9 Aturan Jika Harus Bertengkar di Depan Anak (Bag. 1)
wolipop
Senin, 16 Apr 2012 19:16 WIB
Jakarta
-
Terkadang ada momen di mana tak bisa terelakkan, anak harus menyaksikan atau mendengar orangtuanya bertengkar. Pertengkaran tersebut sebenarnya bisa saja tidak membuat anak Anda ketakutan. Pertengkaran yang disaksikan anak bahkan dapat menjadi bahan pelajaran untuknya mengenai perbedaan pendapat.
Bagaimana seharusnya ketika anak tak sengaja dan 'terpaksa' melihat orangtuanya bertengkar? Bagian pertama dari sembilan aturan yang dirangkum dari Woman’s day berikut akan menjelaskan topik apa yang boleh dan tidak boleh didengar oleh si kecil saat Anda berdua bertengkar:
1. Bertengkar secara adil
Ini artinya tidak saling mengejek, tidak berteriak, dan tidak mengancam. "Fokuslah hanya dengan apa yang diperdebatkan," terang Tina B. Tessina, PhD, Psikoterapis dan pengarang buku 'Money, Sex and Kids: Stop Fighting about the Three Things That Can Ruin Your Marriage'. "Berargumen tanpa kendali memberikan contoh buruk kepada anak mengenai pernikahan yang kemungkinan akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk menjaga keawetan suatu hubungan.
Menurut Michael Osit, EdD, seorang psikolog klinis keluarga, akan sangat penting bagi anak Anda untuk tidak melihat kelakuan yang di luar batas. "Mereka harus mengerti kalau orangtua dapat saling bertengkar namun tetap saling mencintai," katanya.
2. Hindari topik dewasa
Beberapa topik tertentu tidak boleh dipertengkarkan di depan anak-anak. Dipaparkan Dr Tessina misalnya saja mengenai kehidupan seks Anda atau kebiasaan terlalu banyak minum alkohol. Sebaiknya masalah-masalah tersebut dibicarakan secara
"Anak-anak tidak mengerti bagaimana mengartikan masalah orang dewasa, jadi jangan menunjukkan kepada mereka sesuatu yang mereka belum siap untuk mengerti," ujarnya.
Anda juga seharusnya tidak berbicara buruk tentang anggota keluarga lainnya di depan anak-anak. Membicarakan tentang orang tertentu, seperti ibu mertua, akan ditiru oleh anak Anda. Atau anak Anda malah akan mulai bersikap aneh kepada orang yang dibicarakan tersebut.
3. Jangan berdebat tentang anak
Anda dan pasangan mungkin pernah tidak sepaham soal bagaimana mendisiplinkan anak. Usahakan jangan pernah mendiskusikan soal ketidaksepahaman itu di depan anak. "Orangtua yang aturannya tidak memihak pada anak akan membuatnya dipandang sebagai orang jahat. Dan itu akan membuatnya menjadi orangtua yang kurang efektif karena otoritasnya telah diabaikan," jelas Dr. Osit.
Yang lebih bermasalah lagi adalah ketika anak-anak membeda-bedakan orangtua mereka. Anak akan mulai merasa mendapatkan posisi kuat. "Jika anak Anda bisa terus mendapatkan apa yang mereka inginkan sepanjang waktu, mereka tidak tahu posisi mereka sebagai seorang anak. Mereka akan berpikir bahwa mereka memiliki otoritas lain di keluarga," jelas Dr. Osit.
4. Selesaikan masalah sebelum berkembang
Perbedaan pendapat pasti tak terhindarkan, namun selalu ada cara untuk menghindari pertengkaran, menurut Robert Epstein, PhD, Psikolog penelitian, mantan editor di Pshychology Today dan pendiri MyParentingSkill.com. "Setiap konflik dapat diselesaikan secara damai dan konstruktif," katanya lagi. Contohnya, jika Anda dan pasangan bertengkar tentang siapa yang harus mencuci piring, sebaiknya bicarakan tentang pembagian tugas siapa yang harus mencuci piring dan siapa yang memasak. Jika belum berhasil, pakai teknik lempar koin. "Dengan begitu, anak Anda akan merasa senang bahwa Anda berdua dapat menyelesaikan masalah secara positif," jelasnya.
Nantikan bagian kedua 9 Aturan Jika Harus Bertengkar di Depan Anak di wolipop besok.
(eny/eny)
Bagaimana seharusnya ketika anak tak sengaja dan 'terpaksa' melihat orangtuanya bertengkar? Bagian pertama dari sembilan aturan yang dirangkum dari Woman’s day berikut akan menjelaskan topik apa yang boleh dan tidak boleh didengar oleh si kecil saat Anda berdua bertengkar:
1. Bertengkar secara adil
Ini artinya tidak saling mengejek, tidak berteriak, dan tidak mengancam. "Fokuslah hanya dengan apa yang diperdebatkan," terang Tina B. Tessina, PhD, Psikoterapis dan pengarang buku 'Money, Sex and Kids: Stop Fighting about the Three Things That Can Ruin Your Marriage'. "Berargumen tanpa kendali memberikan contoh buruk kepada anak mengenai pernikahan yang kemungkinan akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk menjaga keawetan suatu hubungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Hindari topik dewasa
Beberapa topik tertentu tidak boleh dipertengkarkan di depan anak-anak. Dipaparkan Dr Tessina misalnya saja mengenai kehidupan seks Anda atau kebiasaan terlalu banyak minum alkohol. Sebaiknya masalah-masalah tersebut dibicarakan secara
"Anak-anak tidak mengerti bagaimana mengartikan masalah orang dewasa, jadi jangan menunjukkan kepada mereka sesuatu yang mereka belum siap untuk mengerti," ujarnya.
Anda juga seharusnya tidak berbicara buruk tentang anggota keluarga lainnya di depan anak-anak. Membicarakan tentang orang tertentu, seperti ibu mertua, akan ditiru oleh anak Anda. Atau anak Anda malah akan mulai bersikap aneh kepada orang yang dibicarakan tersebut.
3. Jangan berdebat tentang anak
Anda dan pasangan mungkin pernah tidak sepaham soal bagaimana mendisiplinkan anak. Usahakan jangan pernah mendiskusikan soal ketidaksepahaman itu di depan anak. "Orangtua yang aturannya tidak memihak pada anak akan membuatnya dipandang sebagai orang jahat. Dan itu akan membuatnya menjadi orangtua yang kurang efektif karena otoritasnya telah diabaikan," jelas Dr. Osit.
Yang lebih bermasalah lagi adalah ketika anak-anak membeda-bedakan orangtua mereka. Anak akan mulai merasa mendapatkan posisi kuat. "Jika anak Anda bisa terus mendapatkan apa yang mereka inginkan sepanjang waktu, mereka tidak tahu posisi mereka sebagai seorang anak. Mereka akan berpikir bahwa mereka memiliki otoritas lain di keluarga," jelas Dr. Osit.
4. Selesaikan masalah sebelum berkembang
Perbedaan pendapat pasti tak terhindarkan, namun selalu ada cara untuk menghindari pertengkaran, menurut Robert Epstein, PhD, Psikolog penelitian, mantan editor di Pshychology Today dan pendiri MyParentingSkill.com. "Setiap konflik dapat diselesaikan secara damai dan konstruktif," katanya lagi. Contohnya, jika Anda dan pasangan bertengkar tentang siapa yang harus mencuci piring, sebaiknya bicarakan tentang pembagian tugas siapa yang harus mencuci piring dan siapa yang memasak. Jika belum berhasil, pakai teknik lempar koin. "Dengan begitu, anak Anda akan merasa senang bahwa Anda berdua dapat menyelesaikan masalah secara positif," jelasnya.
Nantikan bagian kedua 9 Aturan Jika Harus Bertengkar di Depan Anak di wolipop besok.
(eny/eny)
Fashion
Mudik Tanpa Koper Besar? Tas Travel 40L Ini Bisa Jadi Solusinya
Hobi dan Mainan
7 Alasan Thule Subterra 2 Bisa Jadi Toiletry Bag Andalan Traveler
Makanan & Minuman
Nasi Putih Langsung Ludes! Sambal Viral Ini Bikin Sahur dan Makan Jadi Nambah Terus
Makanan & Minuman
Bingung Cari Parcel Lebaran yang Berkesan? 2 Hampers Makanan Premium Ini Bisa Jadi Hadiah Spesial Idulfitri!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Calon Istri Atlet NFL Tolak Perjanjian Pra Nikah, Pernikahan Mendadak Batal
2
Model Ini Beri Kalung Darah Menstruasi ke Suami sebagai Simbol Pernikahan
3
Pori-Pori Wajah Terlihat Besar? Ini Cara Menyamakannya Menurut Ahli Kulit
4
Foto: Eileen Gu Bak Malaikat Jatuh dari Langit, Pakai Gaun Bersayap di Paris
5
Ramalan Zodiak Cinta 10 Maret: Cancer Perbaiki Hubungan, Taurus Lebih Bijak
MOST COMMENTED











































