasaan, budaya, pola asuh dan prinsip. Bila kita dapat melakukan hal ini maka kehidupan pernikahan akan lebih tenang, terdapat saling pemahaman dan pengertian di dalamnya. Tidak ada lagi harapan atau ekspektasi kita terhadap pasangan yang terlalu berlebihan, seperti berharap pasangan mengubah kebiasaannya, mengubah cara pikirnya, dan hal-hal lain yang sebenarnya kita tahu itu bukan dirinya. Sebab hanya akan menghasilkan kekecewaan bila kita menikahi seseorang yang kita harap dapat berubah atau mengubahnya menjadi seperti yang kita inginkan.
Kenyataannya berubah itu bukanlah hal yang mudah bahkan bagi diri sendiri yang sudah memiliki keinginan dan kesadaran untuk berubah sekalipun, perubahan itu tidaklah mudah. Oleh karena itu akan lebih menyenangkan bila kita dengan sadar menjalani pernikahan dengan penerimaan sepenuhnya terhadap diri pasangan. Hal ini sangat tidak mudah untuk dilakukan karena berarti kita harus mengorbankan sebagian idealisme dan kepentingan diri sendiri untuk dapat memperhatikan sudut pandang dan kepentingan orang lain (pasangan). Namun ingat bahwa untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrahman memang membutuhkan pengorbanan dan perjuangan dari diri sendiri secara sepantasnya.
Mengenai luka di masa lalu, perlahan-lahan Rina dapat terus belajar untuk memaafkan bukan hanya untuk suami tapi juga untuk diri sendiri agar tidak lagi dikendalikan oleh emosi negatif dan dapat lebih objektif dalam memandang permasalahan. Jangan lupa bahwa hubungan pernikahan yang tidak dilandasi oleh rasa percaya dapat mudah kandas ketika diterpa gelombang. Semoga masukan ini dapat membantu Rina.
(eny/aln)
Olahraga
Sepatu Lari Wanita Terbaik 2026! Ringan, Terjangkau, dan Ideal untuk Jogging Harian
Pakaian Wanita
Effortless Chic Tanpa Ribet! Tunik Monogram Elzatta untuk Look Rapi di Berbagai Momen
Kesehatan
Jaga Lambung dan Imun Selama Puasa Ramadan! PRO EM 1 Bantu Stabilkan Lambung dengan Bakteri Baik
Kesehatan
Punya Masalah Gatal dan Iritasi di Area Intim? Saatnya Ganti ke Perawatan yang Tepat
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Menghadapi Kekasih yang Suka Berubah-ubah Sikap, Kadang Mesra dan Cuek
Si Dia Ngaku Tidak Mau Pacaran Dulu, Cuma Alasan atau Sungguhan?
Tidak Cocok dengan Keluarga Kekasih, Akankah Berpengaruh Setelah Menikah?
Cara Menghadapi Pacar yang Terlalu Baik Pada Wanita Lain
Cara Mengatasi Rasa Kesal Pada Ibu Mertua yang Sikapnya Mudah Berubah
Most Popular
1
60 Ucapan Ulang Tahun Bahasa Inggris yang Simple hingga Romantis
2
Barron Trump Tampil Beda Saat Ayahnya Pidato, Gayanya Jadi Sorotan
3
Pesona Elea Putri Ussy-Andhika Pratama di Pemotretan Keluarga, Bikin Salfok
4
Pesona Eileen Gu, Atlet Ski Berprestasi yang Juga Model Victoria's Secret
5
Gaya Mahalini Beri Kejutan Ultah Suami di Kasur, Rambut On Point Bikin Salfok
MOST COMMENTED











































