Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Seperti Zaman Batu, Wanita Ini Melahirkan di Alam Tanpa Bantuan Dokter atau Bidan

wolipop
Senin, 12 Jan 2015 11:16 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta -

Reality show kontroversial 'Born in the Wild' siap tayang secara perdana pada Maret 215 mendatang. Pasangan yang menjadi peserta reality show ini untuk pertamakalinya menceritakan pengalaman mereka melahirkan di alam 'liar' tanpa bantuan tenaga medis.

Adalah jaringan televisi Lifetime yang menghadirkan reality show ini. 'Born in the Wild' sempat dihujani kritik saat mengumumkan acara ini pada Juni 2014 lalu. Mereka yang mengkritik menyebut acara tersebut terlalu berbahaya untuk para ibu karena melahirkan tidak dengan pendampingan ahli kesehatan.

"Tidak ada rumah sakit, tidak ada obat, tidak ada dokter, tidak ada kata mundur," demikian promosi yang tertulis di cuplikan reality show.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benarkah berbahaya? Menjawab kritikan tersebut, salah satu pasangan dan produser acara televisi 'Born in the Wild', Yoshi Stone angkat bicara. Stone menekankan semua peserta reality show merencanakan sendiri proses melahirkan di alam seperti apa yang mereka inginkan. Dan pihaknya juga menyediakan staff medis jika para pasangan menginginkannya.

"Ada debat yang panas dari semua sisi, tapi yang paling penting semua pihak harus bisa membuat keputusannya sendiri," kata Stone seperti dikutip HLN TV.

Pasangan Peter dan Audrey Bird termasuk yang kemudian membuat keputusan sendiri ini. Anak perempuan mereka yang kini sudah berusia enam bulan lahir di luar rumah mereka di Alaska. Kediaman Bird berada di kota yang tidak ada akses jalannya, banyak beruang liar dan berjarak 150 mil dari rumah sakit terdekat. Suami-istri yang juga memiliki anak laki-laki ini pindah ke tempat tersebut karena ingin gaya hidup yang lebih sederhana dan keputusan mereka untuk melahirkan bayi di luar rumah adalah keputusan yang memang bukan dibuat-buat.

"Anak pertama kami lahir di rumah sakit dan itu menjadi pengalaman yang kami pikir tidak ingin kami lakukan lagi," kata Audrey yang memutuskan untuk tidak menghadirkan tim medis (seperti yang sudah disediakan tim Lifetime), saat melahirkan anak keduanya di luar rumah mereka.

"Bagi kami, ini bukan soal melahirkan di tempat antah berantah. Kami memang tinggal di tempat antah berantah, ini adalah melahirkan di rumah. Melahirkan bagiku adalah sesuatu yang sangat penting dan aku ingin mengatakan bahwa kita bisa melahirkan di mana saja di tempat yang kita pilih, rumah sakit, rumahmu, atau di halaman belakang rumahmu," ujar Audrey lagi panjang lebar.

Ketika merasakan pengalaman tidak menyenangkan saat melahirkan anak pertamanya, Audrey belajar menjadi seorang bidan. Oleh karena itulah dia cukup berani untuk memutuskan melahirkan anak keduanya seorang diri di rumah tanpa bantuan dari dokter, hanya didampingi suaminya. Sang suami, Peter, sebelumnya bekerja sebagai sheriff dan pernah mendapat pelatihan medis.

"Aku melakukannya di luar rumah karena aku suka berada di sana karena di luar rumahlah kami menghabiskan sebagian besar waktu kami," ucap wanita 25 tahun itu.

Proses persalinan sendiri dimulai Audrey di dalam rumahnya. Namun setelah persalinan tersebut semakin mendekati kelahiran bayi, dia pindah ke luar rumahnya. Dia berada di dalam sebuah tenda yang lantainya sudah ditutupi bantalan empuk dan selimut agar nyaman. Ada juga kelambu untuk mencegah nyamuk atau serangga lainnya masuk.

Saat proses persalinan tersebut, Audrey dan Peter menghubungi tim medis terdekat untuk berjaga-jaga jika ada hal tidak terduga yang buruk terjadi. Tim medis ini sudah melengkapi diri dengan berbagai hal seperti tabung oksigen dan alat bedah. Pada akhirnya kehadiran mereka tidak diperlukan. Audrey berhasil melahirkan anak keduanya setelah persalinan selama tiga jam.

Audrey adalah salah satu cerita sukses di Born in the Wild. Pihak Lifetime mengatakan untuk meminimalisir risiko, mereka tidak mengajak para ibu yang sebelumnya belum pernah melahirkan. Pasangan yang mendaftar ikut acara ini juga harus menyertakan rencana kelahiran anak mereka. Dan kehamilan yang dijalani selalu dipantau dan dievaluasi oleh para ahli. Menariknya, seluruh pasangan yang ikut reality show ini tidak mendapat bayaran untuk keikutsertaan mereka. Tim Lifetime hanya menanggung biaya medis proses kelahiran.

(eny/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads