Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Ini Menurut Penelitian yang Bisa Sebabkan Anak Jadi Matrealistis

wolipop
Selasa, 25 Jun 2013 09:39 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Sifat matrealistis bisa dicegah sejak dini. Bagaimana caranya? Berikut ini hasil sebuah riset yang menjelaskan kenapa anak bisa menjadi matrealistis. Dengan mengetahui penyebabnya, Anda bisa melakukan pencegahan dengan langkah yang tepat.

Penelitian mengenai sifat matrealistis pada anak ini dilakukan oleh University of Amsterdam School of Communication Research. Dalam riset tersebut 466 anak dilibatkan sebagai responden.

Matrealistis dalam penelitian ini didefinisikan sebagai memiliki ketertarikan pada harta benda dan meyakini kalau sebuah produk bisa membawa kebahagiaan atak sukses. Saat diteliti, anak-anak diminta memberikan rating soal apakah mereka menyukai anak lain berdasarkan harta yang dimiliki. Anak juga diminta menilai seberapa bahagia mereka denhan kehidupan, rumah, orangtua, teman, sekolah dan diri sendiri secara keseluruhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti juga melihat seberapa sering anak menonton iklan dalam sebuah acara televisi seperti SpongeBob SquarePants dan Skating With Celebrities (acara reality show di Belanda). Lantas bagaimana hasilnya?

Sesuai riset, anak yang tidak bahagia berisiko menjadi matrealistis ketimbang anak yang bahagia dengan hidupnya. Dan iklan di televisi ikut memberikan kontribusi pada sifat matrealistis pada anak ini.

"Anak yang tidak puas dengan hidupnya menjadi matrealistis, tapi hanya jika mereka sering terekspos iklan," ujar pimpinan riset tersebut Suzanna Opree seperti dikutip Baby Center. "Iklan sepertinya mengajarkan anak kalau harta benda merupakan jalan untuk meningkatkan kebahagiaan," tambahnya.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, psikolog anak asal New York, Marta Flaum memberikan beberapa tips agar anak lebih bijak dalam melihat iklan. Marta menyarankan dampingi dan ajak anak berdiskusi soal iklan yang ditontonnya.

"Biarkan mereka bepura-pura. Dia menjadi bosnya. Dan tanya bagaimana dia mengkritik iklan tersebut? Apa yang sebenarnya diinginkan iklan itu? Apakah memang efektif?," ujar Marta memberi contoh.

Orangtua sebaiknya tidak mendorong anak menjadikan harta sebagai sumber kebahagiaan. Bantu anak mencari sumber kebahagiaan lain seperti cinta, pertemanan dan bermain.

"Kuncinya adalah lakukan sejak dini, ketika anak masih fleksibel dan terbuka pada suatu aktifitas dan pengalaman baru," jelas Marta. "Saat anak sudah berusia 8 atau 10 tahun, sudah terlambat untuk meminta mereka tiba-tiba mematikan televisi dan bangun dari sofa dan bermain tenis," tambahnya.



(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads